Petani Jadi Korban, Farouk Minta APH Proaktif Tangani Kasus Bawang Sembalun

Mataram (Suara NTB) – Anggota DPD RI dapil NTB, Prof Farouk Muhammad angkat bicara soal kasus pengadaan bibit bawang putih yang menimpa petani Sembalun, Lombok Timur tahun 2017. Purnawirawan polisi jenderal bintang dua ini menilai kasus di sektor pertanian berdampak luas bagi perekonomian.

“Dalam persoalan ini Polda NTB harus banyak mencari di lapangan, harus proaktif. Disini, fungsi deteksi dininya harus lebih ditingkatkan,” kata dia Rabu, 27 Juni 2018, ditemui di Mataram.

Iklan

Mantan Kapolda NTB ini berharap, petani juga turut serta membongkar penyimpangan. Caranya mengungkap fakta kepada penyidik yang menangani kasus tersebut.

“Kalau memang mereka (kelompok tani) punya buktinya, laporkan saja,” ujar Guru Besar Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana ini.

Dia punya pengalaman mengawal keluhan yang sama, yakni persoalan bibit bawang merah di Kabupaten Bima tahun 2015 lalu. “Kasus-kasus bawang yang ada di Bima, itu sempat kita dorong sampai ke KPK. Tapi mungkin saja sekarang mereka (KPK) masih berupaya mengumpulkan bukti-buktinya,” bebernya.

Polda NTB memulai penyelidikan kasus tersebut sejak Mei 2018 lalu. Sebanyak 350 ton benih bawang putih lokal didistribusikan kepada 181 kelompok tani yang tersebar di 18 desa se-Kabupaten Lombok Timur.

Setiap kelompok tani mendapatkan kuota benih lokal bersama dengan paket pendukung hasil produksinya, mulai dari mulsa, pupuk NPK plus, pupuk hayati ecofert, pupuk majemuk, dan pupuk organik.

Benih bawang putih lokal sebanyak 350 Ton dibeli dari hasil produksi petani di Kecamatan Sembalun pada periode panen pertengahan tahun 2017.

Pembelian itu diamanatkan kepada perusahaan BUMN, PT Pertani dengan alokasi Rp30 miliar bersumber dari APBN-P 2017. Persoalan mulai muncul ketika petani mengeluh tidak mendapatkan jatah sesuai data. Bahkan ada sebagian dari kelompok tani yang sama sekali tidak menerima. (why)