Petani Brang Rea Menjerit, Harga Gabah di Bawah HPP

Taliwang (Suara NTB) – Panen padi perdana tahun 2017 ini seakan menjadi mimpi buruk bagi petani di kecamatan Brang Rea . Betapa tidak. Meski menjadi wilayah pertama yang melakukan panen di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), namun harga jual gabah mereka tetap anjlok.

Di tingkat petani saat ini, gabah mereka hanya dibanderol seharga Rp 3.200/kilogram (kg). Harga itu jauh dari sekali dibandingkan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah yakni sebesar Rp 3.7000/kg.

Iklan

“Kami dapat laporannya dari petani. Mereka mengeluh karena harga gabahnya sangat rendah sekarang ini,” sebut anggota Komisi II DPRD Abidin Nasar, SP kepada wartawan, Rabu, 22 Februari 2017.

Terhadap kondisi yang dihadapi petani Brang Rea itu, Abidin mengaku pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Pemda KSB dan pihak Bulog. Dalam pertemuan tersebut, Komisi II meminta agar pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk membantu para petani. “Kita sudah ketemu dengan Asisten II dan pihak Bulog. Mereka kami desak untuk mencari solusi,” timpalnya.

Menurutnya, langkah cepat yang harus diambil pemerintah dan Bulog yakni mengakomodir hasil panen petani dengan melakukan pembelian. Khusus bagi Pemda KSB segera menggulirkan dana pengaman harga dasar gabah. “Kalau ada cara lain yang lebih cepat, laksanakan. Karena jangan sampai petani kita merugi,” pungkasnya.

Sementara itu ketua Komisi II Aherudin Sidik, SE., ME menambahkan, kondisi yang dialami petani saat ini seakan menjadi momok setiap musim panen tiba. Hal ini seharusnya sudah dapat diantisipasi pemerintah karena selalu berulang tanpa ada solusi riil untuk mengantisipasinya.

“Seharusnya ini bisa diantisipasi karena ini selalu saja terulang,” timpalnya seraya menambahkan upaya penanggulangan oleh pemerintah harus dikelola lebih taktis lagi.

“Jangan tunggu sampai terjadi dulu. Jadi pemerintah harus sudah bisa melakukan deteksi dini sehingga kalau sudah memang menyiapkan penanggulangannya langsung dilancarkan saja supaya petani tidak merugi,” sambung Aherudin.

Ia juga menyampaikan, jika kondisi seperti terus terjadi maka program pemerintah untuk mendorong peningkatan sama artinya tidak akan membuahkan hasil maksimal. “Kita memang harus membangun kerangka yang kuat untuk mengatasi setiap persoalan yang terjadi pasca panen. Dan salah satunya memastikan petani mendapatkan harga gabah yang kompetitif,” imbuhnya. (bug)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here