Pesanan Ketak Pertama dari Jepang Pasca Corona

Kunjungan ke Mawar Art Shop, Selasa, 27 April 2021, sebagai bagian dari pendampingan kepada pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). Mawar Art Shop mendapan pesanan ketak dari buyer Jepang.(Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Setahun setelah virus corona mewabah di Indonesia, tidak ada pesanan masuk dari buyer  luar negeri. Rantai produksipun diistirahatkan. Pesanan baru masuk. Angin segar bagi perajin ketak, khususnya Mawar Art Shop di  Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Pemesan perdana setelah corona adalah buyer dari Jepang.

“Setahun corona tidak ada pesanan sama sekali masuk dari luar negeri. Ini pertama kali pesan lagi, 2000-an pcs, semua jenis,” kata Dian Eka Purnama Sari, generasi kedua Mawar Art Shop. Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, H. Nuryanti, SE, ME bersama jajaran melakukan kunjungan ke Mawar Art Shop, Selasa, 27 April 2021, sebagai bagian dari pendampingan kepada pelaku Industri Kecil Menengah (IKM).

Iklan

Sudah puluhan tahun, kerajinan ketak dikembangkan di Desa Batu Mekar. Mawar Art Shop yang memulai mengembangkan kerajinan  dengan bahan baku murni dari rumput ketak ini. Selain Jepang, ada beberapa negara lainnya yang juga menjadi langganan pengiriman Mawar Art Shop. Diantaranya, Korea Selatan, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Georgia dan Madrid. “Tapi yang paling sering minta pesanan adalah Jepang. Negara-negara lainnya, kadang-kadang tiga bulan sekali,” kata Dian.

Permintaan dari Jepang juga lumayan banyak. Saat sebelum corona, sekali kirim pesanannya bisa mencapai Rp500 juta. Untuk permintaan pertama setahun pasca corona ini, permintannya tak sampai Rp100 juta. Ada puluhan jenis kerajinan ketak yang dihasilkan di Mawar Art Shop. Dari tas, pas bunga, tempat tisu, hingga beragam macam properti lainnya. Ada yang murni menggunakan bahan baku ketak. Ada juga yang dikombinasi dengan fashion. Hasil produksi disini sudah finishing. Tinggal kirim. Modelnya beragam, ada juga yang dibuat dengan anyaman motif.

Dian mengatakan, ada 500 orang yang terlibat menghasilkan kerajinan ketak mitra Mawar Art Shop di Desa Batu Mekar.Karena sepinya permintaan dari luar negeri, baru 100 perajin yang aktif berproduksi. Disesuaikan dengan permintaan yang masuk. Antara art shop ini dengan para perajin, dibangun kemitraan. Bahan baku disediakan oleh Mawar Art Shop. Lalu hasil kerajinannya dikumpulkan dan dijual.

Jepang sangat menggandrungi ketak. Katanya, karena selera fashion di Jepang yang sangat menyenangi produk-produk yang bahan bakunya natural (dari alam). Ketak dibuat dengan bahan baku penuh yang disediakan dari alam NTB. Sumber utama penyediaan ketak dari Lombok Utara. Kaki Gunung Rinjani. Dian menyebut, sejauh ini tak kesusahan dengan bahan baku. Kebutuhan ketak Mawar Art Shop di pasok oleh pelanggannya rutin. Hanya saja produksi sementara ini direm. Karena pesanan dari dalam negeri juga sangat minim.

Biasanya pesanan sangat banyak masuk. Terutama dari ibu-ibu pejabat. Kegiatan-kegiatan pameran juga sangat mendukung pemasaran. “Sekarang tidak ada lagi pameran-pameran. Kita jualannya mengandalkan online. Mudahan permintaan luar negeri berangsur-angsur membaik,” harapnya. Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti mendorong perajin ketak untuk terus berkreatifitas. Ketak bisa dikombinasikan dengan mutiara, tenun. Pemerintah daerah akan tetap melakukan pembinaan. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional