Petani di Wilayah Utara Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

Lahan pertanian di Kabupaten Lotim yang mulai memasuki musim tanam. Tampak salah seorang petani tengah bertani di lahan pertaniannya. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Para petani di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Kelangkaan pupuk hampir satu bulan terjadi yang dikeluhkan petani di wilayah selatan. Sementara keluhan serupa saat ini dikeluhkan petani yang berada di wilayah Utara.

Seperti halnya para petani di Kecamatan Masbagik   masih mengeluhkan kelangkaan pupuk memasuki musim tanam tahun ini.  Para petani masih merasakan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi. Sementara kondisi tanaman padinya sudah waktunya dilakukan pemupukan. “Sulit sekali pupuk sekarang. Kita sudah mencari ke beberapa penjual tapi kosong,”terang Suhaidi, kepada Suara NTB, Senin, 18 Januari 2021.

Iklan

Sementara, kata dia, keterlambatan pemupukan ini akan berdampak cukup signifikan. Hal yang paling mendasar berupa kurang maksimalnya pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mengakibatkan kegagalan panen. “Kita bisa gagal panen kalau tidak melakukan pemupukan,” ujarnya

Disinggung terkait solusi membeli pupuk non subsidi, Suhaidi mengaku masih mempertimbangkannya, karena dibutuhkan biaya lebih mahal meskipun luas lahannya sekitar 10 are.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Lotim H. Moh. Abadi menerangkan, terdapat beberapa persoalan yang dihadapi saat ini. Disebutkannya sesuai surat Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Nomor: 521.33/Sarpras/04/Distanbun/2021, HET pupuk bersubsidi yaitu, pupuk urea Rp2.250/kg. Pupuk SP-36 Rp2.400/kg, pupuk ZA Rp1.700/kg,  pupuk NPK Rp2.300/kg, pupuk Organik Granul Rp800/kg dan pupuk organik cair Rp20.000/liter.

Saat ini ketersediaan pupuk yang dinyatakan langka sudah mulai disebar ke sejumlah petani di semua kecamatan. Penyebarannya dilakukan secara bertahap dengan kuota pupuk untuk Lotim sebanyak 27.500 ton. Jumlah ini masih bisa men-cover luas areal tanam milik petani.

Untuk 1 hektare lahan petani memperoleh jatah sekitar 125 kilogram. Sedangkan jatah untuk masing-masing petani hanya 2 hektare. Adapun jumlah e-RDKK Lotim sesuai NIK dan KK petani sebanyak 100.054 petani dengan rencana luas tanam 190.049 hektare selama 1 tahun.  “Rencana tanam itu sudah teraktualisasi ke dalam e-RDKK,” pungkasnya. (yon)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional