PGRI Minta Orang Tua Percayakan Nasib Anak ke Guru

Mataram (Suara NTB) – Ketua PGRI Kota Mataram, Drs. Saptadi Akbar, meminta kepada seluruh orang tua agar mempercayakan nasib anak-anak mereka ke guru di sekolah. Saptadi menilai, fenomena orang tua melaporkan guru ke aparat kepolisian menandakan orang tua sudah mulai kehilangan kepercayaan.

Selain itu, Saptadi juga menilai, fenomena tersebut juga diakibatkan kurangnya kerjasama antarpihak orang tua dan sekolah, akibatnya orang tua sering salah paham terhadap guru dan menganggap perilaku guru ke anak sebagai tindak kekerasan. Padahal yang disangkakan sebagai tindak kekerasan bukan timbul karena suka atau tidak suka dengan anak, melainkan bentuk kasih sayang guru terhadap anak.

“Tapi kalau kita lihat kejadian-kejadian itu  karena kita masih sama-sama kurang bisa menahan diri, kita kan sama-sama manusia. Menghadapi anak-anak itu sangat luar biasa, untuk memberi efek jera terrhadap anak,” ujarnya pada Suara NTB beberapa waktu lalu.

Jika sudah dalam kondisi seperti itu, guru seringkali disalahkan dan tidak mendapat perlindungan hukum yang semestinya. “Sekarang kita punya masing-masing, guru punya UU Perlindungan Guru, anak juga punya UU Perlindungan Anak yang masing-masing di situ ada hal-hal yang harus saling menjaga. Tatkala hukuman itu tidak diterima oleh orang tua, karena dianggap melanggar UU Perlindungan Anak. Namun, tatkala guru dilecehkan dengan sikap dan perilaku anak yang membuat guru tersinggung, tidak bisa,’’ ujarnya.

Meski demikian, lanjutnya, kalau sekarang guru mendapat perlakukan kasar dari orang tua, sering ortu datang marah-marah. Namun, UU yang melindungi guru dimentahkan oleh orang tua.

Selain itu, Saptadi juga menyentil sikap aparat kepolisian yang sering menindak guru setelah mendapat laporan dari orang tua. Selain tidak mempedulikan mekanisme yang ada, juga tidak memperhatikan adanya kerjasama antara PGRI dengan Polri.

“Cuma pihak kepolisian ini kadang-kadang kan menindaklanjuti laporan tersebut padahal kita sudah punya  perjanjian dengan Kapolri, PGRI ada penanganan guru dengan ortu, ada mekanismenya tidak langsung dijemput begitu saja. Artinya kan mediasi dulu, lihat dulu berat ringan kasusnya, masa gara-gara dicubit terus ditindak, terus disidang. Padahal guru-guru sering sekali dilecehkan sama anak, tidak saja omongannya. Bisa ngak dituntut anak-anak? Kan tidak bisa, di situlah letak tidak adilnya,” kritiknya.

Saptadi meminta agar orang tua lebih sabar dan tidak terlalu mudah begitu saja ketika mereka mendapatkan laporan tanpa terlebih dulu melakukan kroscek agar berimbang. Orang tua terlalu mudah menerima laporan dari anak jika mendapat kekerasan dari guru. Namun, terkadang laporan yang disampaikan anak belum tentu benar. Diakuinya, sering anak-anak melaporkan terbalik dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga ditanggapi emosional oleh orang tua dan langsung mengambil tindakan. ‘’Orang tua percayakan sama kami, kami tidak ada niat menciderai anak, tapi semata-semata demi anak ini menjadi anak disiplin, dan berlaku tertib,” tutupnya. (dys)