Pertahankan Aset Kantor Desa, Masyarakat Gunungsari Siap Pasang Badan

Kades Gunungsari, M. Maliki menunjukkan pernyataan ahli waris.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Masyarakat Gunungsari Lombok Barat (Lobar) siap pasang badan untuk mempertahankan aset kantor desa yang kini digugat oleh warga. Untuk mempertahankan lahan yang diketahui khalayak sebagai aset desa itu, masyarakat siap turun ketika ada putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA). Warga juga berencana melakukan istigotsah dan meminta ahli waris (penggugat) melakukan sumpah disaksikan warga dan tokoh agama setempat.

‘’Pasalnya warga menemukan beberapa kejanggalan dalam sengketa ini, bahkan pada, 24 September 2020.

Iklan

Pihaknya saat ini menunggu salinan putusan Kasasi dari MA. Begitu ada putusan Kasasi jelas dia, masyarakat akan turun. Bukan hanya warga desa Gunungsari, namun semua warga desa lain seperti Dopang, Taman Sari, Guntur Macan. Karena masyarakat sendiri tahu silsilah dan sejarah lahan ini.

Warga bersama tuan guru akan mengadakan istigotsah dan mengambil sumpah ahli waris yang menggugat.”Kalau masyarakat maunya turun, tapi kami menghormati proses hukum selama ini,” ujarnya.

Pihaknya mengaku beberapa kejanggalan selama menghadapi sengketa, seperti  pipil yang dimiliki penggugat terkait batas-batas lahan itu. Setelah ditelusuri, pipil ini diduga terbit pada saat hari libur (Hari Libur Idul Adha). “Tidak mungkin suatu dinas, instansi tandatangani berkas di hari libur,”kata dia penuh tanya.

Di samping itu, sporadik lahan itu dibuat oleh sekretaris desa (sekdes) tahun 2015 lalu. Karena kades saat itu tidak berani membuat sporadik. Mantan sekdes ini pun sudah membuat surat pernyataan mengugurkan surat sporadik tersebut. “Tapi itu tidak diperhatikan oleh pengadilan),”tegas dia.

Pihaknya juga merasa janggal, putusan pengadilan yang diulur-ulur diberikan ke desa.  Selain itu, pihaknya akan menggugat balik penggugat. Karena berbekal ada surat pernyataan bersangkutan bermaterai terkait silsilah terjadinya pertukaran tanah kebun dengan tanah sawah untuk lapangan.

Ia menegaskan, bahwa lahan tersebut merupakan tanah desa, namun diakui belum ada bukti kepemilikan yang dipegang baik sertifikat. Pihak desa hanya memegang keterangan ahli waris terkait lahan tersebut. termasuk tokoh-tokoh masyarakat. Lahan yang memiliki luas 62 are tersebut sudah dikuasai oleh desa selama 51 tahun. Dulunya lahan ini ditempati Sekolah Rakyat (SR) dan Polsek Gunungsari. (her)