Penanganan Sampah di KLU Terbentur Anggaran

Tanjung (Suara NTB) – Masalah sampah di kawasan wisata Kabupaten Lombok Utara (KLU) tidak hanya terjadi di kawasan Tiga Gili saja, tetapi juga di tempat lain. Kawasan wisata Taman Nasional Gunung Rinjani, termasuk objek wisata yang masih menghadapi masalah sampah. Sebaliknya, pendapatan yang dihasilkan dari retribusi masuk kawasan wisata itu belum sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan pihak terkait maupun dana APBD untuk mengelola sampah.

Kepala Dinas Pariwisata KLU, H. Muhadi, SH, kepada wartawan Rabu, 5 Oktober 2016 mengakui, faktor anggaran merupakan salah satu kendala utama dalam penanganan sampah di kawasan wisata. Di objek wisata Gunung Rinjani misalnya, minimnya anggaran membuat program bersih-bersih yang sempar dilakukan terpaksa dihentikan.

“Saat ini kita masih terbentur anggaran yang tidak memadai sehingga program-program pendukung pembersihan Rinjani dari tumpukan sampah tidak bisa dilakukan,” katanya.

KLU sebagai salah satu pintu masuk ke Rinjani, sejatinya tidak pernah sepi dari pengunjung. Rendahnya kesadaran pengunjung untuk membuang sampah, serta minimnya intervensi pengelola TNGR menyebabkan permasalahan sampah di kawasan itu terus berlanjut.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Pihaknya menginginkan, agar TNGR selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat menyiapkan skenario penanganan sampah secara kontinyu dan terintegrasi dengan Pemda KLU. Sebab, sebagian bahkan hampir seluruh retribusi masuk kawasan TNGR masuk ke kas pemerintah pusat.

Sementara penanganan sampah dengan mengandalkan kemampuan APBD KLU, menurut Muhadi, memerlukan proses lama.

Mengingat masalah sampah di kawasan wisata di KLU cukup kompleks dan hampir merata. Akibatnya, program Clean Up Rinjani yang pernah dilakukan pada tahun 2014 lalu tak bisa dilanjutkan.

Sementara itu, Bupati KLU Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., mengakui penanganan sampah Rinjani harus dilakukan terpadu dan melibatkan semua pihak. Sebagaimana komitmen Pemda untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, program Clean Up Rinjani terpikir untuk dilanjutkan. “Kita akan coba hidupkan kembali program itu. Tetapi disini harus ada kerjasama lintas instansi, termasuk TNGR selaku pengelola utama,” katanya.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Program Clean Up Rinjani sempat sempat dilakukan secara parsial oleh kelompok masyarakat dan organisasi. Seperti yang dilakukan oleh KNPI Lombok Utara bersama unsur pecinta alam, dan pengusaha tracker. Sedangkan dari Pemda sendiri, diakui belum teralokasi anggaran dalam jumlah yang cukup menyebabkan penangannya terhambat.

Rencana giat kembali bersih-bersih Rinjani disambut baik oleh unsur pengusaha kawasan Senaru. Salah satu pengusaha, Made Jaya, misalnya, sangat mendukung rencana tersebut. Program ini sendiri sudah dilakukan pelaku usaha, namun volume sampah yang ditangani tak optimal lantaran tidak terkoordinir dengan baik.

“Program itu sudah kita jalankan, tetapi intensitasnya tidak sering. Juga volume sampah yang bisa dibawa turun terbatas karena kekurangan tenaga. Kalau Pemda ada inisiatif membuat program itu, kita pasti dukung,” ujarnya singkat. (ari)