Pertaruhan Merah Putih, Mandalika dan MotoGP 2021

I Made Pari Wijaya, H. Lalu M. Faozal, H. Agus Talino. (Suara NTB/ars)

Gelaran MotoGP 2021 di Sirkuit Mandalika akan mengusung misi penting. Event besar ini, adalah pertaruhan Merah Putih, negara Indonesia di mata dunia internasional. Kesiapan infrastruktur pendukung seperti akomodasi, transportasi, keamanan dan sosial masyarakat harus benar-benar disiapkan di sisa waktu satu setengah tahun menjelang perhelatan balap motor internasional tersebut.

Demikian mengemuka dalam Diskusi Terbatas Harian Suara NTB dengan tema ‘’Memupuk Harapan di Mandalika’’ yang digelar di Ruang Redaksi Harian Suara NTB, Kamis, 27 Februari 2020.

Iklan

Diskusi tersebut dihadiri oleh Operation Head PT. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), I Made Pari Wijaya, Kadispar NTB, H. Lalu M. Faozal, S.Sos, M.Si, Kadishub NTB, Drs. H. Lalu Bayu Windia, M.Si. Kemudian Kadiskop UMKM NTB, Drs. H. Lalu Saswadi, MM, Kadisnakertrans NTB, H. Agus Patria, SH, MH. Sekdis PUPR NTB, Ir. H. Ahmadi, SP-1, Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol. Artanto, S.IK, MH. Ketua Asita NTB, Dewantoro Umbu Joka, Ketua Kehormatan PHRI NTB, I Gusti Lanang Patra, Ketua INCCA NTB, M. Nur Haedin, S.Sos, Pengamat Ekonomi, Dr. M. Firmansyah dan Kades Kuta, Mirate. Diskusi dipandu Penanggung Jawab Suara NTB, H.Agus Talino.

I Made Pari Wijaya menjelaskan, proses pembangunan Kawasan Mandalika melalui jalur yang berliku. Mulai dari pembebasan lahan pada tahun 1989, hingga pada akhirnya diserahkan kepada ITDC untuk mengelola sejak 2008.

Kemudian ITDC melakukan proses pengalihan semua dokumen-dokumen administrasi termasuk aset tanahnya. Setelah itu, ITDC mulai menyusun rencana induk yang merupakan landasan pembangunan Kawasan Mandalika.

Selanjutnya, rencana induk tersebut diturunkan dalam bentuk Detailed Engineering Design (DED) dan mulai dibangun infrastruktur di kawasan Mandalika. Awalnya, luas lahan ITDC 1.075 hektare. Saat ini, luas lahan yang dikelola sudah mencapai 1.168 hektare.

Wijaya menjelaskan, dalam rencana-rencana induk pengembangan Kawasan Mandalika, ITDC mengikuti kisah sukses yang pernah dilakukan dalam pengembangan Kawasan Nusa Dua, Bali. Bahwa pembangunan Kawasan Mandalika diawali dengan pembangunan infrastruktur.

Sebagai agent of development, ITDC membangun sarana prasarana atau infrastruktur dasar di atas lahan yang dimiliki. Sehingga, ITDC mampu menjual lahan siap bangun kepada para investor.

Wijaya mengibaratkan dalam membuat rencana induk Kawasan Mandalika seperti menguntai sebuah kalung. Selain menyiapkan tali kalungnya, juga harus dibuat liontinnya.

Dalam satu kalung, kata Wijaya, tidak hanya ada satu liontin. Tetapi ada beberapa buah  liontin. ‘’Itulah yang kami kembangkan di dalam rencana induk The Mandalika,’’ terangnya.

Pengembangan Kawasan The Mandalika dibagi dalam tiga zona. Yakni, zona Barat, Tengah dan Timur. Untuk zona Barat dibangun Kuta Beach Park, zona Tengah dibangun sirkuit MotoGP dan zona Timur dibangun resor seperti di Nusa Dua, Bali.

‘’Di sisi Barat adalah Desa Kuta dan sekitarnya. Zona Tengah, adalah area Pantai Serenting dan zona Timur adalah Pantai Aan,’’ jelasnya.

Dalam proses perjalanannya, hingga 2019, ITDC telah membangun  Masjid Nurul Bilad, sentra UKM dan sarana prasarana infrastruktur jalan di zona Barat dan zona Tengah. Dan juga ada sebagian di zona Timur. Serta ITDC juga telah membangun Kuta Beach Park sebagai ruang publik. Di zona Barat juga telah tersedia 780 kamar homestay.

 

Pembangunan kawasan The Mandalika mengusung konsep sport and entertainment destination. Sehingga kata Wijaya, ITDC mengembangkan unsur-unsur yang mendorong ke arah konsep tersebut.

Pembangunan sirkuit MotoGP di zona Tengah, kata Wijaya merupakan wujud dari konsep tersebut. Pihaknya meyakini dengan membangun sirkuit MotoGP di Mandalika. Dengan jumlah audiens yang mencapai 250 juta di seluruh dunia, diharapkan  mampu menjadi media promosi dan memperkenalkan Lombok di kancah internasional.

Sedangkan di zona Timur, lanjut Wijaya, ITDC mengembangkan destinasi-destinasi hotel berbintang lima ke atas. Dalam perjalanan pengembangan The Mandalika, dengan misi agent of development, ITDC mampu menggerakkan seluruh unsur. Mereka sadar bahwa dorongan itu muncul dari seluruh lini.

Pihaknya telah mengidentifikasi sebanyak enam proyek strategis yang dilaksanakan pada 2020 dan 2021 dalam rangka mendukung pelaksanaan MotoGP tahun depan dengan nilai sekitar Rp3,5 triliun.  Pertama, proyek jalan nasional yang menghubungkan Bandara Internasional Lombok ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Nilai proyeknya di atas Rp800 – 900 miliar.

Kedua, proyek infrastruktur paket I dari The Mandalika. Pendanaan sudah didapatkan ITDC  dari Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan nilai proyek  di atas Rp500 miliar. Ketiga, proyek infrastruktur paket II dari The Mandalika, yakni  membangun infrastruktur di sebelah Timur, atau di area Tanjung Aan dengan nilai proyek  di atas Rp500 miliar.

Keempat, proyek pembangunan Hotel Pullman. Di mana, ITDC sudah mendapatkan pendanaan untuk melanjutkan pembangunan Hotel Pulman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank. Lanjutan pembangunan proyek Hotel Pullman direncanakan kembali berjalan pertengahan tahun ini.

Kelima, kata Wijaya adalah proyek pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika. Selanjutnya, proyek pengendali banjir barat yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I.

‘’Kami perkirakan tahun 2020-2021, akan beredar investasi di sekitaran Lombok Tengah dan Mandalika hampir Rp3,5 triliun. Ini merupakan peluang yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat,’’ katanya.

Melalui proyek infrastruktur paket I dan II, ITDC menyiapkan sarana dan prasarana di kawasan The Mandalika. Mulai dari pembangunan  jalan, jalan setapak, taman, jaringan irigasi, jaringan air bersih dan jaringan listrik.

Selain itu, ITDC juga mendorong investor-investor yang sudah bekerjasama untuk membangun hotel, sarana dan prasarananya. Saat ini di kawasan The  Mandalika, sebut Wijaya,  ada tiga proyek yang sedang berjalan dibangun oleh investor. Seperti pembangunan Beach Park di LOT C5, pembangunan Hotel Pullman dan pembangunan Hotel Tastura milik Pemkab Lombok Tengah yang sedang dalam tahap konstruksi.

Selain itu, kata Wijaya, ITDC juga melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar. Setiap tahun dilakukan beberapa gelombang pelatihan untuk mengedukasi dalam mempersiapkan masyarakat sekitar menyambut event-event internasional maupun operasional dari The Mandalika nantinya. Mulai dari pelatihan pertukangan, pelatihan bahasa, pelatihan tata rias, pelatihan budidaya  jamur tiram untuk masyarakat di Gunung Prabu.

Daerah yang dulunya marak tambang emas ilegal, saat ini masyarakatnya sedang diberikan pelatihan untuk budidaya jamur tiram. Ia menyebut ada sekitar 100 peserta yang mengikuti pelatihan tersebut.

‘’Ke depan, ITDC akan melanjutkan program-program yang mampu meningkatkan kompetensi dan kapasitas masyarakat di desa penyangga,’’ katanya.

Terkait dengan pembangunan Sirkuit MotoGP Mandalika, saat ini dalam proses pengerjaan ground, pekerjaan tanah dan clearing dengan capaian 40 persen. ITDC juga sedang memfinalisasi desain untuk lapisan atas. Sehingga pelaksanaan pembangunan sirkuit MotoGP ini dapat diselesaikan pada awal atau triwulan I 2021. Sehingga pelaksanaan MotoGP Mandalika 2021 pada bulan Oktober dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar.

Dalam pelaksanaan pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika, kata Wijaya, ada beberapa kendala yang dihadapi. Terkait klaim kepemilikan  lahan dan pembebasan beberapa lahan enclave di KEK Mandalika. Pembangunan kawasan The Mandalika tak terlepas dari dukungan Pemerintah Pusat, Pemda Provinsi dan Pemda Kabupaten.

Yang menjadi barometer, atau pendorong utama adalah masyarakat di sekitar kawasan penyangga. ‘’Kami mohon instansi Pemda provinsi, kabupaten dan masyarakat sekitar, mari kita sama-sama bersinergi, bergandengan tangan membangun The Mandalika. Agar pembangunan The Mandalika dapat berjalan dengan cepat,’’ harapnya.

Menurutnya, ITDC akan fokus menyelesaikan target pekerjaan. Sehingga mencapai target waktu ditetapkan. Begitu juga masyarakat, diharapkan agar  mampu mengisi diri menyongsong operasional The Mandalika.

Wijaya mengajak semua pihak menyamakan persepsi untuk mengarah pada tujuan yang sama. Ia berharap semua pihak mengurangi opini-opini yang selalu menyalahkan ITDC.

‘’Karena kita semua mempersiapkan. Mulai dari ITDC, menyiapkan sarana prasarana infrastrukturnya, mencarikan investornya, mempromosikan Mandalika. Semua stakeholders terkait juga mempersiapkan infrastruktur pendukung sesuai  bidang masing-masing. Seperti PU, Perhubungan sering berkoordinasi dengan kami, pihak pengamanan, Dinas Pariwisata, PHRI, INCCA, akademisi. Mari bersinergi untuk mengarah ke terwujudnya MotoGP dan secara umum pembangunan The Mandalika,’’ ajaknya.

Dari sisi penyelesaian lahan, Wijaya menjelaskan ITDC sudah melakukan upaya tukar guling lahan. ITDC sudah mengajukan ke pemegang saham untuk persetujuannya. Pihaknya juga berkoordinasi dengan lembaga terkait.  Sehingga persoalan lahan ini diharapkan segara terselesaikan.

Terkait dengan kesiapan akomodasi, belum terbangunnya fasilitas hotel di Kawasan The Mandalika, Wijaya mengatakan ada beberapa skenario. Mengantisipasi kekurangan akomodasi pada pelaksanaan MotoGP Mandalika 2021, anak perusahaan ITDC, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) bersama stakeholders terkait akan menyiapkan tenda-tenda yang dilengkapi fasilitas toilet dan kamar mandi kelas hotel berbintang.

Kemudian pihaknya juga terus mendorong pembangunan homestay, tidak hanya di Lombok Tengah atau sekitar Kawasan The Mandalika. Tetapi juga di NTB secara keseluruhan.

Perlu dibangun sinergitas dengan Sumbawa dan Bali sebagai daerah penyangga Pulau Lombok. Sehingga dukungan akomodasi dapat diwujudkan.  Ia menyebutkan estimasi Dorna, sebagai pihak penyelenggara MotoGP, jumlah penonton diperkirakan sebanyak 150.000 orang selama tiga hari pelaksanaan MotoGP. Sehingga dalam sehari diperkirakan ada 50.000 penonton.

Mengenai kebutuhan tenaga kerja, Wijaya mengatakan semua akan berproses berdasarkan pengalaman dalam membangun Nusa Dua, Bali. Ketika hotel terbangun, maka kebutuhan tenaga kerja pasti akan meningkat.

Berdasarkan pengalaman membangun Nusa Dua, lanjut Wijaya, sekitar 20-30 persen masyarakat desa penyangga yang akan diserap perhotelan yang berada di dalam kawasan. Kemudian, 40-50 persen masyarakat Lombok, 15-18 persen masyarakat Indonesia dan 1-1,5 persen tenaga kerja asing.

Untuk lokasi UMKM, kata Wijaya, telah dibangun sebanyak 300 lebih lapak UMKM di Kawasan The Mandalika. Masyarakat  di desa penyangga terus didorong  meningkatkan kreativitas melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.

Begitu juga dari sisi transportasi. OTDC terus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan NTB dan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Untuk merencanakan sistem transportasi dalam rangka mendukung MotoGP Mandalika. Dukungan riil akan direalisasikan Kementerian Perhubungan pada awal tahun ini. Dan sudah dilakukan survei lapangan untuk pembangunan beberapa sarana dan prasarana.

Terkait pengembangan wisata Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Kawasan The Mandalika, Wijaya menjelaskan bahwa ITDC menyiapkan zona Timur. Zona Timur Kawasan The Mandalika akan dijadikan pusat MICE seperti di Nusa Dua, Bali.

Wijaya menambahkan, dari sisi marketing, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika menjadi salah satu magnet yang sangat kuat menarik investasi di kawasan tersebut. Bukan hanya menarik investasi di kawasan The Mandalika, tetapi juga kawasan penyangganya.

Kaitan dengan marketing ini, ITDC bersama MGPA telah merancang event pra-MotoGP pada 2020 ini. Telah direncanakan nonton bareng 19 seri MotoGP 2020. ‘’Itu merupakan bagian dari upaya kita mendorong demam dari MotoGP itu sendiri,’’ ujarnya.

ITDC bersama Pemda kabupaten dan provinsi mendorong pelaksanaan event-event internasional di Kawasan The Mandalika. Bahkan, kata Wijaya, dua bulan terakhir, ITDC kebanjiran tamu yang menyelenggarakan event di The Mandalika.

‘’Ini suatu bukti bahwa keberadaan Mandalika sebagai destinasi super prioritas dan Kawasan Ekonomi Khusus, sudah mampu menjadi daya tarik,’’ ujarnya.

ITDC juga terus menjalin komunikasi yang intens dengan Pemerintah Desa setempat. Sehingga kondisi keamanan dan kondusivitas di The Mandalika terus terjaga. Data curanmor turun drastis. Namun memang pada bulan-bulan tertentu masih ada kasus curanmor. ‘’Tapi tak seperti sebelumnya,’’ katanya.

Keberadaan The Mandalika juga dinilai mulai berpengaruh terhadap masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Dengan berkembangnya The Mandalika, sudah mulai berkembang usaha makanan, penyediaan jasa laundry, rumah kos untuk para pekerja di kawasan The Mandalika. Bahkan sudah berkembang supplier tanah dan material bangunan. ‘’Itu merupakan hal yang cukup positif kami lihat,’’ tandasnya.

Tak Boleh Gagal

Kepala Dinas Pariwisata NTB, H. L. Moh. Faozal, S. Sos, M. Si salut dengan progres pembangunan Sirkuit MotoGP yang sudah 40 persen. Ia mengatakan, gelaran MotoGP Mandalika 2021 mempertaruhkan nama bangsa dan negara.

‘’Ini pertaruhan Merah Putih. Bukan pertaruhan ITDC dan NTB. Tapi ini pertaruhan Merah Putih. Kalau sampai ini gagal, pertaruhannya adalah nama Merah Putih,’’ katanya.

Faozal mencontohkan seperti gelaran Formula E di Indonesia yang terancam gagal. Pemprov DKI Jakarta sudah membayar 8 juta euro untuk pelaksanaan event tersebut. Apabila penyelenggaraannya gagal, kemudian penyelenggara Formula E mengadukan ke pengadilan internasional. Maka negara harus membayar 50 juta euro.

Begitu juga apabila MotoGP Mandalika gagal. Maka Dorna akan keberatan ke pengadilan internasional. Untuk penyelenggaraan MotoGP Mandalika, ITDC telah membayar 9 juta euro untuk mendapatkan lisensinya.

‘’Oleh karena itu, pertaruhan kita adalah Merah Putih bersama ITDC. Ini waktunya kita berjibaku bersama ITDC. Maret (2021) kita janji bersama Dorna untuk dia cek race (sirkuit Mandalika) ini, untuk  uji coba,’’ katanya.

Faozal mengungkapkan, dengan digelarnya MotoGP di Mandalika, pergerakan ekonomi sudah luar biasa. Bahkan kamar-kamar hotel yang ada di Novotel sudah habis dipesan oleh agen perjalanan dari Italia.

Perkembangan pembangunan infrastruktur di kawasan The Mandalika, kata Faozal, sebenarnya harus lebih jauh dari yang terlihat sekarang ini. Pada 2019, sebenarnya sudah harus ada tambahan 1.900 kamar hotel di The Mandalika.

Karena beberapa tahun sebelumnya sudah diluncurkan pembangunan Hotel Pullman, Royal Tulip dan Paramount. Namun pembangunan tiga hotel tersebut tak berjalan sesuai ekspektasi awal.

Gelaran MotoGP di Mandalika, sebenarnya tak pernah didesain dari awal. Bahwa pada 2021, Indonesia menjadi tuan rumah MotoGP di Sirkuit Mandalika. Ia berharap, capaian pembangunan di The Mandalika jauh lebih dahsyat, bukan pembangunan pagar keliling saja yang terlihat.

Justru yang dahsyat sekarang, kata Faozal, pembangunan sarana prasarana akomodasi di daerah penyangga ITDC. Walaupun ada daerah penyangga seperti di Mawun yang masih banyak investasi yang menggantung.

Hal ini harus segera dicarikan formulanya dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.  Bagaimana agar investasi di Mawun yang sudah tertahan hampir 20 tahun, harus segera ditetapkan. Apakah investasi ini tetap tidur, tidak ada progresnya atau harus kita tutup.

‘’Bagi kita, daerah penyangga sudah luar biasa pergerakannya. Investasi mandiri sudah luar biasa. Yang menjadi catatan, bagaimana investasi di dalamnya yang dikelola oleh ITDC,’’ tanyanya.

Faozal menyoroti mandeknya pembangunan Hotel Pullman karena kasus sengketa tanah. Sehingga pembangunannya dihentikan sementara. Kemudian pembangunan Hotel Paramount baru sebatas tiang pancang. Sementara pembangunan Hotel Royal Tulip, investornya tak jadi membangun.

Namun demikian, dibandingkan dengan lima destinasi super prioritas di Indonesia, kata Faozal, progres pembangunan kawasan The Mendalika memang nomor satu. Namun bagi masyarakat NTB yang melihat pembangunan di sana, ekspektasinya masih jauh dari apa yang dilihat hari ini.

Faozal menuturkan belum lama ini bertemu manajemen Silk Air yang selama ini membuka penerbangan langsung Singapura – Lombok. Penerbangan langsung Singapura – Lombok akan digantikan maskapai Scoot, anak usaha Singapore Airlines Group.

Faozal meminta agar maskapai Singapore Airlines yang melayani penerbangan langsung Singapura – Lombok. Tetapi manajemen Singapore Airlines mengatakan bahwa barometer mereka membuka penerbangan langsung ke Lombok adalah perkembangan kawasan The Mandalika. Mereka melihat perkembangan The Mandalika masih sama dengan setahun yang lalu, belum ada perkembangan.

Belum memadainya akomodasi di Mandalika juga berpengaruh terhadap jumlah peserta yang diterima mengikuti event L’Etape Indonesia by Tour de France,  5 April mendatang. Panitia sudah menutup pendaftaran dengan jumlah peserta sebanyak 1.300 orang dari seluruh penjuru dunia.

Peserta yang ikut sebenarnya sebanyak 1.500 orang. Namun terpaksa pendaftaran harus ditutup dengan jumlah peserta sebanyak 1.300 orang, karena jumlah kamar hotel tak mendukupi di kawasan Mandalika dan sekitarnya.

‘’Kalau tambah jadi 1.500 orang, maka saya harus siapkan shuttle bus dari Senggigi menuju Mandalika,’’ kata Faozal.

Menurut Faozal jenama (merek) Mandalika sebagai destinasi super prioritas sudah sangat luar biasa. Namun, belum didukung jumlah kamar hotel yang memadai, karena masih sangat kurang.

Selai itu, Faozal menekankan agar ITDC dapat melakukan pemeliharaan kawasan The Mandalika dengan baik. Apalagi sebentar lagi The Mandalika menjadi tuan rumah L’Etape Indonesia by Tour de France.

Di samping itu, Mandalika juga mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Kawasan Mandalika mendapatkan pengurangan pajak. Kemudian ada stimulus diskon harga tiket pesawat untuk 10 destinasi super prioritas, salah satunya Mandalika.

‘’Begitu perhatiannya pusat kepada kita. Jangan sampai pembangunan  jalan di tempat. Kita bukan tak punya barangnya. Punya barang,  tapi kita yang harus lebih konkret lagi dengan ITDC,’’ ujarnya.

Berkaitan dengan lama tinggal penonton MotoGP, Faozal menyebut antara 6 – 7 hari. Tiga hari mereka menonton event MotoGP, dan tiga hari melaksanakan aktivitas di luar event tersebut. Artinya, hal itu menjadi peluang bisnis bagi dunia pariwisata NTB. Hal ini menjadi momentum yang bagus bagi para pelaku wisata di NTB untuk didiskusikan bersama. Apa yang bisa dilakukan untuk mengisi peluang tersebut.

Mengenai adanya anggapan bahwa pengembangan Mandalika terkesan meninggalkan wisata MICE. Faozal menjelaskan bahwa pengembangan wisata MICE tidak ditinggalkan di Mandalika. Apabila Mandalika head to head mengembangkan wisata MICE dengan Nusa Dua, maka pasti Mandalika akan jauh di bawah. Baik dari sisi fasilitas maupun daya dukung yang lain. Sehingga Pemda, ITDC dan Kemenpar mendesain pengembangan sport tourism di Mandalika.

‘’Ketika kita tak bisa mendesain MICE sebagai jualan Mandalika. Maka pilihan satunya adalah kita dorong Mandalika sebagai destinasi sport tourism internasional,’’ terangnya.

Menurut Faozal, itulah yang mendorong Mandalika lebih konsen pada pengembangan sport tourism. Ia berharap dalam pengembangan Mandalika, ITDC tak sekadar mengacu bahwa pengembangan Mandalika disandingkan dengan Nusa Dua, Bali. Karena antara Mandalika dan Nusa Dua banyak hal yang berbeda. Baik kultur, core bisnis dan luas wilayahnya.

‘’Saya kira konsep yang menyandingkan dengan Nusa Dua, pada saatnya kita harus move out. Bahwa ada sesuatu yang membedakan Mandalika dan Nusa Dua. Kalau terus menerus ini Nusa Dua dan Mandalika,  tak akan selesai,’’ katanya.

Ia mengajak ITDC mendiskusikan lebih intens. Bagaimana diformulasikan secara lebih konkret menuju gelaran MotoGP 2021.

Menurutnya persoalan sosial yang ada di kawasan Mandalika, terkait pedagang asongan perlu segera diselesaikan dan dicarikan solusinya. Persoalan anak-anak yang jualan di Kawasan The Mandalika harus diselesaikan dengan duduk bersama semua pihak. Karena anak-anak yang jualan di sana bukan saja dari Desa Kuta, tetapi juga berasal dari Rembitan, Sukadana dan daerah lainnya di Lombok Tengah.

Untuk penyiapan akomodasi di daerah-daerah penyangga, Faozal menyebutkan Pemprov NTB mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat pada 2020. Akan dibangun 150 homestay di daerah-daerah penyangga Mandalika.

Menyongsong MotoGP Mandalika 2021, toilet dan kamar kecil di daerah penyangga perlu diperhatikan. Jangan sampai nanti para pengunjung yang menyaksikan MotoGP Mandalika sulit mencari toilet yang bersih.

Menyambut MotoGP 2021, lanjut Faozal, promosi, peningkatan kualitas SDM dan membangun konektivitas juga menjadi perhatian penting. Pihaknya meyakinkan maskapai penerbangan agar membuka penerbangan langsung dari berbagai negara ke Lombok. Dan mulai tahun ini, kapasitas terminal penumpang Bandara Internasional Lombok juga akan ditingkatkan menjadi dua kali lipat, dari kapasitas 3,5 juta penumpang setahun.

Sebelum perhelatan MotoGP Mandalika 2021 mendatang, Pemprov NTB bersama ITDC merencanakan studi banding ke Thailand dan Malaysia. Untuk mendapatkan mendapatkan pembelajaran mempersiapkan diri sebagai tuan rumah MotoGP 2021.

Pada Maret mendatang akan ada event MotoGP di Sirkuit Buriram Thailand. NTB penting ke Thailand karena karakter sirkuit Buriram hampir sama dengan Sirkuit Mandalika.

Dari sisi aksesibilitas, kata Faozal, NTB unggul. Karena jarak Sirkuit Buriram dari Bangkok sekitar 80 km. Namun, dalam kemasan pariwisata cukup rapi. Karena mereka jauh lebih tinggi kelasnya dalam pengelolaan manajemen kepariwisataan.

Kemudian pada Oktober mendatang, akan ada gelaran MotoGP Sepang Malaysia. Faozal mengatakan sudah ada komunikasi dengan Dorna mengenai waktu pelaksanaan MotoGP Mandalika 2021. Apabila berhasil meyakinkan Dorna, maka gelaran MotoGP Mandalika akan dilaksanakan setelah MotoGP Thailand.

‘’Kenapa kita kejar setelah perhelatan di Sirkuit Buriram. Karena pebalap masih segar. Mereka masih baru mulai race. Kalau kita kejar setelah MotoGP Sepang, maka waktu kita agak pendek. Tapi kita ingin sebelum Sepang. Supaya lama tinggal bisa kita jaga. Itu hitung-hitungan pariwisata kita bersama MotoGP,’’ jelasnya. (nas)