Peternak Kampung Unggas Berbenah Menyambut MotoGP

Kepala Bidang Budidaya, Sarana dan PrasaranaDisnakeswan Provinsi NTB, Suryadi Ali Kantong melihat kondisi ternak unggas yang dipelihara kelompok di Kampung Unggas Teruai.(Suara NTB/bul)

Praya (Suara NTB) – Desa Teruai Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah sudah punya branding sebagai Kampung Unggas. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB telah tujuh tahun menyulap kawasan  kumuh dan miskin ini menjadi desa produktif peternakan unggas.

Kampung unggas dilaunching tahun 2014 lalu. Saat itu, Disnakeswan Provinsi NTB memberikan bantuan 6.000 ekor Day Old Chick (DOC/anak ayam) jenis ayam Arab, beserta pakan dan pendampingan kepada kelompok penerima. Bantuan Ayam Arab ini berhasil dikembangkan, hingga tahun 2019 lalu, populasinya mencapai puluhan ribu ekor.

Iklan

Berkunjung ke Kampung Unggas, kita bisa melihat rumah-rumah warga yang telah beralih fungsi menjadi kandang-kandang. Atau kandang yang dibuat berhimpit  di samping atau di pekarangan rumah – rumah warga. Di setiap rumah kita bisa menjumpai kandang unggas.

Beternak unggas sepertinya sudah menjadi kebutuhan, bahkan menjadi tren bagi masyarakat Teruai. Dari beternak unggas inilah, masyarakat merasakan perubahan ekonomi. Mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Bahkan banyak yang mampu membuat rumah baru.

“Dulu kampung ini kumuh dan miskin. Sekarang sudah banyak yang buat rumah baru. Rumah lama sudah dijadikan kandang untuk memelihara ayam,” kata Ketua Kelompok Unggas Muamalat, H. Sukardi, kepada Kepala Bidang Budidaya, Sarana dan Prasarana Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan ( Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Suryadi Ali Kantong, M.Si saat melakukan monitoring, Kamis, 26 Agustus 2021.

Di Teruai, ada dua kelompok ternak unggas yang menjadi leader. Yaitu Kelompok Tiu Jati dan Kelompok Muamalat. Kampung Unggas berkembang karena sistem pemberdayaan yang dilakukan oleh kelompok. Masyarakat diajak beternak unggas. Kelompok yang menyediakan DOC, pakan, bahkan pendampingan. Saat panen, dijual lagi kepada kelompok.

“Anggota hanya menyediakan kandang. Dan memelihara saja. Kalau telaten memelihara, untungnya bisa lebih besar setiap panen,” terang H. Sukardi. Satu orang anggota, biasanya dikasi DOC minimal 250 ekor. Bisa juga sampai seribu ekor. Tergantung kapasitas kandangnya. Panen dilakukan 40 hari sekali. Sekali panen, anggota bisa dengan mudah mendapatkan keuntungan sampai Rp750.000. keuntungan dihitung Rp2.000 sampai Rp3.000 per ekor. Karena janji keuntungan inilah, masyarakat di Teruai berlomba-lomba menjadi peternak unggas.

“Masyarakat bahkan marah, kalau dilarang beternak unggas,” ujarnya. Unggas yang diternakkan, telurnya ditetaskan kembali. Untuk pejantan, biasanya disiapkan untuk potong. Memenuhi permintaan pasar dari rumah-rumah makan Taliwang, di Pulau Lombok. ada juga yang disiapkan untuk ayam panggang kemasan.

Dinas Nakeswan Provinsi NTB juga telah memberikan bantuan mesin-mesin tetas, alat – alat pengolahan untuk membuat ayam panggang, hingga alat pengemasan serta rumah produksi. Jika dijual dalam bentuk ayam panggang, keuntungannya bahkan bisa naik sampai 30 persen dibanding jika dijual dalam bentuk hidup kepada pembeli-pembeli rumah makan yang datang setiap hari.

Saat normal, dalam sebulan permintaan dapat dipenuhi sampai 35.000 ekor. Namun setelah pandemi Covid-19, permintaan pasar terus turun. Saat ini yang dipenuhi hanya sampai 15.000 ekor sebulan, turun 50 persen lebih. Kendati demikian, masyarakat Teruai tidak patah semangat.

Mereka berharap PPKM tidak diperpanjang, sehingg ekonomi bisa pulih pelan-pelan dan Covid-19 secepatnya berlalu. Event besar di Pulau Lombok yang dinanti-nanti adalah MotoGP April 2022 mendatang untuk memulihkan kembali pasar yang saat ini kurang. Kelompok ternak unggas di Teruai sudah berbenah dan bersiap memenuhi permintaan hingga 50.000 ekor sebulan.

“Kita menunggu moment MotoGP. Kita siap produksi, berapapun diminta. Bahkan kita siap penuhi sampai 50.000 ekor. Kita sudah berbenah, anggota yang punya kandang kita dorong memperluas kadangnya supaya kapasitasnya lebih besar. Dan melanjutkan program satu rumah satu kandang” demikian H. Sukardi. Kepala Bidang Budidaya, Sarana dan Prasarana Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Suryadi Ali Kantong, M.Si mengaku bangga, Kampung Unggas tetap eksis. Pemprov NTB akan tetap melakukan pendampingan.

Kampung Unggas menurutnya sudah berkembang dari hulu hilir dan berjalan konsep industrialisasi. Tidak saja sebatas menjual ayam hidup, bahkan sudah berinovasi membuat ayam panggang kemasan Serading yang bisa bertahan hingga tiga bulan.

Untuk itu, Pemprov NTB juga siap memfasilitasi bantuan pengadaan rumah potong unggas, pendampingan untuk mendapatkan sertifikat halal yang saat ini tengah berproses.  Sehingga ayam panggangnya bisa memenuhi standar pasar. Apalagi jelang MotoGP. Sehingga bisa diterima oleh pasar domestik dan internasional.

“Termasuk kita bisa memfasilitasi Kampung unggas ini mendapatkan HAKI, sehingga benar-benar jadi branding dan tidak direplikasi. Kami juga sedang mencoba kemandirian pakan. Sehingga peternak tidak tergantung pada pakan pabrikan yang harganya tinggi. Karena biaya operasional ternak 70 persennya ada di pakan. Kalau itu bisa kita wujudkan, rasio keuntungan bisa ditingkatkan,” demikian Suryadi. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional