Petani Kopi Siap Penuhi Permintaan Luar Negeri

Petani kopi di Sajang Sembalun sedang memetik kopi yang siap panen. (Ekbis NTB/rus)

PARA petani di Desa Selelos, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara (KLU) siap memenuhi permintaan kopi dari manapun, termasuk permintaan dari luar negeri. Selain kopi robusta, aneka komoditas perkebunan lainnya juga melimpah menanti pasar.

Selelos menyimpan potensi besar komoditas perkebunan. Untuk kopi saja, ada ribuan hektare kata petani setempat, kepada Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi saat berkunjung, pekan kemarin.

Iklan
Sejumlah pekerja sedang membersihkan kopi yang baru selesai dijemur. (Ekbis NTB/bul)

Di desa ini, kita bisa menjumpai aneka jenis komoditas perkebunan. Selain kopi, ada kakao, ada vanili, ada juga cengkeh, hingga durian. Khusus kopi, ada ribuan hektare lahan tanamnya. Ada juga kopi organik. Masyarakat setempat sudah turun temurun menjadi petani penghasil komoditas perkebunan sebagai sumber perekonomian di desa ini.

Hasil perkebunan di Desa Selelos sungguh melimpah. Musim buah terus bergantian. Untuk saat ini sedang musim durian. Sementara kopi, sedang berbunga. Selelos berada di ketinggian yang lembab di badan Gunung Rinjani. Sehingga kondisi ini sangat mendukung tumbuh suburnya komoditas perkebunan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Ir.Muhammad Riadi  turun langsung ke Selelos, Kamis 30 September 2021 untuk memastikan kesiapan petani kopi memenuhi permintaan yang cukup besar masuk ke NTB saat ini.

Sebanyak 1.450 ton  yang dipesan oleh buyer dari lima negara pada ajang Coffex Istanbul  yang diselenggarakan di Istanbul, Turki selama empat hari, 15-18 September 2021.

Lima negara yang memesan kopi NTB di pameran kopi terbesar di dunia itu di antaranya,  dari mesin membutuhkan sebanyak 30 kontainer diminta atau setara dengan 600 ton. Lalu dari Arab Saudi dan Aljazair juga sebanyak 10 dan 20 kontainer (30 kontainer = 600 ton). Kemudian dari Libya dan Turki meminta 12 kontainer atau setara dengan 250 ton.

Kelompok-kelompok tani di Desa Selelos kepada kepala dinas langsung menyampaikan sanggup. Bahkan mereka saat ini memiliki stok kopi (green bean/ kopi biji) yang tidak terserap oleh pengepul yang menjanjikan akan membelinya.

“Stok kopi kami masih banyak di gudang. Ada pengusaha yang sebelumnya mau membeli, tapi tiba-tiba hilang tanpa kabar,” kata salah satu petani.

Stok kopi dimaksud adalah kopi pilihan. Yang dipetik dari buah-buah yang sudah cherry (biji berwarna merah). Sesuai permintaan pengusaha kepada petani di Desa Selelos. Tidak terserapnya kopi-kopi yang sudah petani ini siapkan bahkan dianggap merugikan petani.

Salah satunya karena pembengkakan biaya petik. Kalau petik cara biasa (sekaligus), biayanya hanya Rp5.000/Kg. Sementara pemetikan kopi cherry, biayanya naik menjadi Rp10.000/Kg, karena harus disortir dari pohonnya.

Biasanya, petani melakukan pemetikan kopi sekaligus. Kopi yang berwarna cherry, dan kopi yang masih setengah siap panen (hijau), dipetik bersamaan. Setelah kering, dijual juga kepada pengepul yang memasok ke pasar-pasar tradisional.

Artinya, petani di Selelos sudah memahami dari proses pemetikannya untuk mendapatkan kopi berkualitas yang dibutuhkan di luar negeri. Mereka berharap, kepada kepala dinas untuk dicarikan pasar yang konsisten.

Tidak saja kopi, demikian juga hasil-hasil komoditas perkebunan lainnya seperti biji cokelat, dan vanili. Para petani di Selelos siap menghasilkan kualitas terbaik yang dibutuhkan. Asal mereka dijembatani pasar.

‘’Kami juga minta fasilitasi kami melakukan kerjasama kalau ada permintaan. Agar tidak hilang begitu saja,’’ ujar petani lainnya.

Pada bagian lain, Lalu Thoriq dari UD. Berkah Alam Kopi mengatakan, tidak menyangka besarnya permintaan kopi yang masuk. Dari buyer Mesir 30 kontainer diminta atau setara dengan 600 ton. dari Arab Saudi dan Aljazair juga sebanyak 10 dan 20 kontainer (30 kontainer = 600 ton). Kemudian dari Libiya dan Turki meminta 12 kontainer atau setara dengan 250 ton.

Permintaan tersebut sudah disanggupi, menurutnya, masih memungkinkan jika melihat potensi produksi kopi NTB yang mencapai hampir 6000 ton setahun. Lalu Thoriq mengatakan, begitu permintaan tersebut masuk, ia langsung berkoordinasi dengan kelompok-kelompok tani kopi yang ada di Pulau Lombok, di Sumbawa, dan di Bima Dompu.

“Saya saja punya lahan binaan 1.500 hektare di Lombok Utara dengan 700 petani. Potensi produksinya yang sudah kita data baru 600 ton. Belum lagi yang lain-lain, masih memungkinkan kita penuhi,” katanya.

Tahun 2022 mendatang permintaan dari lima negara itu harus dipenuhi, karena itu, harus sudah disiapkan sejak sekarang. Thoriq menambahkan, permintaan tersebut sudah tidak lagi atas nama pribadi, atau perusahaannya. Melainkan atas nama Indonesia, khususnya NTB.

Melihat besarannya, total nilai permintaan kopi NTB ini mencapai hampir Rp50 miliar. Tentu modal yang tidak kecil bagi petani. Karena itu, diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan tersebut. ‘’Nanti pemerintah daerah yang atur, apakah melibatkan perusahaan daerah, karena membutuhkan modal yang tidak sedikit. Tugasnya pemerintah nanti, siapa kita mau harapkan,’’ imbuhnya.

Dari sisi produksi tak dikhawatirkan, namun untuk membeli ke petani harus menggunakan dana segar langsung. Sehingga pemerintah daerahlah yang sangat diharapkan untuk memfasilitasinya. Bisa saja pemerintah daerah membuat korporasi khusus untuk memenuhi permintaan ini. Thoriq mengatakan, ini menjadi peluang bagi daerah untuk menambah pendapatannya.

‘’Kalau tidak kita penuhi, bisa malu karena sudah disanggupi. Dan ini sudah menjadi isu nasional, membawa nama Indonesia. Di sana ada Pak Konjen dan atase yang melihat sendiri bagaimana antusiasnya buyerbuyer yang memesan,’’ katanya.

Karena itu, Thoriq berharap secepatnya juga ada koordinasi di tingkat daerah untuk mempersiapkan pemenuhan permintaan tersebut.

Sementara Azmi, petani kopi asal Desa Sajang Sembalun, Lombok Timur mengaku, produksi kopi asal NTB hanya bisa memenuhi kualitas ekspor sekitar 800 ton. Dikhawatirkan, kalau tidak bisa dipenuhi seluruh permintaan kopi yang dipesan itu, dikhawatirkan nanti kopi didatangkan dari luar NTB.

‘’Kalau ini terjadi, lalu diketahui  oleh negara pemesan, maka yang akan rugi besar adalah para petani kopi NTB,’’ ujarnya.

Peluang pasar yang sangat besar itu diharapkan tidak dimainkan. Karenanya, segala informasi mengenai peluang pasar ekspor itu hendaknya disosialisasikan langsung ke petani. Petani bisa bersiap-siap untuk memenuhi kebutuhan ekspor tersebut.

 ‘’Apa jenis pengolahan yang diinginkan oleh customer dari luar negeri itu, butuhnya yang natural atau seperti apa,’’tanya Sekretaris Asosiasi Kopi NTB ini.

Pasalnya, informasi detail mengenai hal ini tidak terdengar di telinga petani. Menurutnya, kalau jelas informasinya maka bisa dilakukan pemetaan potensi. Dengan demikian, semua petani kopi di NTB ini bisa mendapatkan manfaat.

Ditambahkan, keberadaan Asosiasi Kopi NTB juga tidak pernah dilibatkan dalam aspek pemasaran kopi hingga ke luar negeri. Padahal, asosiasi kopi ini bisa menjadi mitra yang memetakan potensi kopi se NTB. Khusus di Sembalun, ujarnya, petani kopi robusta di Sajang Sembalun setiap tahun bisa memproduksi 100 ton atau setiap petani mampu produksi 10-20 ton.

Sejauh ini, pangsa pasar, ujarnya, masih pasar lokal. Peluang ekspor ini diakui akan bisa meningkatkan pendapatan petani. Hanya saja, tegasnya lagi, harus benar-benar sampai informasinya ke tengah petani.

Termasuk informasi mengenai harga. Sejauh ini pun tidak pernah sampai di tengah petani. Karenanya, ekspor itu akan terasa sulit bisa disentuh petani karena ketidaktahuan  petani mengenai peluang memenuhi pasar ekspor tersebut. (bul/rus)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional