Petani Madu Trigona di Sekotong Butuh Perhatian

Zulhadi, salah satu petani lebah madu trigona di Desa Batu Putih kecamatan Sekotong, Lobar. Petani pembudidaya madu trigona di sisi  butuh Intervensi bantuan peralatan.. (Suara NTB/her)

Petani lebah madu trigona di daerah Sekotong, kabupaten Lombok Barat (Lobar) saat ini butuh intervensi pemerintah dari sisi peralatan. Mereka sangat membutuhkan alat untuk menurunkan kadar air madu atau Dehem. Karena rata-rata kebanyakan petani menyetok madu dalam waktu lama sebelum laku terjual.

KETUA kelompok tani hutan (KTH) madu Sekotong (maskot) Dusun Labuan Poh Timur, desa Batu Putih, kecamatan Sekotong, Zulhadi, Rabu, 13 Oktober 2021 menuturkan, kendala yang dihadapi saat ini adalah alat untuk menurunkan kadar air. “Kami butuh intervensi bantuan alat penurun kadar air, karena kalau madu distok, di display sebelum terjual,” jelasnya. Usaha madu trigona ini cdukup, apalagi di tengah kondisi pandemi.

Iklan

Dia juga berharap pemerintah mengontrol pengiriman penjualan koloni lebah madu trigona ini ke luar daerah. Karena kalau dibiarkan, koloni akan habis. Apalagi daerah Lobar khususnya ada jenis koloni endemik yang perlu dijaga dan dilestarikan. “Kami berharap pemerintah membuat semacam regulasi, mengontrol pengiriman koloni ke luar daerah. Karena sudah banyak dikirim,” ujarnya.

Ia sendiri merintis budidaya trigona sejak tahun 2012. Saat itu hanya beberapa stub untuk konsumsi pribadi saja. Baru sekitar tahun 2017, pihaknya mulai dalam skala usaha. Saat ini ia memiliki 500 lebih koloni lebah madu trigona. Dan ada juga dititip di rumah-rumah penduduk. Sehingga totalnya mencapai 1.500 koloni dan stub yang dikelola oleh 25 orang anggota.

Zulhadi menuturkan, dalam sekali panen, satu stub menghasilkan minimal 250 mililiter. Dengan masa panen dalam kurun waktu empat bulan. Ia sendiri mengatur wakti panen ini, supaya ketersediaan madu bisa berkesinambungan untuk memenuhi permintaan pasar.

Di masa pandemi ini, trigona banyak dipesan karena memiliki manfaat yang luar biasa untuk kesehatan. Terutama imunitas. “Sehingga pemesanan madu trigona justru naik di masa pandemi ini,” jelasnya. Untuk pemesan sendiri berasal dari lokal, luar daerah, Bali dan Jawa, Jakarta hingga Batam. Produk inipun sudah tembus ke luar negeri. Terutama tamu dari Prancis, Jerman dan Singapore.

Sementara itu, anggota DPRD Lobar dapil Sekotong – Lembar, Abu Bakar mengatakan pihaknya mendukung pengembangan usaha madu trigona yang dilakukan petani di Sekotong dan Lobar umumnya.

Dengan branding Maskot (madu Sekotong) menjadi keunggulan Sekotong. Hal ini upaya untuk mengembangkan usaha ekonomi daerah yang berkelanjutan. Karena madu memakan sari pati tanaman dan pohon di hutan. “Sehingga dengan adanya industri kreatif semacam ini Insya Allah akan berdampak bagaimana masyarakat menjaga hutan sebagai sumber makanan dari lebah madu ini,” ujarnya sembari menyampaikan komitmennya mendukung usaha madu ini kedepan. (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional