Pernikahan Usia Anak di Lotim Meningkat

Judan Putrabaya, H. Asrul Sani. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Memasuki kwartal ketiga tahun 2020 ini, kasus pernikahan usia anak di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terus meningkat. Dari Januari hingga 21 September 2020, jumlah kasus pernikahan usia anak yang ditangani Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lotim sebanyak 19 kasus. Menyikapi hal ini, Pemda Lotim diharapkan bersikap tegas dan tidak hanya menjadi penonton atas persoalan yang terjadi.

Ketua LPA Lotim, Judan Putrabaya, Senin, 21 September 2020 menekankan, mengantisipasi maraknya pernikahan usia anak, sangat dibutuhkan kehadiran Pemda Lotim untuk mengambil langkah-langkah tegas terhadap jajaran pemerintah di tingkat desa. Dijelaskan bahwa ketika seseorang melangsungkan proses perkawinan atau merariq, maka yang terlibat di dalamnya yaitu, RT, Kadus hingga pemerintah desa serta tokoh masyarakat setempat.

Iklan

Pada lini itulah pemerintah kabupaten memberikan penekanan kepada pemerintah desa bahwa apabila ada kasus pernikahan di bawah umur, maka diupayakan untuk tidak diproses menuju ke perkawinan. Sepanjang itu tidak dilakukan, maka peristiwa perkawinan usia anak akan terus terjadi di Kabupaten Lotim.

“Sikap-sikap yang tidak mau tahu dari aparat di tingkat bawah terkait pernikahan usia anak sangat kita sayangkan,” ungkapnya.  Judan juga sangat menyayangkan alasan klasik dari para orang tua yang menikahkan anaknya yang masih di bawah umur karena takut berbuat hal-hal yang tidak diinginkan. Padahal atas kerjasama dan kepedulian bersama, menghindari anak melakukan pernikahan dini membantu anak tersebut meraih masa depannya serta berpengaruh terhadap IPM di daerah.

Kepada pihak-pihak yang terlibat dalam prosesi pernikahan anak juga dapat dipidanakan karena sudah melanggar aturan hukum terkait perlindungan anak. Adapun jumlah yang ditangani pernikahan usia anak sebanyak 19 kasus di tahun 2020. Sementara tahun 2019 periode Januari-September yang melapor dan ditangani sebanyak 35 kasus. Artinya, tidak ada relevansi terjadinya pandemi Covid-19 dengan tingginya perkawinan usia anak.

“Berdasarkan beberapa kasus yang kita tangani, terjadinya pernikahan usia anak multi factor. Ada yang dibawa lari, kecelakaan, faktor ekonomi, dan lainnya,” bebernya.

Kepala DP3AKB Lotim, drg. H. Asrul Sani, menyebutkan jika kasus pernikahan usia anak di Kabupaten Lotim relatif meningkat tiga tahun terakhir ini. Pada tahun 2018 jumlah kasus yang ditanganinya sebanyak 11 kasus, tahun 2019 17 kasus dan tahun 2020 hingga bulan Juli terjadi sebanyak 15 kasus. “Relatif sudah meningkat tiga tahun terakhir,”ungkapnya.

Ironisnya apabila berbicara riil di lapangan, kata Asrul, jumlah kasus perkawinan usia anak di Kabupaten Lotim mencapai ratusan bahkan ribuan kasus. Hanya saja yang dilaporkan dan terdeteksi hanya belasan kasus yang menuai upaya-upaya untuk dilakukan mediasi. “Kalau yang tidak dilaporkan itu cukup banyak,” sebutnya.

Terjadinya kasus perkawinan usia anak ini disebabkan oleh multi faktor. Mulai dari suka sama suka, dibawa kabur, faktor ekonomi, pendidikan, pemahaman orang tua, hingga faktor lingkungan yang cukup mempengaruhi terjadi perkawinan usia anak. Artinya secara sederhana tidak dapat dipastikan bahwa penyumbang perkawinan usia anak karena pendemi Covid-19 dan libur sekolah. (yon)