Pertahankan Lahan Kantor Desa, Masyarakat Gunungsari Pasang Badan

Warga mendatangi kantor desa dan kemudian menjaga kantor tersebut untuk dipertahankan dari upaya eksekusi, Senin, 11 Oktober 2021. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Warga Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat (Lobar), kembali berjaga-jaga di kantor desa setempat, menyusul informasi yang diperoleh warga, jika lahan akan kembali dieksekusi. Namun eksekusi yang dijadwalkan berlangsung Senin, 11 Oktober 2021 batal dilakukan oleh Pengadilan Negeri Mataram, karena tim pengadilan tidak ada yang datang.

Pada surat PN Mataram nomor W25-U1/4961/HK.02/9/2021 tanggal 23 September 2021 yang diterima Pemdes Gunungsari, menerangkan eksekusi lanjutan/pembongkaran bangunan yang berdiri di atas lahan sengketa berdasarkan hasil putusan PN Mataram, Pengadilan Tinggi hingga Mahkamah Agung MA). Eksekusi itu dilangsungkan pada 11 Oktober 2021 pukul 09.00 wita. Surat itupun ditandatangani oleh Ketua PN Mataram, Sri Sulastri.

Iklan

Sayangnya  surat itu ternyata tanpa ada tembusan kepada Polresta Mataram, sehingga tak mengetahui adanya rencana eksekusi itu. Padahal harusnya ada tembusan, sekaligus meminta pengawalan untuk keamanan.

Meski demikian hingga waktu yang diterangkan surat itu, pihak pengadilan tak kunjung hadir bersama pihak penggugat. Bahkan warga Gunungsari sudah lebih dulu hadir sebelum waktu surat itu. Polsek Gunungsari pun mengaku tak pernah menerima tembusan surat dari pengadilan soal eksekusi hari itu.

Berdasarkan pantauan koran ini, warga tetap menunggu eksekusi itu meski lewat dari waktunya. Sebab warga tetap ingin mempertahankan lahan aset desa yang sudah ada sejak puluhan tahun lamanya. Sayangnya warga terpaksa diimbau untuk membubarkan kerumunan oleh kepolisian dengan alasan pandemi Covid-19.

Bahkan Kapolsek Gunungsari, Iptu Agus Eka meyakinkan warga kemungkinan tak akan ada eksekusi hari itu. Sebab tak ada tembusan surat untuk eksekusi itu yang diterima pihaknya. “Kita imbau barusan untuk tidak berkumpul karena belum ada pemberitahuan. Belum ada (surat),” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dusun Lendang Bajur, Desa Gunungsari, H. Hamdi mengaku kecewa dengan pengadilan yang dinilai memutusakan sepihak sengketa itu. Karena itulah mengapa warga Gunungsari berbondong-bondong datang mengamankan aset itu. “Ini bentuk apresiasi masyarakat kita, untuk mempertahankan lahan aset desa,” ujarnya.

Menurutnya jika ada pemberitahuan penundaan ekeskusi itu tidak mungkin warganya akan datang berbondong-bondong. Bahkan Kapolsek pun mengaku tak pernah menerima tembusan untuk eksekusi itu. Para warga rela meninggalkan kerjaannya demi pengamanan aset itu.

Bukan tanpa alasan mengapa seluruh warga desa Gunungsari mati-matian mempertahankan lahan aset desa itu. Sebab seluruh warga sudah tahu sejarahnya lahan itu yang dulu ahli waris menukar dengan tanah desa yang ada di Belencong pada tahun 1961. Tanah yang sudah ditukar di Belencong itu sudah dijual oleh ahli waris pada 1967.  (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional