Petani Diminta Bijak Gunakan Bahan Kimia Beracun

Pelatihan-Kegiatan Pelatihan petani penggunaan Herbisida Terbatas, Selasa, 21 September 2021. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Seiring dengan kemajuan teknologi pertanian, berbagai macam bentuk racun pembunuh hama dan gulma serta pengendali rumput pada tanaman muncul. Salah satunya adalah herbisida. Para petani diminta lebih bijak dalam penggunaan bahan kimia beracun tersebut.

Hal diingatkan Kepala Dinas Pertanian Lotim, H. Abadi menjawab Suara NTB usai pelatihan Herbisida Terbatas di Masbagik, Selasa, 21 September 2021. Penggunaan herbisida ini harus tepat. Sehingga petani bijak dan tahu caranya dalam mengaplikasikan racun tersebut kepada tanaman. “Karena kita kan berhubungan dengan racun masalahnya,” ucapnya.

Iklan

Menurut Kadistan, petani banyak menganggap sepele dalam melakukan penyemprotan. Racun-racun yang digunakan petani beragam bentuknya. Ada insektisida untuk serangga, fungisida untuk cendawan, bakterisida untuk bakteri dan herbisida untuk gulma atau rumput.

Salah satu kebiasaan petani adalah tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat melakukan penyemprotan. Padahal, dalam tubuh itu ada pori-pori yang bisa dimasuki racun. Hal ini jelas bisa mengganggu kesehatan petani itu sendiri.

Para petani di Lotim khususnya dalam penggunaan racun-racun tanaman itu diketahui dilakukan secara terjadwal. Ada atau tidak gulma, serangga atau jenis pengganggu tanaman lainnya tetap saja melakukan penggunaan racun. Kondisi itu jelas selain mengancam kesehatan petani, juga sangat tidak efisien. “Itu bisa merugikan petani dari segi finansial, karena jelas akan menambah biaya produksi,” demikian Abadi.

Mewakili Ketua Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas (Alishter), Bagus Fadillah mengatakan petani memang harus bijak dalam menggunaan herbisida. Melalui pelatihan yang digelar diharapkan dapat memberikan edukasi kepada petani.

Penggunaan racun tanaman secara bijak, katanya, akan meminimalisir berbagai dampak. Dampak bagi petani sendiri secara kesehatan maupun ekonomi, serta dampak ancaman kerusakan lingkungan.

Sejauh ini, hampir rata-rata petani masih minim pengetahuan dalam pengaplikasian herbisida. Antara lain, tidak menggunakan APD saat aplikasi. Penggunaan berlebih sehingga menguras kantong petani.

Alishter merekomendasikan penggunaan dosis yang tepat. Penggunaan herbisida secara bijak katanya akan lebih efisiensi anggaran budidaya tanaman. Disebut, telah hadir teknologi yang bernama herbisida parakuat diklorida. Namun karena masih merupakan bahan kimia yang beracun, penggunaannya pun harus secara benar dan bijaksana sesuai dengan rekomendasi penggunaannya. (rus/*)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional