Petani Porang KLU Disiapkan Mandiri

Motivasi petani porang Desa Batu Rakit menanam porang sangat tinggi. Lahan lereng dengan kondisi berbatu pun mulai digarap untuk ditanami porang. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Dalam upaya pembinaan kepada petani porang di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Ketua Tim Fasilitator Desa Sejahtera Astra, Prof. Ir. H. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D., menekankan dua hal untuk menjaga keberlangsungan petani. Yaitu, kemandirian bibit dan tidak terlampau optimis terhadap harga pasar.

Kepada Suara NTB, Minggu, 10 Oktober 2021, Suwardji mengungkapkan, budidaya porang sudah melewati fase perkenalan di masyarakat. Seiring berjalannya waktu, lebih banyak masyarakat yang mengetahui apa dan bagaimana komoditas porang. Terlebih, Presiden Joko Widodo mencanangkan untuk segera mengolah porang menjadi bahan pokok sebagai substitusi beras padi.

Iklan

“Porang sempat menghadapi fase euforia tanam besar-besaran, sehingga bibit mahal, dan harganya (bibit) menjadi tidak sehat,” ujar Suwardji.

Fase itu, sebut Guru Besar Unram itu, berlaku pada tahun 2020 lalu. Ketika itu, aksi tanam massif di petani se Indonesia, mengakibatkan pihak pabrik kesulitan menyediakan umbi untuk ditanami kembali. Permintaan bibit yang banyak, mempengaruhi harga jual beli bibit.

Oleh karenanya, ia mendorong agar petani porang di KLU mampu memproduksi bibit sendiri. Sebab dengan menanam bibit yang mahal, dikhawatirkan ongkos produksi petani membengkak dan mempengaruhi luasan tanam potensial yang ada di petani sendiri.

“Sekarang petani harus mampu memproduksi bibit sendiri jangan tanam dengan bibit yang mahal. Sebab BEP (Break Even Point – harga pulang pokok), yang wajar budidaya porang per kilogram adalah Rp 3.600. Sehingga harga internasional antara Rp 7.500 – 9m500 per kg,” paparnya.

Menurut Suwardji, dengan BEP pada angka tersebut petani porang ia nilai sudah memperoleh keuntungan dari budidayanya. Mengingat pula, porang merupakan tanaman tumpang sari pada areal garapan petani. “Ini yang perlu dipahami, jangan mengharapkan harga Rp 15.000 per.kg seperti 2020. Itu tidak akan terjadi,” pesan Suwardi.

Melalui program Desa Sejahtera Astra, Profesor Fakultas Pertanian – Unram itu, membekali petani dengan sumber daya pendukung. Dari keilmuan, hingga sumber daya bibit.

Untuk petani binaan baru, bantuan bibit/benih yang telah diinisiasi berupa spira 14 kg x 6000 = 84.000 bibit, katak 60 kg x 450 = 27.000 benih, dan 20 kg umbi x 20 = 400. Dengan demikian, total benih yang dilepas ke masyarakat sejumlah 111.800 batang. “Ini sebagai sumber benih 7 kelompok di 7 Desa Gangga. Tahun depan petani sudah mandiri benih. Sementara di beberapa kelompok lain juga sudah punya bibit sendiri,” ucapnya. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional