Pertumbuhan Ekonomi NTB Terendah di Indonesia

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi di NTB. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pertumbuhan ekonomi NTB dengan memasukkan kategori pertambangan, seluruh indikator perbandingannya mengalami pertumbuhan negatif pada teriwulan III 2018 ini. Bahkan NTB satu-satunya provinsi di Indonesia yang pertumbuhan ekonominya menuju garis merah ke bawah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono dalam keterangan resmi di kantornya, Senin, 5 November 2018 mengemukakan, Perekonomian Provinsi NTB secara kumulatif (c to c)sampai dengan triwulan III-2018 mengalami kontraksi sebesar -5,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Kondisi ini disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan pada kategori pertambangan dan penggalian yang mencapai-40,17persen. Sementara tanpa pertambangan bijih logam perekonomian Provinsi NTB masih tumbuh 3,80 persen.

Iklan

Kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kategori dominan mampu tumbuh sebesar 2,92 persen. Demikian pula halnya dengan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh mencapai 5,80 persen (c to c). Pertumbuhan tertinggi diperlihatkan oleh kategori jasa keuangan dan asuransi yang mencapai 11,34 persen. Hal ini sejalan dengan telah tersalurkannya berbagai kredit perbankan pada triwulan III ini, dimana sebagian besar berupa kredit untuk pelaksanaan proyek fisik (konstruksi). Akan tetapi pelaksanaan konstruksi tersebut masih tertahan akibat terjadinya gempa bumi, sehingga pertumbuhan kategori konstruksi tidak signifikan yaitu hanya sebesar 0,42 persen.

Perekonomian Provinsi NTB pada triwulan III-2018 disebut juga mengalami kontraksi sebesar -13,99 persen dibandingkan dengan kondisi triwulan III-2017 (y on y). Sedangkan tanpa pertambangan bijih logam pada triwulan III-2018 juga mengalami kontraksi sebesar -0,36 persen.

Diantara 3 kategori yang dominan dalam perekonomian Provinsi NTB, lanjut Suntono, kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor pada triwulan III-2018 mengalami pertumbuhan sebesar 3,28 persen. Sedangkan kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan dan kategori Pertambangan dan Penggalian masing-masing mengalami kontraksi sebesar -0,47 persen dan -57,83 persen.

Sementara itu, kategori dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kategori jasa keuangan dan asuransi sebesar 9,61 persen, diikuti kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 7,88 dan kategori informasi dan komunikasi sebesar 5,21 persen.

Memperhatikan sumber pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada triwulan III-2018 secara y on y, pendorong pertumbuhan terbesar berasal dari kategori perdagangan besar, eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 0,40 poin. selanjutnya, kategori jasa keuangan sebesar 0,27 poin, kemudian disusul  kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 0,14 poin.

Sedangkan pemicu kontraksi berasal dari kategori pertambangan dan penggalian sebesar -13,81 poin, selanjutnya kategori konstruksi sebesar -1,03 poin dan kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar -0,28 poin.

“Khusus untuk pertambangan ini, kami turun langsung ke AMNT, penyebab ekspornya kecil karena masih mengolah stok file lama. Karena stok file lama, berpengaruh juga ke kualitasnya. Itulah yang menyebabkan nilai ekspornya kecil. Padahal, kalau ekspor seberapa banyakpun bisa diekspor, tidak masalah,” ujarnya.

Tingginya kontraksi pertumbuhan pada kategori pertambangan dan penggalian dan diikuti beberapa kategori yang lain yang terdampak gempa bumi pada triwulan III 2018  menarik pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan berkontraksi hingga -13,99 persen.

Pertumbuhan ekonomi tanpa pertambangan bijih logam juga mengalami kontraksi sebesar -0,36persen, jauh lebih rendah daripada pertumbuhan y o y pada triwulan yang sama. Pada tahun lalu yang tumbuh hingga 7,57 persen. Musibah gempa bumi dan kemarau yang cukup panjang menjadi faktor utama penyebab turunnya kinerja ekonomi tanpa pertambangan bijih logam. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, kondisi perekonomian Provinsi NTB pada triwulan III-2018 mengalami kontraksi sebesar -2,14persen (q to q). Kondisi ini didorong oleh pertumbuhan kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan yang berkontraksi hingga -0,59 persen diikuti kontraksi pada kategori pertambangan dan penggalian -12,56 persen, kategori konstruksi -16,53 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar -10,29 persen. Musibah gempa yang menimpa Provinsi NTB sejak akhir bulan Juli hingga awal September cukup berdampak bagi perekomian NTB pada triwulan ini.

Beberapa lapangan usaha memperlihatkan laju pertumbuhan positif. Pertumbuhan yang cukup signifikan dicapai oleh kategori industri pengolahan yaitu 64,38 persen. Hal ini didorong oleh kegiatan pada industri pengolahan tembakau yang merupakan produk dominan industri pengolahan setelah industri makan minum. Pada triwulan III ini merupakan musim panen (panen raya) tanaman tembakau, sekaligus sebagai puncak kegiatan industri pengolahan tembakau. Industri pengolahan tembakau yang ada di NTB pada umumnya berupa oven dan perajangan tembakau. Selain kategori industri pengolahan tembakau, kategori yang mampu tumbuh positif adalah kategori jasa lainnya sebesar 9,99 persen, kategori informasi dan komunikasi 2,54 persen dan kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 1,96 persen.

“Tanpa memasukkan kategori tambang, pertumbuhan ekonomi NTB Y-on-Y tumbuh -0,36 persen. Q-to-Q tumbuh  -0,79 Persen dan  C-to-C tumbuh  3,80 Persen. Dari 2015, biasanya triwulan III ekonomi NTB tumbuh positif terus. Triwulan III 2018 ini yang menujukkan negatif,” demikian Suntono. (bul)