Permintaan Semen Naik Empat Kali Lipat

Senior Corporate Communication PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) Rizki Dinihari

Mataram (Suara NTB) – Permintaan semen di masa pemulihan pascagempa mengalami lonjakan empat kali lipat dari tahun lalu. Produsen semenpun harus mengerahkan tenaga bongkar ekstra di pelabuhan.

Senior Corporate Communication PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) Rizki Dinihari, menjelaskan permintaan semen kenaikannya luar biasa. Dipengaruhi permintaan untuk membangun kembali rumah-rumah korban gempa.

Iklan

Dari statistik penjualannya, pada periode Januari-Maret 2018, Indocement mendistribusikan tiga roda sebanyak 38.000. Pada periode yang sama tahun 2019 ini, penjualannya naik menjadi 173.000 ton. “Sudah berapa persen itu kenaikkannya, 400-an persen,” katanya.

Kepada Suara NTB, Rizki pada tahap rehap rekonstruksi rumah – rumah korban gempa, tercatat di regional Bali Nusra, NTB menjadi daerah paling tinggi permintaannya. Sementara dua daerah pengapitnya, cenderung stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.

Untuk memenuhi permintaan ini, kata Rizki, Indocement akan menambah jadwal shift tenaga kerja untuk bongkar muat di Pelabuhan lembar. “Dari dua shift, kemungkinan menjadi 3 sampai 5 shift,” jelas Rizki. Volume tampung di Terminal Lembar juga akan ditambah. Gempa pada Agustus 2018 lalu tidak saja merusak bangunan dan rumah warga di sebagian Pulau Lombok, Indocementpun turut merasakan dampak langsung. Para pekerjanya juga sempat off yang mengakibatkan penjualannya turun drastis. Meskipun telah berangsur-angsur pulih.

Pabrik di Kalimantan memprioritaskan distrubusi ke terminal Lembar, Lombok. Agar permintaan kebutuhan terpenuhi. Apalagi terminal Lembar juga menjadi pintu distribusi semen ke Bali, NTT dan Indonesia Timur. Permintaan semen secara nasional memuncak pada tahun 2012-2013 lalu. Perlahan, terus menurun. Sampai akhirhnya diproyeksikan tahun 2019 ini adalah titik balik akan memuncaknya penjualan semen. Tanpa terkecuali di NTB.

Tidak saja karena faktor gempa, sebelum gempapun, pembangunan di NTB menggeliat. Yang tentunya berdampak pada tingginya kebutuhan semen. Permintaan semen, 80 persen adalah permintaan dalam bentuk kemasan. Artinya, diperhitungkan permintaannya orang perorang yang membangun secara pribadi. sementara permintaan dalam bentuk curah, yang biasanya untuk pembangunan proyek, sharenya hanya 20 persen dari total penjualan.

Rizki menambahkan, tidak saja Indocement memperhatikan dari sisi kebutuhan bahan baku pembangunan. NTB saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja untuk membangun rumah tahan gempa (RTG). Indocement menurutnya siap mengerahkan lulusan-lulusan sekolah pertukangannya. “Kita sudah siapkan tenaga tukang kita. Lebih-lebih untuk mempercepat pemulihan pascagempa, kami juga menyediakan rumah RAPI. Ketika pemerintah sudah menyetujuinya, kami akan kerahkan tukang sekolah Tiga Roda,” demikian Riski. (bul)