Peternak Mampu Bertahan dari Ancaman Resesi Ekonomi

Peternak di Lotim yang sedang memberi makan ternaknya. Pada pandemi Covid-19 ini, perekonomian peternak diklaim bisa bertahan, bahkan banyak yang untung. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Peternak dinilai paling bisa bertahan menghadapi ancaman resesi ekonomi di tengah situasi pandemi corona  virus disease (Covid-19). Meski terjadi penurunan harga sapi, aktivitas usaha sektor peternakan ini telah terbukti bisa menyelamatkan perekonomian masyarakat peternak.

‘Tidak saja saat Corona seperti sekarang, saat krisis moneter   beberapa tahun lalu juga peternak ini paling survive,” terang  Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Suryatman Wahyudi menjawab Suara NTB di sela pelatihan Feedlot atau penggemukan sapi di Dusun Tanak Mira  Desa Wasanaba Lauq Kecamatan Wanasaba, Rabu, 7 April 2021.

Iklan

Pelihara  sapi ras bali saja rata-rata keuntungan bulanan Rp 750 ribu per ekor per bulan . Sedangkan sapi eksotis bisa tembus lebih dari Rp 1 juta per ekor per bulan. Pelihara lebih dari satu sudah bisa diakumulasikan.

Menurutnya, populasi ternak sai di Lotim saat ini sudah mencapai 146.454. Melalui program Lotim berkembang, diharapkan akan  terus meningkatkan pendapatan peternak, sehingga Lotim bisa lebih akseleratif dalam penurunan angka kemiskinan.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lotim ini pun terus berusaha meningkatkan pemahaman dan pengetahuan peternak. Utamanya dalam hal pakan.  Sebelum beternak, peternak harus mempersiapkan terlebih dulu ketersediaan pakan. Hal ini dinilai penting agar saat memelihara peternak tidak kewalahan mencari sumber pakan.

Soal pakan ini pun sebenarnya banyak ditemukan di sekitar. Jenis lamtoro, gamal, rumput gajah dan jenis rumput  lainnya bisa dengan mudah ditemukan. Tidak ditampik, sejauh ini aspek pakan kerap menjadi kendala dalam aktivitas pemeliharan ternak. Peternak juga perlu memahami manajemen peternakan. Peternak jangan hanya menandalkan pakan hijau. Banyak pilihan pakan yang  bisa dengan mudah ditemukan.

Ketua Kelompok Tani Ternak Cempaka Desa Suela, Saharudin mengakui beternak ini memang cukup menghasilkan. Selama masa pandemi corona virus disease, beternak sapi ini mampu menyelamatkan perekonomian masyarakat.  Pengalaman ketua KTT ini saat ini membeli sapi seharga Rp 14 juta. Selang dua pekan sapinya sudah ada yang menawar dengan harga Rp 16 juta.  “Dua pekan saja sudah  bisa hasilkan Rp 2 juta,” sebutnya.

Sapi dimaksud  merupakan jenis simental. Memelihara jenis sapi  eksotik ini diyakini bisa memberantas kemiskinan. Sapi yang dibeli seharga Rp 15 juta dalam setahun bisa dijual seharga Rp 35 juta. “Terpenting kita tahu cara memeliharanya,” ungkapnya.

Hal senada dikemukakan Rahman yang juga seorang peternak. Memelihara  sapi 10 ekor ini dalam tiga tahun saja langsung bisa membeli mobil baru. Peternak ini mendukung program Lotim berkembang yang sudah dicanangkan Pemerintah Kabupaten Lotim. Bantuan dari pemerintah ini sangat besar manfaatnya dan bisa membantu perekonomian  peternak. (rus)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional