Perpanjangan PPKM Gerus Omzet Pedagang Mutiara

H. Fauzi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pandemi Covid-19 yang sudah memasuki tahun kedua turut menjadi pukulan bagi para pedagang mutiara. Ditambah lagi kebijakan PPKM mengakibatkan omzet terus tergerus, sampai 75 persen. Seperti dijelaskan Ketua Asosiasi Pearl Provinsi NTB, H. Fauzi, tergerusnya omzet para pedagang mutiara ini bisa digambarkan dalam transaksi harian di Sekarbela, Kota Mataram yang menjadi pusat perhiasan dan mutiara di NTB.

Saat tidak corona (kondisi normal), transaksi emas perhiasan dan mutiara bisa mencapai Rp10 miliar. Didukung dengan  penjualan emas gelondongan hasil-hasil tambang rakyat. Saat ini, diproyeksikan hanya Rp1 miliar uang berputar. Dalam kondisi normal, kita juga bisa menjumpai ramainya wisatawan yang bertransaksi dan berkunjung ke Sekarbela. Saat ini sepi, bus-bus wisatawan juga sudah tak lagi terlihat.

Iklan

H. Fauzi mengatakan, para perajin emas dan mutiara juga banyak beralih profesi menjadi pekerja serabutan. Pekerjaan inti sebelumnya sebagai perajin, ditinggalkan karena keadaan di masa covid-19 ini. Selama pandemi Covid-19 ini, omzet penjualan mutiara turun sampai 75 persen. Sepinya pembeli salah satunya dipicu karena pembatasan pergerakan orang dan perpanjangan terus menerus PPKM. Setelah PPKM dilonggarkan, terjadi kenaikan omzet menjadi 40 persen.

“Kita butuh dukungan semua, pemerintah terutama sekali agar perekonomian masyarakat kembali normal,” ujarnya. Mutiara merupakan salah satu produk unggulan daerah dan adanya potensi perajin di daerah ini menurutnya turut memegang peranan penting daam mengangkat nilai jual produk kerajinan mutiara.  Masyarakat dunia sudah mengelan bahwa south sea pearl / mutiara laut selatan itu ada di Indonesia. dan penghasil terbesarnya berada di NTB. Dan pusat pelaku perdagangannya ada di Kota Mataram.

Untuk mendukung eksistensi perajin dan pedagang mutiara ini, Pemkot Mataram memberikan fasilitas ruang untuk kegiatan produksi, pameran, sekaligus tempat edukasi di Mataram Craft Center (MCC). Ruang ini dapat dimanfaatkan oleh pedagang mutiara menjadi sekretariat asosiasi Pearl NTB. Rencananya, selain untuk kepentingan bisnis, Asosiasi Pearl NTB akan menjadikannya sebagai pusat edukasi dan pintu masuk bagi wisatawan yang berbelanja. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional