Pesta Kecil Malam Tahun Baru, Empati untuk Korban Bencana

Suasana perayaan datangnya tahun baru 2019 di Lombok, 1 Januari 2019. (Suara NTB/ars)

Giri Menang (Suara NTB) – Perayaan pergantian tahun pada Senin, 31 Desember 2018 malam lalu relatif sepi. Kalaupun ada pesta perayaan, sifatnya kecil dan dihajatkan untuk empati bagi korban gempa di NTB. Memberi support moral kepada korban gempa untuk bangkit.

Kawasan Senggigi, Lombok Barat, salah satu pusat pesta pergantian tahun. Jalan macet dan pengunjung berjejal di sepanjang garis pantai sejak tanggal 31 Desember sampai 1 Januari dinihari adalah pemandangan rutin. Tapi tahun 2018 ini sangat jauh  berbeda.

Iklan

Pantauan Suara NTB sejak pukul 22.00 Wita, jalur Lingkar Selatan menuju Ampenan hingga simpang pasar Kebon Roek ramai namun lancar. Hampir tidak ada upaya rekayasa lalulintas dari aparat dengan pengalihan arus. Aparat pun duduk dan sebagian berdiri mengamati di sudut simpang dan pinggir jalan.

Sampai di jalur wisata Senggigi, tikungan makam Batulayar hanya diramaikan aparat dan sedikit pengunjung. Dua anjungan look out, masing masing di tikungan makam dan tikungan Pura Batu Bolong hanya beberapa pengunjung, aparat dan pedagang terlihat.

Suara NTB kemudian menyusuri Senggigi Beach. Suasana kurang meriah sudah terasa di parkiran. Tidak ada antrean panjang kendaraan. Sepanjang garis pantai lengang. Hiburan lainnya terkonsentasi di hotel, kafe dan bar sepanjang  pantai dan jalan raya Senggigi. Itu pun tak terlalu mencolok.

Satu satunya yang membuat meriah adalah dentuman musik dari panggung  hiburan yang dibuat Hotel Kila.

Jelang detik detik menuju pukul 00.00 Wita, dipandu vocalis Playlist Band dari panggung, kembang api bersahutan menggelegar di udara. Vocalis memandu pengunjung menyanyikan lagu ‘Viva La Vida’ milik grup band asal London Inggris Coldplay mengiringi letusan kembang api. Namun durasi ledakan kembang api dipersingkat.   Pesta kecil satu satunya di Senggigi Beach itu berakhir sekitar satu jam kemudian.

Direktur Sales dan Marketing Kila Hotel, Aang Sadikin, mengakui paket malam tahun baru yang dijualnya merosot dibanding tahun lalu. Tarif per pengunjung termasuk paket makanan dan minuman, banting harga hingga Rp 500.000, dari harga tahun lalu mencapai Rp 1,5 juta.

Sementara pesta kembang api dan panggung hiburan di pinggir pantai Senggigi itu, dipastikannya sudah mendapat izin dari Polsek Senggigi. Acara hiburan itu pun dihajatkan untuk tamu yang reservasi sebelumnya. ‘’Juga sebagai bentuk empati kami kepada korban bencana Lombok dan Sumbawa. Kami sadar, sehingga tidak berlebihan melakukan kegiatan. Toh, kegiatan ini kami niatkan untuk NTB Bangkit,’’ kata Aang.

Manajemen hotelnya sangat patuh pada imbauan pemerintah agar tidak mengadakan pesta atau kegiatan berlebihan. Soal kegiatan religius, sebenarnya jauh hari sudah diterapkan manajemennya. ‘’Pak GM kami bahkan mewajibkan salat berjamaah bagi yang muslim untuk lima waktu,’’ ungkapnya.

Pantauan berbeda, meski Senggigi tidak sepadat  tahun tahun sebelumnyam, tapi aparat tetap siaga. Selain di simpang, pinggir jalan, juga di pos pengamanan.

Kapolsek Senggigi AKP Arjuna Wijaya kepada Suara NTB menuturkan, hanya ada empat hotel yang mengajukan izin untuk kegiatan malam pergantian tahun, berupa panggung musik dan pesta kembang api kecil- kecilan. Ia mengapresiasi karena para pengusaha hotel, bar, restoran, empati dengan kejadian bencana di NTB, termasuk di daerah lain.

Kurang meriahnya malam tahun baru juga dirasakan anggotanya yang piket. Mereka lebih ringan dalam kegiatan pengaturan lalu lintas. ‘’Sejak malam sampai pergantian tahun sama sekali tidak ada kemacetan. Memang kendaraan ramai, tapi ramai lancar,’’ ujarnya.

Sejauh ini tidak ada laporan kecelakaan lalulintas parah atau pun kejadian kriminalitas mencolok diterimanya. Sehingga kesimpulan Kapolsek, suasana pergantian tahun berlangsung kondusif dan tertib. ‘’Mungkin karena masyarakat memang patuh pada imbauan pemerintah untuk mengurangi kegaiatan pesta dan menjauhi pantai. Mungkin itu ya?. Tapi secara umum situasi memang kondusif,” ujarnya. (ars)