Petani Keluhkan Turunnya Harga Gabah

Dompu (Suara NTB) – Jasman (51), petani asal Kelurahan Kandai II Kecamatan Woja menyesalkan dua pekan menjelang panen raya tahun 2017 ini, harga gabah mengalami penurunan. Biaya produksi yang tinggi dinilai tak sebanding dengan harga Rp 3.500/Kg yang dipatok para pengepul. Padahal pertengahan Februari 2017 lalu harga gabah kering sawah berkisar Rp 4.100 – Rp.4.300/Kg.

Harga tersebut jauh melampaui Harga Pokok Penjualan (HPP) yang hanya Rp 3.700/Kg. “Petani bisa rugi kalau begini sebab biaya yang kita keluarkan sampai mau panen ini kan besar, mulai pembajakan, bibit, pupuk dan obat-obatan lain kan mahal semua harganya,” katanya kepada Suara NTB, Selasa, 7 Maret 2017.

Iklan

Jasman menyebutkan, harga pupuk jenis Phonska 1 zaknya cukup beragam, dari pengepul terkadang ada yang menjualnya Rp.100 ribu hingga tembus Rp.120 ribu, sedangkan harga normal seperti yang diketahui pihaknya hanya Rp.95 ribu/zak.

Beragamnya harga pupuk tersebut menurut Jasman, semata-mata akibat kurangnya persediaan yang diberikan pemerintah. Karenanya petani terpaksa membeli pupuk dengan harga cukup mahal lantaran khawatir tanaman padinya gagal total. Sementara untuk pupuk Urea lanjut dia, dari harga normal Rp.90 ribu/zak naik hingga hingga Rp.120 ribu- Rp.130 ribu.

“Dari pada padi kita tidak tumbuh, ya terpaksa kita beli pupuknya dengan harga mahal tersebut. Mungkin pemerintah sudah normal kasi harga, cuma pengepul-pengepul ini biasanya yang mainkan harga,” jelasnya.

Persoalan lain yang juga telah mengancam petani mengalami kerugian di tengah menurunnya harga gabah tersebut ialah serangan hama tikus beberapa waktu lalu. Di mana serangan hama tikus ini cukup mempengaruhi tingkat pertumbuhan padi petani, untuk harap Jasman, pemerintah daerah dan instansi terkait lainya segera mengupayakan alternatif pemecahan masalah ini, minimal melakukan intervensi dengan menyediakan dana talangan untuk membeli gabah masyarakat.

Kasi Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu, Muhidin, SH yang dikonfirmasi persoalan ini mengatakan, turunya harga gabah awal Maret lalu memang membuat para petani kaget. Hal itu mengingat harga gabah di Dompu biasanya melampaui HPP, yakni Rp.4.100 /Kg.

Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi ini, sementara untuk mengintervensi agar harga gabah kembali normal atau melebihi HPP bukan menjadi kewenangan pihaknya.

“Kalau intervensi bukan urusan kami, salah satu caranya ya pemerintah harus menyediakan dana talangan untuk membayar padi masyarakat ini baru tuntas persoalan,” pungkasnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, SP belum lama ini mengatakan, harga gabah di tingkat petani yang sempat mencapai Rp.4.100 /kg belum lama ini dibeli oleh pengusaha dari Jawa untuk memenuhi kebutuhan gabahnya. Karena di Jawa, panen raya gabah sudah lewat, sehingga membeli gabah di Dompu. Tapi saat ini, para pengusaha tersebut sudah kembali dan tidak lagi membeli gabah di Dompu.

Pengusaha yang menampung gabah petani tinggal pengusaha lokal yang bermitra dengan Bulog seperti Putra Indonesia dengan harga gabah kering panen di tingkat petani seharga Rp 3.700/kg dengan kadar air maksimal 25 persen dan kadar hampa (kotoran) maksimal 10 persen.

“Yang membeli gabah di petani saat ini rata- rata anak buah dari Putra Indonesia dan pengusaha lain yang bekerjasama dengan Bulog,” terangnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here