Petani di Dompu Kantongi Setengah Miliar dari Hasil Panen Tebu

Kegiatan panen di lahan mitra mandiri Desa Sorinomo. (Suara NTB / Muhary Wahyu Nurba)

Dompu (Suara NTB) – Rasa manis Tebu kini dinikmati Suaedi, warga Desa Sorinomo Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu. Ia menikmati hasil panen Tebu mencapai ratusan juta rupiah. Suaedi menjadi ikon sekaligus inspirasi warga desa setempat untuk musim tanam berikutnya.

Suaedi yang akrab dipanggil Suaeb yang kini menginjak usia 40 tahun, kini dijuluki Orang Kaya Baru (OKB) di kampungnya. Ini tidak lepas dari sikap konsistennya memilih tebu sebagai komoditi tanaman sejak 2016.

Iklan

Berawal hanya 2 hektar, kemudian berkembang menjadi belasan hektar, bahkan pada masa panen ini ia menggarap lahan 23 hektar. Sebagian lahan itu dibelinya dari hasil panen tebu yang terus berkembang. Tidak puas dengan membeli lahan, Suaeb menyewa lahan per tahun, hingga akhirnya menjadi 23 hektar.

“13 hektar lahan saya yang saya beli dari hasil panen. Sisanya saya sewa, supaya hasilnya lebih banyak,” kata Suaeb, perantau asal Lombok Timur ini.

Selama tanam, ia mengaku tidak terlalu sibuk dan kerepotan seperti menanam komoditi lain. Ia hanya menyemprotkan obat dan pemupukan. Dua kegiatan itu hanya sekali dilakukan. “Setelah itu ya saya lepas tebunya sambil sekali kali cek,” akunya.

Tebunya aman dari gangguan ternak, sehingga tidak perlu pemagaran. Ia diuntungkan dengan Peraturan Desa (Perdes) yang pro petani, karena ada larangan pelepasan ternak sembarangan.
Sejak tanam sampai perawatan, ia ditempel pendampingan oleh tim Departemen Mitra PT. SMS dibawah komando Pramono Sidiq, mulai sejak Tahapan tanam sampai perawatan ia konsultasikan.

Pada pertengahan September 2020, Tebunya siap panen. Selama kegiatan panen pun ditangani sepenuhnya tim Departemen Harvesting yang melibatkan kontraktor lokal penyedia tenaga tebang.

Hasil yang diperoleh mencengangkan. Dalam satu hektar, Suaeb mendapat hasil panen hampir 100 ton. Gayung bersambut, harga Tebu per ton tahun ini naik menjadi Rp 440.000. sehingga dari total 21 hektar yang dipanen, diperkirakan ia sudah meraup keuntungan antara Rp 500 juta sampai Rp 600 juta.

Dengan keuntungan sebanyak itu, semakin menambah pundi modal Suaeb untuk mengembangkan komoditi tebu. Ia berencana menambah areal menjadi 35 hektar.

Suaeb adalah sosok petani rendah hati. Ia awalnya hanya petani yang ikut ikutan tetangganya menanam tebu.

Ketertarikan Suaeb dan petani lainnya direspon tim Departemen Mitra dengan memberikan pembinaan.

“Kami selalu meyakinkan dan mensosialisasikan teknik dan strategi sukses menjadi petani Tebu, mulai dari perhitungan SHU, peningkatan produksi tebu, dan menjadi kontraktor untuk panen,” kata pimpinan Mitra Departemen, Pramono Sidik.

Salah satu strategi yang disampaikannya, energi yang dikeluarkan untuk menanam 1 hektar lahan Tebu sama dengan lelahnya menanam 5 hektare. Perbedaannya hanya soal biaya.
“Jadi apabila ada petani yang punya lahan tapi tidak mampu mengelola, lebih baik disewa saja, lalu tanam Tebu. Ketika sudah ratun 3 atau 4 bisa kembalikan ke pemilik, dan yang pastinya pemilik lahan merasa terbantukan karena lahannya sudah tertanam, tinggal meneruskan perawatannya,” ujar Pram.

Strategi ke depan yang akan diprogramkan adalah penguatan kelompok tani (Poktan), sehingga petani petani yang tidak punya modal keuangan maupun tenaga, bisa dikoordinir oleh Poktan yang dibimbing.

Ditambahkan Pram, pada masa panen tahun ini, Tonase dari lahan Mitra todate 57,252.89 ton dengan rata rata TCH 72,92 ton/ha.

Suaedi alias Suaeb (40). (Suara NTB / Muhary Wahyu Nurba)

Perdes Lindungi Petani

Kepala Desa Sorinomo, Supardin menyebut, dukungan penuh kepada petani, khususnya Komoditi Tebu diwujudkan dalam bentuk terbitnya Perdes Nomor 31 tahun 2016, isinya tentang Pemiliharaan Ternak dan Pemiliharaan Lahan Tani Desa Sorinomo. Penjelasan Perdes tentang larangan pelepas liaran ternak diberlakukan untuk melindungi lahan petani sekaligus ternak warga.
Supardin juga mengapresiasi kerjasama yang baik antara PT. SMS dengan Pemerintahan desa yang dipimpinnya, karena sejak awal masa tanam sampai panen, dilibatkan untuk koordinasi hingga sosialisasi ke petani.
“Setiap hari teman teman PT. SMS dari Departemen Mitra turun ke warga, mendengar keluhan keluhan petani dan memberikan solusi,” ujar Supardin.

Masalah yang muncul pada musim panen sebelumnya seperti keterlambatan pembayaran, bermasalah di proses tebangan, sudah diatasi pada musim panen tahun 2020 ini.

“Sekarang, berapa tonase yang dibawa ke pabrik, minggu depan langsung dibayar. Jadi sudah lancar. Proses penebangan juga sudah lancar. Masyarkat kita semakin tahu manfaat tanam Tebu, sehingga bertambah terus area tebunya,” pujinya.
“Kita bandingkan dengan komditi Jagung dan tebu jauh bedanya,” lanjutnya.

Masyarakat petani Sorinomo semakin antusias dengan adanya kenaikan harga Rp 440.000 per ton. Dampak ekonomi di desa sangat dirasakannya. Petani bisa menghasilkan hingga ratusan juta rupiah di masa panen tahun ini. Perputaran ekonomi semakin meningkat dengan kedatangan 1.100 tenaga tebang dari berbagai penjuru kecamatan.

Dia berharap, kerjasama petani dengan PT SMS terus meningkat ditandai dengan semakin luasnya area tanam Tebu.
Direktur Plantation & MER, Dinar Ariefin mengapresiasi konsistensi Suaeb menanam tebu sejak 2016 dan bertahan hingga kini, bahkan hasilnya sangat fantastis.

Dinar sekaligus memuji aparat desa setempat yang menerbitkan Perdes, tidak hanya menguntungkan bagi petani Tebu, juga mengamankan ternak agar tidak berkeliaran. (ula)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional