Perolehan Sementara, PAN-PKS-Gerindra Diperkirakan Kuasai Dapil NTB I

Ilustrasi Pemilu 2019 (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pertarungan perebutan kursi wakil rakyat DPR RI di Dapil NTB I (Pulau Sumbawa) berlangsung cukup dinamis. Terbatasnya alokasi kursi di Dapil NTB I yang diperebutkan oleh 16 partai politik, membuat persaingan menjadi sangat ketat, baik antar Parpol maupun Caleg. Tiga Parpol, yaitu PAN, PKS dan Gerindra diperkirakan akan tampil mengantarkan kadernya mewakili Dapil ini.

Jumlah kursi yang diperebutkan di Dapil I NTB ada tiga kursi. Saat ini, dari perolehan suara sementara sejumlah Parpol yang diolah dari berbagai sumber,  memperlihatkan adanya empat Parpol yang memiliki kans besar merebut tiga kursi anggota DPR RI di Dapil ini. Parpol tersebut PAN, PKS, Gerindra dan PPP.

Iklan

Dari data rekapitulasi hasil Pileg DPR RI 2019, internal PKS sendiri memperlihatkan saat ini posisi tiga besar perolehan suara di Dapil I Pulau Sumbawa, ditempati oleh PAN, PKS dan Gerindra. Adapun Caleg yang potensial melenggang ke Senayan dari ke tiga partai itu dilihat dari perolehan suara masing-masing yakni, H. M. Syarifudin, ST, MM, yang memimpin perolehan suara Caleg di PAN. Di Gerindra, perolehan suara tertinggi sementara diraih oleh H. Zainul Arifin, dan di PKS sendiri, Johan Rosihan masih kejar-kejaran dengan Hj. Ferra Amelia.

‘’Di Dapil Pulau Sumbawa, kalau melihat data yang sudah masuk dipusat tabulasi kami, insya Allah kita bisa dapat satu kursi.  Kalau ini tidak terjadi perubahan besar, maka kita bisa utus dua kader ke DPR RI dari NTB. Adapun Caleg yang bersaing di sini antara Pak Johan Rosihan dan Ibu Ferra Amalia,’’ kata Ketua DPW PKS NTB, H. Abdul Hadi.

Sementara itu, H. M. Syafrudin, saat dikonfirmasi Suara NTB, mengaku memperoleh gambaran yang kurang lebih serupa dengan hasil yang tampak dalam hitungan internal PKS. Ia optimis, PAN dapat mengunci satu kursi dari Dapil NTB I. Ia juga dirinya optimis akan meraih kursi, jika melihat perolehan suara pribadinya yang sudah masuk sementara ini cukup signifikan.

Hingga Selasa, 23 April 2019 malam, Syafrudin menyebutkan perolehan suara pribadinya sudah mencapai 51.933 suara dari 407 TPS yang dihimpun. ‘’Sekarang sisa 133 TPS dan persentase suara yang masuk 75,37 persen,’’ ujarnya. Perolehan suara pribadinya tersebut masih akan bertambah dengan adanya TPS yang belum dihitung. Belum lagi perolehan Caleg PAN lainnya dan perolehan suara partai.

Di tempat terpisah, Caleg DPR RI dari PPP, Nurdin Ranggabarani, SH, MH juga masih menyuarakan optimisme menyangkut perolehan suara sementara. Kader partai berlambang Ka’bah ini yakin dirinya akan masuk posisi tiga besar.

Nurdin mengatakan, dari 95 persen data C1 yang sudah direkap di Kabupaten Sumbawa saja, ia merajai perolehan suara. Nurdin memimpin perolehan suara di Sumbawa dari semua Caleg lintas Parpol. Begitu juga dengan di KSB, Nurdin mengatakan bahwa perolehan suaranya tertinggi dari Caleg lain.

‘’Untuk Sumbawa dan KSB kami tinggal menunggu pleno KPU saja. Sehingga tanpa mendahului KPU, PPP tetap optimis bisa raih satu kursi,’’ katanya.

Sementara itu di Dompu dan Bima sendiri, suara PPP saling kejar-kejaran dengan Gerindra dan PAN. Dari hasil rekapitulasi sementara, di tiga Kecamatan di Dompu yakni Kecamatan Kempo, Woja dan Manggelewa. Nurdin  meraih suara yang tinggi mengungguli Caleg lain.

Di Manggelewa , Nurdin mengaku menang besar di dua desa, meninggalkan calon lain sementara di tempat lain suara masih terus bergerak dinamis. Di Kecamatan Woja dan Kempo yang sudah memperlihatkan dukungan sebelum  pemberian suara 17 April lalu, kelihatan konsistensi mereka dengan kemenangan yang diberikan saat rapat pleno di dua kecamatan ini.

Tiga Caleg PKS

Sementara itu, kandidat partai yang akan memperoleh kursi di Dapil II NTB, yakni Pulau Lombok juga sudah mulai mengerucut. Dari data C1 yang diolah oleh PKS menunjukkan, partai yang memperoleh dukungan terbesar dimiliki oleh Partai Gerindra. Bambang Kristiono, Caleg nomor satu Gerindra ini menjadi peraih suara terbanyak dan disusul Caleg Petahana, H. Willgo Zainar.

‘’Peraih suara ke dua, disusul PKS, dengan tiga Caleg bersaing ketat memperebutkan kursi milik partainya, yakni Suryadi Jaya Purnama, Lalu Suryade dan Usmar Iwan Surambian,’’ kata Abdul Hadi. Peraih suara ke tiga ditempati Golkar dengan Caleg yang bersaing ketat yaitu Humaidi dan Sari Yuliati. Posisi ke empat ditempati Nasdem, dengan prediksi berdasarkan perolehan suara dari tabulasi PKS, diprediksi M. Syamsul Luthfi melenggang ke Senayan.

Masih berdasarkan rujukan  data  PKS, peraih suara ke lima ditempati oleh PKB, dengan Caleg Helmy Faishal Zaini peraih suara terbanyak. Namun demikian, dari tim Sulhan Muhlis menyebutkan bahwa peraih suara terbanyak di tempati oleh Sulhan. ‘’Kita paling tinggi, dan Helmy nomor dua, meskipun selisih tipis,’’ kata Herman, tim sukses Sulhan kepada Suara NTB, tanpa mau menyebutkan detail angka perolehan suara Sulhan.

Kemudian PDIP dengan Caleg H. Rachmat Hidayat menempati posisi ke enam perolehan suara partai. Posisi ke tujuh dikunci oleh Partai Demokrat, yang kemungkinan akan mengirim kembali Caleg Petahana, Nanang Samodra.

Sedangkan kursi posisi ke delapan, untuk memperebutkan kursi terakhir Dapil Lombok, PPP dengan Caleg peraih suara terbanyak, Hj. Wartiah. Namun, Caleg DPR RI Petahana dari PPP, Hj. Ermalena juga menyuarakan optimisme serupa. Ketua Relawan Ermalena For Senayan, Muhammad Wafi Nur Tsani mengemukakan, pihaknya optimis Ermalena akan tampil sebagai peraih kursi DPR RI Dapil NTB II.

‘’Kami dari tim relawan Ermalena sangat bersyukur bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses yang sudah sekian lama kami lakukan. Semenjak dilantik menjadi DPR RI, Bunda Hj. Ermalena selalu menyapa dan turun langsung ke masyarakat,’’ katanya.

Sementara itu, dari PAN, Ketua DPW PAN NTB, H. M. Muazzim Akbar, juga masih menyimpan kans untuk terpilih di Pemilu 2019 ini.

Dari data terpisah yang diperlihatkan oleh hasil rekapitulasi sementara yang beredar di 579 TPS di Kabupaten Lombok Utara (KLU)  memperlihatan bahwa Gerindra memimpin, dengan perolehan suara sebesar 18.959. Kemudian disusul berturut-turut PDIP, 14.251 suara, Golkar, 12.402 suara, PKB, 9.079 suara, PPP, 8.686 suara. Demokrat, 7.997 suara, PAN, 6.228 suara, PKS, 5.857 suara dan terakhir Nasdem, 5.558 suara.

Adapun Caleg yang peraih suara terbanyak di masing-masing partai di KLU, yakni Bambang Kristiono dari Gerindra, dengan suara 7. 276 suara, Rachmat Hidayat, 5.386 suara. Sari Yuliati, 4.528 suara. Helmy Faishal Zaini, 3.239 suara, Wartiah, 3.035 suara, Nanang Samodra, 2. 112 suara, Muazzim Akbar, 1.558 suara, Suryadi Jaya Purnama, 1.884 suara, dan Kurtubi, 1.529 suara.

Sukisman Teratas

Dalam penghitungan suara sementara calon Anggota DPD RI Dapil Provinsi NTB, H. Ahmad Sukisman Azmy disebut-sebut menjadi kandidat dengan perolehan suara terbanyak. Meski bersifat sementara, melejitnya perolehan Sukisman juga diakui sesama calon Anggota DPD RI lainnya. Sejumlah kandidat lainnya diperkirakan akan berebut tiga jatah kursi DPD RI yang tersisa dari Dapil NTB.

Gambaran itu diperoleh dari hasil sementara perolehan suara yang dihimpun Suara NTB dari berbagai sumber, hingga Selasa, 23 April 2019. Dari data yang dihimpun, terlihat ada enam calon yang punya tren pergerakan perolehan suaranya cukup signifikan dan terus saling kejar-kejaran untuk menempati posisi perolehan suara empat besar.

Enam calon anggota DPD tersebut yakni H. Ahmad Sukisman Azmy, H. Irzani, M.Si, Baiq Diyah Ratu Ganefi, Evi Apita Maya, Lalu Gede Syamsul Mujahidin dan Farouk Muhammad. Sementara dua calon petahana yakni H. Lalu Suhami Ismy dan Hj. Robiatul Adawiyah memiliki tren suara yang stagnan dengan selisih cukup jauh dari enam calon lainnya di atas.

Calon anggota DPD RI nomor urut 30, H. Irzani, M. Si yang dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 23 April 2019 juga tak menampik enam nama yang saat ini posisi suara saling berkejaran untuk mengunci posisi empat besar. ‘’Ya, di data kita juga memperlihatkan hal seperti itu,’’ katanya.

Dari data yang diperoleh Suara NTB, yang diolah dari berbagai sumber memperlihatkan bahwa Irzani telah menumpulkan suara mendekati angka 100 ribu suara. Perolehan suara Irzani tersebut menempati posisi urut dua di bawah suara Ahmad Sukisman Azmy yang berada pada urutan pertama dengan perolehan suara sudah di atas angka seratus ribuan lebih.

‘’Untuk hari ini, sepertinya urutan pertama Pak Sukisman Azmy,  terus kita di posisi kedua. Lalu di bawah saya ada Ibu Diyah Ratu Ganefi. Tapi data ini terus bergerak, kita kejar-kejaran suaranya, jadi belum bisa kita klaim siapa yang unggul,’’ kata Irzani.

Namun demikian, ia optimis suaranya akan menembus 100 ribu lebih sehingga berhasil mengunci kursi DPD. Sebab dari data internalnya, suara dari beberapa kabupaten kota belum masuk.

Ditegaskan Irzani, meskipun telah beredar perolehan suara masing-masing, yang berasal dari data yang diolah oleh masing-masing calon, menurutnya hal  itu tidak bisa menjadi rujukan. Karena itu ia menyerukan akan semua pihak menunggu hasil resmi dari KPU.

‘’Baiknya kita dan semua pihak, kita menunggu pleno KPU dan yang paling utama adalah kita jaga persaudaraan dan silaturrahim kita semua,’’ ajaknya.

Di tempat terpisah, calon anggota DPD nomor urut 21, H. Ahmad Sukisman Azmy, untuk sementara disebut-sebut memimpin perolehan suara itu telah mengantongi suara sebesar 175 ribu lebih. Suara tersebut bahkan baru hanya dari satu daerah yakni Kabupaten Lombok Timur saja, sementara kabupaten/kota lain masih belum masuk.

Ahmad Sukisman yang dikonfirmasi Suara NTB, mengaku tidak tahu pasti soal perbandingan peringkat perolehan suara masing-masing calon senator. Namun yang pasti saat ini pihaknya masih sedang melakukan tabulasi data sementara. ‘’Alhamdulillah se-Kabupaten Lotim ini terkumpul sebanyak 175 ribu, di kabupaten lain masih belum masuk,’’ katanya.

Bicara soal peluang menjadi peraih suara terbanyak dan dapat kursi di DPD RI, dirinya belum tahu pasti. Apalagi, perolehan suara dari kabupaten lain belum diketahui berapa jumlahnya. Lebih-lebih penyelenggara Pemilu di NTB saat ini masih sedang proses penghitungan suara di tingkat PPK.

Di tempat terpisah, sebelumnya kepada Suara NTB, tim pemenangan H. Lalu Gede Syamsul Mujahidin, Dedy E meyakini juga perolehan suara kandidat yang didukungannya akan mendapatkan kursi di DPD RI. Ia mengaku suara Gede Syamsul telah terakumulasi sudah lebih dari 100 ribu.

‘’Untuk calon lain sejauh ini kami tidak tahu. Kami hanya tahu dari kandidat kami,’’ ucapnya. Dari data yang sudah berhasil dihimpunnya, Dedy  mengatakan untuk data secara keseluruhan se NTB perolehan suara Lalu Gede Syamsul Mujahidin cukup besar dan bisa mengantarkannya masuk empat besar.

Sedangkan Baiq Diyah Ratu Ganefi yang dikonfirmasi memilih tidak menanggapi data perolehan sementara calon anggota DPD RI Dapil NTB. Ia juga enggan menanggapi keunggulan suaranya seperti kandidat yang lain. ‘’Masih belum, kita tunggu saja ya,’’ jawabnya singkat.

Senada dengan Baiq Diyah, Calon Anggota DPD nomor urut 40, H. Mudahan Hazdi, juga mengaku tak melakukan rekap internal. Karena itu ia pasrah menunggu hasil rekapitulasi resmi dari KPU. “Saya menunggu hasil perhitungan rekap PPK yang sedang berlangsung. Tim internal tidak merekap, karena tidak punya data dari TPS- TPS. Kita tunggu saja, apapun hasilnya,” katanya.

Dari nama-nama nominasi peraih suara empat besar calon anggota DPD RI tersebut yang sudah disebutkan, nama Evi Apita Maya, menjadi yang paling mengejutkan. Calon nomor urut 26 tersebut, mampu berada pada posisi enam besar, dan bersaing dengan nama-nama besar yang selama ini sudah jauh-jauh hari digadang-gadang paling memiliki kans suara besar.

Nama Evi kemudian menjadi perhatian dari sejumlah calon, karena ia berhasil mengumpulkan suara cukup signifikan.

Perlu Lebih Awas

Jajaran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang diterjunkan dalam proses pengawasan penghitungan suara diminta untuk lebih cermat saat mengawasi proses tersebut. Sebab, peluang kecurangan sangat terbuka terjadi selama proses ini.

Hal ini diutarakan Calon Anggota DPD RI petahana, Prof. Farouk Muhammad, kepada Suara NTB, Selasa, 23 April 2019.

Menurut Farouk, dalam penghitungan itu, petugas Bawaslu seringkali tidak menyaksikan betul ketika orang yang mengangkat surat suara menunjuk nomor. “Itu kadang-kadang hanya satu orang. Petugas Bawaslu itu hanya melihat dari jauh saja. Apakah benar nomor yang dicoblos itu dengan yang disebut,” ujarnya.

Farouk mengaku mendapatkan laporan kejadian semacam ini dari timnya di lapangan. Ia pun berharap, Bawaslu dan jajarannya bersama aparat Kepolisian bisa lebih optimal dalam mencegah kesalahan semacam ini.

Hal lain yang menjadi catatan Farouk adalah dugaan praktik politik uang dan iming-iming jelang pemungutan suara. ‘’Itu (ada dugaan) marak sekali oknum ke luar masuk kampung, membawa amplop, sembako, janji-janji dan lain sebagainya,’’ ungkap Farouk.

Farouk merasa, kejadian semacam ini membuat petahana yang sudah membuktikan kinerjanya selama lima tahun seperti menjadi sia-sia. Farouk pun merasa pemilih tampaknya lebih senang dengan janji-janji baru yang ditawarkan oleh para kandidat yang belum menjabat. “Bahkan ada yang menjanjikan beasiswa. Itu kan janji yang tidak boleh karena individual,” sebutnya.

Terkait perolehan suaranya sejauh ini, Farouk mengaku tidak melakukan proses penghitungan secara internal. Namun, dari data yang berhasil dihimpunnya, perolehan suaranya hingga kemarin belum final. “Belum masuk semua. Masih naik-turun,” ujarnya singkat saat ditanyai soal perolehan suaranya.

Dikonfirmasi terpisah, Komisioner Bawaslu Provinsi NTB, Divisi SDM, Itratif kepada Suara NTB mengatakan justru pihaknya memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja pengawas TPS yang dinilai sudah sangat optimal dalam mengawal proses pemungutan dan penghitungan suara Pemilu 2019.

“Saya justru sangat mengapresiasi kinerja Pengawas TPS yang sudah menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka mengawal penghitungan suara lebih dari 24 jam. Seharusnya, peserta Pemilu berterimakasih  kepada Pengawas TPS, karena bisa mengawasi pungut hitung sehingga dapat mencegah terjadinya pelanggaran,” katanya.

Ia pun menantang para peserta Pemilu yang menuding pengawasan Bawaslu di TPS dinilai tidak maksimal, untuk buka-bukaan terkait dengan pengawasan proses pungut hitung di TPS. Sebab menurut, Itratif, hanya sebagian kecil dari peserta Pemilu yang menghadirkan saksinya di TPS, sebagai besarnya tak memiliki saksi.

‘’Jika mau buka data, faktanya hanya sebagian saja peserta Pemilu yang menghadirkan saksinya di TPS. Seharusnya semua peserta Pemilu menghadirkan saksinya pada saat pungut hitung berlangsung,’’ tegasnya.  (ndi/aan)