Petani Swadaya Kesulitan Pasar

Muhammad Riadi (Suara NTB/nas)

Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB mengasumsikan jumlah produksi tembakau virginia Lombok tahun 2021 sama seperti tahun lalu sebanyak 40 ribu ton. Sementara itu, target pembelian 23 perusahaan tembakau tahun 2021 sebanyak 20.516,75 ton.

Kepala Distanbun NTB, Muhammad Riadi, S.P., Mec.Dev., yang dikonfirmasi usai menerima mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur, Jumat, 24 September 2021 mengatakan, persoalan pertembakauan di NTB masih berkaitan dengan petani swadaya. Karena produksi tembakau petani swadaya tidak ada kepastian pasarnya.

Iklan

Berbeda dengan petani yang bermitra dengan perusahaan. Tembakau yang dihasilkan sudah jelas pasarnya. ‘’Petani swadaya itu tak ada kepastian pasarnya, siapa yang mau beli. Inilah yang seringkali jadi korban. Petani swadaya kita,’’ ujarnya.

Riadi mengatakan, produksi tembakau virginia tahun ini sekitar 40 ribu ton. Angka ini diasumsikan seperti produksi tembakau tahun 2020 lalu. Sementara itu, 23 perusahaan yang merencanakan pembelian sebanyak 20.516,75 ton.

‘’Maka ada puluhan ribu ton tak punya pasar, produksi petani swadaya. Inilah yang menjadi persoalan,’’ jelas Riadi.

23 perusahaan tembakau yang melakukan pembelian antara lain PT. Sadhana Arif Nusa, PT. Bentoel, PT. Djarum, UD. Nyoto Permadi, PT. Indonesia Dwi Sembilan, CV. Aliansi One Indonesia. Kemudian, CV, Budi Jaya Sentosa, KUD. Tunggal Kayun, CV. Karya Bersama Sejati, UD. Surya Tembaku.

Selanjutnya, PT. Maruta Ajitama, PT. Sata Indonesia, UD. Lancar Abadi, CV. An Najm, Andalan Tani Nelayan, PT. Indo Kasturi Perkasa, Koperasi Pakka Pinang, CV. Zein Chasani, UD. Hasil Bumi Perkasa dan UD. Supianto.

Dengan target luas areal tanam 9.810 hektare. Produksinya diperkirakan sebanyak 20.316,75 ton. Jumlah petani binaan sebanyak 3.857 orang dengan jumlah 3.077 oven.

Sedangkan rencana pembelian dari 23 perusahaan tersebut sebanyak 20.516,75 ton. Sampai dengan 24 September 2021, kata Riadi, realisasi pembelian tembakau oleh perusahaan sebanyak 4.787,73 ton.

Meskipun ada puluhan ribu ton tembakau produksi petani swadaya yang berpotensi tidak terserap. Namun, kata Riadi, jika melihat tahun-tahun sebelumnya, sampai dengan Desember biasanya tidak ada tembakau petani yang tersisa. ‘’Pasti terbeli, cuma masalahnya terletak di harga,’’ ungkapnya.

Agar produksi petani swadaya yang tidak jelas pasarnya bisa terserap, Riadi mengatakan Pemprov NTB telah meminta perusahaan tembakau menambah kuota pembelian.

“Untuk membela petani, pasti kita minta menambah pembelian, tambah kuota pembeliannya. Kasih fleksibilitas untuk membeli tembakau produksi petani non mitra,” tandasnya. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional