Riski Jumiati, Harumkan NTB di Tengah Keterbatasan

Mataram (suarantb.com) – Provinsi NTB meraih juara ke IV dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-26 yang baru saja berakhir. Capaian cemerlang tersebut tidak terlepas dari hadirnya sosok perempuan dengan keterbatasan fisik. Dialah Riski Jumiati, peserta MTQ Cabang Tilawah Al-Quran Golongan Cacat Netra Puteri. Suaranya menggetarkan dengan lantunan ayat suci yang dibacakannya.

Riski Jumiati
Riski Jumiati

Qori’ah asal Desa Sadia Kecamatan Mpunda Kota Bima ini saat dihubungi suarantb.com menuturkan impian terbesarnya menjadi guru sekaligus guru ngaji. Menurutnya, hal tersebut untuk selalu mendekatkan diri pada Sang Khalik, sekaligus dedikasi bagi masyarakat luas.

“Cita-cita saya jadi guru ngaji sama jadi guru, untuk mengabdi pada masyarakat dan dekatkan diri pada Allah,” ungkapnya saat dihubungi suarantb.com, Senin 8 Agustus 2016.

Di samping menjadi pelajar, Riski juga berprofesi sebagai guru ngaji keliling kampung. Dedikasi yang mulia ini dilakukannya semata untuk mengharapkan ridho Allah atas setiap jejak langkah dalam dunia singkat ini. Seakan iya yakin, Sang Khalik selalu menjaga kesucian imannya hingga terlahir tanpa melihat gemerlapnya dunia moderen yang kian terkikis dari peradaban doa.

“Penghasilan bulanan dari ngaji keliling ya Alhamdulillah, kadang dapat Rp. 100 ribu, kadang dapat Rp. 200 ribu, tapi tetap syukuri itu semua,” ujarnya.

Sementara itu, ayahnya berprofesi sebagai Petugas PLN, sedangkan sang ibu hanya sebagai ibu rumah tangga. Prestasi yang diraih dalam ajang MTQ begitu sangat membahagiakan keluarga. Bahkan sama sekali Putri

(panggilan akrab Riski) tidak pernah mengira akan terpilih sebagai pemenang.

“Alhamdulillah bersyukur, perasaan saya sangat senang. Saya tidak menyangka akan terpilih. Sama sekali tidak merasa. Respon keluarga, Alhamdulillah senang,” ujarnya.

Riski juga menuturkan antusias masyarakat menyambutnya saat mengetahui dirinya mampu mengharumkan NTB di kancah nasional ini. Bahkan Walikota Bima secara langsung menemuinya di rumah untuk mengucapkan selamat.

Potret kehidupan damai dari Hamba Allah ini mampu menjadi contoh banyak orang. Ketika Subuh menjelang, lantunan ayat suci yang dibacakannya damaikan hati. Suara merdunya dari balik surau menggema dan menari menyambut matahari pagi, pecahkan dinginnya sisa malam dengan syahdunya lantunan ayat yang dibacakan.

Kendati demikian, Riski mengharapkan agar Pemerintah Daerah terus menggali potensi masyarakat lokal pada setiap daerah di NTB. Karena tidak jarang banyak sekali potensi yang belum diakomodir.

“Saya ingin pemerintah memperhatikan kita terus. Saya mohon dan inginkan Pak Gubernur ke sini mengunjungi kami,” harapnya.

Riski merupakan potret masyarakat pinggiran dengan potensi gemilang. Capaiannya membawa NTB pada peringkat ke IV dalam MTQ tahun 2016 ini. Menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menjadi pembatas untuk mencapai suatu harapan.

Kuncinya ada pada doa dan ikhtiar untuk menggoreskan nama dalam tinta emas bangsa ini. Seakan Ia yakin bahwa sejarah akan menjadi hakim yang adil atas harga dari setiap perbuatan yang Ia lakukan. (szr)