Penyalahgunaan Tramadol, DPRD Dompu Minta Gerakan Bersama

Dompu (Suara NTB) – Kasus penyalahgunaan obat di Dompu cukup masif terjadi dan merembet pada semua kalangan. Efek penyalahgunaan obat ini cukup besar dan Dewan meminta ada gerakan bersama untuk memberantasnya.

Ketua DPRD Dompu, Yuliadin, S.Sos kepada Suara NTB, Selasa (25/10) mengatakan, bahaya peredaran dan penyalahgunaan obat jenis tramadol jauh lebih berbahaya dari narkoba. Harga yang relatif murah sehinga cukup terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, tapi efek yang ditimbulkan dari mengkonsumsi tramadol sama dan bahkan lebih tinggi dari sabu. “Kalau sabu itu hanya dikonsumsi kalangan tertentu. Kalau tramadol itu justru pada generasi ekonomi lemah dan bahkan pada pelajar. Ketika mengkonsumsi tramadol, pengguna memiliki keberanian cukup tinggi. Bahkan aparat pun mereka tantang,” kata Yuliadin.

Tramadol, kata Yuliadin, tidak hanya disalahgunaan oleh anak – anak jalanan. Tapi juga anak sekolah, orang dewasa, hingga pegawai. Efek yang ditimbulkan juga cukup besar, sehingga ia mengajak untuk sama – sama memeranginya. “Bila perlu harus ada gerakan bersama untuk melakukan sweeping di kios – kios penjualan tramadol,” ajaknya.

Ia juga meminta kepada aparat keamanan, untuk menindak tegas para pelaku dengan menerapkan UU kesehatan dengan ancaman pidana agar ada efek jera. Namun terhadap anak – anak yang kedapatan menyalahgunakan obat ini agar ditempatkan sebagai korban dan diberi pembinaan. “Anak yang menjadi korban penyalahgunaan tramadol ini justru dikeluarkan dari sekolah dan lainnya. Harus diingat, mereka ini juga korban. Yang harus ditindak itu penjualnya,” ingat Yuliadin. Ia juga mengapresiasi aparat Kepolisian yang berhasil menggagalkan pengiriman tramadol untuk Bima dan Dompu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu, Gatot Gunawan, SKM, MMKes memastikan peredaran Tramadol tidak melibatkan Apotek. Beredarnya obat keras ini disinyalir adanya perusahaan ilegal yang memproduksi obat tersebut. Indikasi itu diketahui setelah dilakukan operasi di semua Apotek dan toko obat. Bahkan kios-kios kecil tak luput dari perhatian pihaknya bersama Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) NTB.

Operasi yang dilakukan, nihil ditemukanya penjualan tramadol di apotek dan toko obat, hanya saja praktik itu masih dilakukan kios-kios kecil dan telah diberikan surat teguran pihaknya. Di Dompu kata dia, yang menjual tramadol hanya Apotek Griya Husada dan Rumah Sakit Umum Daerah Dompu (RSUD). Itupun tidak ada penyediaan stok secara berlebihan.

 “Kami selalu mengawasi apotek, toko obat. Tapi yang jelas hampir semua apotek tidak ada yang menyediakan tramadol, kecuali apotek Griya Husada. Itupun dia melayani resep obat dari dokter,” katanya.

Dia menyebutkan, maraknya peredaran Tramadol di Dompu disebabkan pelaku pengedar barang itu telah terorganisir dengan baik. Sasarannya tidak lain, pedagang kios-kios kecil yang penghasilanya minim. Dengan tingginya permintaan obat tersebut, maka alternantif yang diambil para pedagang salah satunya menyediakan obat keras yang tidak saja memicu penyakit ginjal. Melainkan dapat menyerang komponen saraf penggunanya.

“Mereka para pengedar ini sepertinya memiliki jaringan dan dampak bagi yang mengkonsumsi obat ini terutama ginjal, jantung dan melemahnya saraf,” ungkapnya. (ula/jun)