Perpustakaan Berbasis Inklusi Harus Dijadikan Prioritas

Suasana diskusi daring terkait Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di NTB, Jumat, 24 Juli 2020. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadi fokus Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB dan Dinas Perpustakaan Kabupaten/Kota di NTB, sehingga mampu meningkatkan literasi masyarakat. Namun, belum semua kabupaten/kota di NTB mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini.

‘’Untuk itu, mari tanamkan dalam hati dalam-dalam, bahwa perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah sesuatu unggulan kita di kabupaten/kota, terutama pada kabupaten/kota yang sudah menerapkan sejak awal dan sekarang sedang mengembangkan,’’ ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB Dr. Ir. H. Manggaukang Raba, MM., saat membuka Diskusi Daring Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di NTB, Jumat, 24 Juli 2020.

Iklan

Menurutnya, di NTB sudah ada beberapa daerah yang sudah mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi digital, yakni Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, Kabupaten Bima, Lombok Tengah dan Kabupaten Sumbawa Barat. Untuk itu, pihaknya berharap kegiatan ini bisa berkembang di seluruh kabupaten/kota di NTB. Daerah yang belum mengembangkan diharapkan segera meniru daerah yang lebih dahulu perpustakaan berbasis inklusi digital.

Selain itu, tambahnya, untuk bisa mendirikan perpustakaan berbasis inklusi sosial, pemda kabupaten/kota diharapkan mulai mengembangkan perpustakaan desa. Perpustakaan desa inilah nanti yang akan menjadi awal untuk mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial, sehingga perlu dukungan bersama untuk pengembangan program ini. Bahkan, saat melakukan kunjungan ke kabupaten/kota di NTB, dirinya menyempatkan diri meninjau kondisi perpustakaan yang ada, baik perpustakaan di tingkat kabupaten hingga desa.

‘’Untuk itu, saya minta agar pemerintah kabupaten/kota agar memperhatikan perpustakaan  yang ada di daerah. Kita bina, kita kembangkan, kemudian kita transformasikan, sehingga menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial,’’ ujarnya, seraya menambahkan, upaya mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini bisa dimulai dari desa.

Mantan Kepala Biro Perekonomian Setda NTB ini juga berharap kabupaten yang sudah mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial berbagi ilmu dengan daerah lain, sehingga keinginan semua kabupaten/kota di NTB punya perpustakaan berbasis inklusi sosial bisa terwujud.

Pada bagian lain dirinya menginginkan agar semua desa pusat kegiatannya ada di perpustakaan. Dalam mewujudkan semua ini, semua pihak harus mencintai perpustakaan desa dan setelah itu mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Paling tidak kegiatan yang melibatkan masyarakat, seperti kegiatan pemuda, wanita, kebudayaan dan kesenian bisa digelar di perpustakaan desa.

‘’Karena itu kita sebagai pembina perpustakaan tolong dibina dasarnya itu. Kita perkuat data kita tentang perpustakaan desa, mana yang aktif mana yang tidak. Mudah-mudahan ke depan, perpustakaan menjadi poin/strategi penting bagi setiap daerah dijadikan prioritas dalam pembangunan di daerahnya masing-masing,’’ harapnya.

Dalam diskusi itu juga menghadirkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Utara Ir. Lalu Musta’in, MM., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bima, Basyirun, SPd., MPd., dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Timur  Lalu Nasrun, SIP., MM. (ham)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here