Perpustakaan Nasional Bina 164.610 Perpustakaan Se Indonesia

Deni Kurniadi

Tanjung (Suara NTB) – Kementerian Perpustakaan Nasional RI berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju dan berdaya saing. Hal ini sejalan dengan visi misi RPJMN 2020-2024 dimana literasi ditempatkan sejajar dengan inovasi dan kreativitas.

Deputi Bidang Sumber Daya Perpustakaan – Perpustakaan Nasional, Deni Kurniadi, di sela-sela peresmian Gedung Dinas Perpustakaan Kabupaten Lombok Utara (KLU), Jumat, 14 Januari 2022 mengungkapkan, jumlah perpustakaan binaan diupayakan untuk ditambah setiap tahunnya. Hal ini untuk mendukung literasi masyarakat agar tercapai peningkatan sumber daya manusia dan indeks literasi masyarakat.

Iklan

“Saat ini tercatat sejumlah 164.610 perpustakaan yang menjadi binaan perpustakaan nasional,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, jumlah UU Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, mengatur jenis perpustakaan terdiri dari perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, dan perpustakaan umum di dinas-dinas dan kecamatan, perpustakaan desa, dan perpustakaan khusus. Perpustakaan khusus ini berada di lingkup lembaga Kementerian, lembaga DPRD, OPD, perpustakaan rumah ibadah, serta perpustakaan pondok pesantren.

Deni menyebut, untuk saat ini belum seluruh kecamatan dan desa memiliki perpustakaan. Dari 8.000 kecamatan, pihaknya mencatat hanya 800 perpustakaan kecamatan yang sudah terbentuk. Selanjutnya perpustakaan desa, dari 80.000 desa, tercatat jumlah perpustakaan desa sebanyak 23 ribu perpustakaan desa di seluruh Indonesia.

“Jadi tugas kita adalah bagaimana menciptakan rasa aman, menciptakan kecerdasan, mensejahterakan dan ikut dalam perdamaian dunia. Kita bersama-sama, tidak hanya pusat tetapi juga Pemda,” pesan Deni.

Dalam melaksanakan tupoksi perpustakaan, sambung dia, fungsi yang melekat adalah sebagai perpustakaan deposit, perpustakaan kelestarian, sebagai tempat penelitian dan pusat jejaring perpustakaan.

Tentu saja, imbuh dia, dalam RPJMN 2020 -2024 menempatkan literasi sejajar dengan inovasi dan kreativitas sebagai pilar penting guna wujudkan masyarakat Indonesia yang maju dan berdaya saing.

Ia mendorong pula, agar inovasi perpustakaan menempatkan visi inovasi perpustakaan pada konsep perpustakaan digital. Pasalnya, generasi milenial berbeda dengan generasi kolonial. “Generasi yang sudah sepuh, kolonial, sukanya membaca hardcopy, tapi milenial mengandalkan handphone.”

“Kita berusaha masuk ke sana lewat program digitalisasi perpustakaan lewat alih media. Kami juga bermitra dengan kementerian terkait, dengan Polri, STIK, untuk membuka akses berbagai bacaan tanpa harus datang ke perpustakaan,” pungkasnya. (ari)

Advertisement