Petani Dompu Kewalahan Atasi Ulat Grayak

Tampak tanaman jagung warga di So Mila rusak diserang hama ulat grayak, Minggu, 16 Februari 2020.(Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Serangan hama ulat grayak pada tanaman jagung warga di So Doro Naru dan Mila makin meluas. Hal tersebut lantas membuat sejumlah petani kewalahan mengatasinya. Tak hanya itu, kondisi ini mulai dikhawatirkan berimbas pada hasil penen mereka.

Salah seorang petani di So Doronaru Desa Matua, Ilham kepada Suara NTB, Sabtu, 15 Februari 2020 mengaku, kewalahan menekan hama ulat grayak yang menyerang sebagian besar tanaman jagung di 2 Ha lahan pengelolaannya.

Iklan

Upaya penyemprotan daun sudah dua kali dilakukan. Baik pada sebulan pertama usia pertumbuhan jagung maupun di pertengahan Februari ini. Namun demikian, hasilnya tak pernah sesuai harapan.

“Berkurang ya berkurang ulatnya setelah beberapa hari disemprot. Tapi datang lagi, jadi daunnya belum tumbuh bagus sudah dimakan lagi,” ungkapnya.

Kondisi ini lantas membingungkannya untuk menggunakan cara apa agar bisa menekan serangan hama ulat tersebut. Kalaupun dipaksa penyemprotan malam hari sebagaimana anjuran Distabun, menurut dia, percuma jikalau tidak dilakukan juga petani-petani lain. Kondisinya yang menyerang sebagian besar lahan pertanian sekitar, membuat hama ini sangat mudah berpindah dari lahan satu ke lahan lain.

“Kalau ndak bersamaan malam hari misalnya ya sulit. Makanya saya biarkan saja seperti ini sekarang. Cukup kita beri pupuk dan jaga babi mungkin bisa normal kembali,” ujarnya.

Melihat tingkat serangan hama ulat grayak dialami sebagian besar tanaman jagung di 2 Ha lahan pengelolaannya, Ilham khawatir mengalami kerugian di tengah tingginya biaya produksi saat ini. Harapan besarnya hasil panen tahun ini minimal bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkan.

Petani lain di So Mila, Nurdin pun menghawatirkan persoalan itu. Hanya saja, pada lahan pengelolaannya serangan hama ulat grayak tak begitu menghawatirkan jika dibanding lahan warga lainnya. Meski begitu, ancaman kerugian tetap ada lantaran serangan hama ini tak diketahui berlangsung hingga kapan.

“Ulat ada cuma kalau dibanding dengan lahan di sebelah saya ini masih lumayan. Biasa disemprot dan rajin dibersihkan saja caranya,” pungkas dia. (jun)