Kasus Bayi Tertukar, Sampel Darah akan Diuji ke Mabes Polri

Kota Bima (Suara NTB) – Satreskrim Polres Bima Kota mengambil sampel darah pasangan Suami Istri (Pasustri), Subagio dan Sumarni serta bayi yang diduga tertukar, di klinik Mapolres setempat, Rabu (12/10). Sedianya sampel tersebut akan dibawa ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Mabes Polri, Jakarta untuk diuji.

“Ada dua bentuk sampel darah yang diambil, yakni berupa cair dan beku,” ucap Kasat Reskrim melalui KBO Sat Reskrim Polres Bima Kota, Iptu Hilmi Prayoga kepada Suara NTB, di Satreskrim setempat, Rabu, 12 Oktober 2016.

Kata dia, sampel darah tersebut sedianya akan dibawa ke Pusdokkes bersama satu orang perwakilan RSUD Bima, penyidik Polres Bima Kota dan Subagio. Di tempat ini sampel itu akan diuji karena jauh lebih akurat, memastikan positif atau tidaknya.

“Siang ini kita akan langsung terbang ke Jakarta, kemungkinan malam baru sampai,” katanya.

Hilmi menjelaskan, belum memastikan kapan diketahui hasil tersebut. Hanya saja, pengambilan sampel darah itu sebagai alat pendukung apakah ada unsur tertukar atau tidak. Mengingat kasus tersebut tengah diproses ke ranah hukum dan saat ini masih tahap penyelidikan.

“Kami belum tahu kapan hasilnya diketahui, tergantung tim Pusdokkes. Tapi yang jelas kasus masih dilidik,” jelasnya.

Bagaimana jika hasilnya terbukti, darah anak dan pasutri ini tidak memiliki kesamaan? Hilmi enggan berbicara jauh, kalaupun hasilnya positif tentu pihaknya akan menggelar kembali perkaranya sehingga dugaan yang dilaporkan memenuhi unsur.

“Makanya hasil uji sampel ini akan menjadi bahan kami untuk menentukan ada unsur perbuatan melawan hukum atau tidak,” terangnya.

Di tempat yang sama, Subagio tidak berbicara terlalu banyak. Hanya saja, warga desa Tolouwi Kecamatan Monta ini berharap pengambilan sampel darah itu hingga pengujiannya nanti bisa menghasilkan sesuai dengan fakta.

“Saya berharap hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, karena ini menyangkut kemanusiaan,” harapnya.

Selain berdasarkan hasil tes DNA di RSUP Bali, tidak ada kesamaan, banyak kejanggalan yang dialami Subagio, mulai dari proses operasi melahirkan hingga dibawa ke ranah hukum. Batinnya berkata bahwa anak yang diberi nama Ayatullah Bakir itu bukanlah darah dagingnya.

“Kalaupun bayi ini darah daging saya tentu kedekatan batin antara bapak dan anak pasti ada, tapi ini sama sekali tidak ada, hanya perasaan iba yang saya rasakan,” pungkasnya. (uki)