Taman Budaya Buka Ruang, Teater NTB Diharapkan Kembali Bangkit

Mataram (suarantb.com) – Taman budaya memiliki peran penting dalam membangun dan menghidupkan gairah berkesenian di tengah-tengah masyarakat NTB. Salah satunya dengan membuka ruang bagi pegiat seni untuk berkreasi. Kesan tertutupnya taman budaya NTB sebagai wadah mendorong dan memfasilitasi seniman menciptakan karya selama ini harus dihilangkan.

Hal tersebut dikatakan Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Drs. Faisal dalam sambutannya pada diskusi masa lalu dan masa depan teater kampus di Kota Mataram, Sabtu, 10 September 2016. Faisal menyampaikan, pihaknya memberi ruang seluas-luasnya bagi semua pegiat seni untuk menggunakan taman budaya sebagai tempat para pelaku kesenian berproses.

“Bagaimanapun semua seniman teater lebih baik dan lebih meningkat lagi. Saya berharap tidak hanya kawan-kawan taman budaya saja (mengadakan kegiatan) tapi bagaimana bisa teater ini menjadi hal yang biasa dan disenangi masyarakat,” ujarnya.

Faisal mengharapkan para seniman senior bukan hanya memberi kritik dan menyalahkan. Tetapi seniman-seniman junior harus dibina supaya bisa lebih maju.

“Jangan lagi seniman senior bisa menyalahkan yang muda. Tapi bina dan dampingi. Dan pihak taman budaya harus berlaku sebagai fasilitator,” ungkapnya.

Selain memberi ruang untuk berproses bagi kelompok-kelompok teater, Faisal juga menghimbau agar para pegiat seni muda lebih serius menempa diri. Sehingga apa yang dilakukan bisa bernilai untuk masyarakat NTB. Hal tersebut akan semakin terasa jika dalam prosesnya, pegiat seni muda mendapat pendampingan dan arahan.

“Bagaimana semua seniman teater lebih baik dan meningkat lagi, saya berharap tidak hanya kawan-kawan taman budaya saja yang berkegiatan. Tapi bagaimana bisa teater ini menjadi hal yang biasa dan disenangi masyarakat. Bukan hanya kritik dan menyalahkan saja, tetapi pegiat seni muda ini juga dibina, supaya adik-adik lebih maju,” sarannya.

Terkait hal tersebut, beberapa pegiat teater yang hadir dalam kesempatan itu menyambut baik pernyataan Kepala Taman Budaya tersebut. Seperti yang disampaikan oleh pembicara yang juga pegawai Taman Budaya NTB, Saifullah Sapturi.Menurutnya, taman budaya memiliki andil besar dalam memajukan dunia kesenian di daerah.

Oleh karena itu, kata Saifullah ke depan fungsi taman budaya dalam memfasilitasi seniman harus diwujudkan. Menurutnya, ketegangan-ketegangan kreatif yang dulu sempat sangat riuh harus segera dikembalikan.

“Pada tahun 1993, Teater di NTB tumbuh subur. Banyak sekali teater yang hidup dan begitu produktif. Saat itu ada ketegangan kreatif, karena taman budaya saat itu begitu longgar dan tidak kaku. Setiap sore selalu ada latihan, ada ketegangan kreatif dan taman budaya menjadi sentral,” ujarnya.

Menurutnya, ketegangan-ketegangan kreatif tersebut menjadi pendorong yang berdampak pada ramainya kegiatan-kegiatan teater di Kota Mataram. Oleh sebab itu, kesadaran semua pihak termasuk taman budaya di dalamnya sangat dibutuhkan.

“Setiap sore selalu ada latihan, ada ketegangan kreatif dan Taman Budaya menjadi sentral tempat berkumpul. Misalkan teater BAM ada di tempat gelap yang lain di tempat terang. Pada tahun 1995 begitu dahsyatnya teater di Mataram. Antara teater umum dan teater kampus saling bersitegang untuk berkompetisi,” kenangnya.

Selain Saifullah hadir pula selaku pembicara, yakni pegiat teater senior NTB Kongso Sukoco dan masing-masing perwakilan dari tiga kelompok teater kampus yaitu Nash Jauna dari Teater Saksi IAIN Mataram, Indra Saputra Lesmana dari Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram dan Zainul Hadi dari Teater Putih Unram. (ast)