Petani Mengeluh Sulit Peroleh Pupuk

Dompu (Suara NTB) – Sebagian besar petani di Kecamatan Woja mengeluh kesulitan memperoleh pupuk pada masa pertumbuhan tanaman padi musim tanam kedua tahun 2017 ini, baik itu pupuk subsidi maupun non subsidi. Kalau pun ada, mereka terpaksa membelinya dengan harga yang tinggi. Diduga persoalan ini dipicu adanya upaya penimbunan dari pihak pengusaha.

Salah seorang petani di So Jati, Sahrudin mengungkapkan minimnya keberadaan pupuk tersebut sudah dirasakannya dua bulan terakhir. Akibatnya, tanaman padi terancam rusak dan tidak dapat tumbuh dengan baik.

Iklan

“Sangat sulit sekarang kami dapat pupuk, selalu dijawab kosong oleh pengusaha. Kalau pun ada mahal mereka jual,” katanya kepada Suara NTB, Minggu (27/8).

Ia menyebutkan, untuk 1 zak pupuk urea subsidi petani harus membelinya dengan harga Rp 150 – Rp 180 ribu dari harga normal Rp 95 ribu/zak. Sedangkan pupuk non subsidi saat ini harganya Rp 280-Rp 300 ribu /zak dari harga semula berkisar Rp 200 ribu/zak.

Persoalan harga ini akunya, tidak menjadi soal asalkan ketersediaanya mencukupi. Tapi kondisinya saat ini, petani tidak hanya hanya dicekek oleh harga pupuk yang naik melainkan juga tak adanya persediaan.

“Syukur pupuknya ada meskipun harganya tinggi tetap kami beli. Tapi masalahnya sekarang ndak ada pupuk yang bisa kita beli. Sementara padi kita masuk masa pemupukan pertama, sekarang terpaksa kita tidak lakukan pemupukan,” ujarnya.

Diduga minimnya ketersediaan pupuk tersebut lantaran adanya upaya penimbunan dari pihak pengusaha, hal itu dicurigai karena setiap kali stok pupuk didatangkan para pengusahan selalu beralasan bahwa pupuk-pupuk tersebut jatah kelompok. Namun faktanya, dia selaku anggota kelompok dan juga kelompok-kelompok lainya tetap mengeluhkan persoalan ini.

“Jadi kelompok mana yang dimaksud itu, makanya saya menduga sudah dilakukan penimbunan oleh penjual-penjual ini,” ungkapnya.

Salah seorang petani lainnya, Maman juga mengeluhkan hal yang sama. Untuk mendapat satu zak pupuk urea saja ia terpaksa harus mengintai mobil-mobil yang akan menurunkan dan menjual pupuk ke petani di tempat-tempat tersembunyi. Seperti yang dilakukannya belum lama ini, di mana Maman mencegat mobil pengangkut pupuk di Cabang Sipon Desa Bara. Informasinya pupuk tersebut akan dijual ke wilayah Mumbu dengan harga Rp 300 ribu/zak.

“Malam-malam saya pergi beli pupuknya, dia pakai mobil pick up. Saat itu saya cegat mobilnya di Cabang Sipon langsung transaksi tanpa tawar menawar. Katanya dia mau jual ke Mumbu,” jelasnya.

Disinyalir, penimbunan pupuk ini dilakukan mengingat dalam waktu dekat petani jagung akan mulai melakukan penanaman, sehingga dipastikan kebutuhan pupuk akan sangat banyak. Dan pada saat yang sama kata Maman, para pengusaha akan mulai memainkan harganya. (jun)