Permakultur, Bertani Hijau di Lahan Kering Ala “Pak De” Sutikno di Lombok Utara

Pemuda Desa Sambik Elen ambilbagian budidaya Permakultur pada lahan kering. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) -Bukan rahasia umum jika di wilayah Kabupaten Lombok Utara masih sangat luas areal lahan kering. Sebut saja di kecamatan Pemenang bagian barat (Pemenang Barat dan Malaka), di kecamatan Tanjung bagian selatan, kecamatan Gangga bagian timur, kecamatan Kayangan bagian Timur dan Utara, serta kecamatan Bayan bagian Utara dan bagian barat. Petani juga umumnya dihinggapi, bahkan sikap pesimisme karena terpatri ketergantungan akan air irigasi.

Pemerintah Provinsi NTB sudah hadir dengan mencoba mengintervensi melalui sistem irigasi tetes. Namun ekspansi sistem sepertinya sangat sulit akibat tuntutan dana besar dari APBN/APBD. Di tengah keterbatasan anggaran itu, Sutikno atau biasa di sapa “Pak De” hadir memberi solusi yang mudah, murah, ramah lingkungan. Melalui sistem budidaya yang disebut Permanen kultur (Permakultur), masyarakat sudah mulai melihat hasilnya.

Uji coba budidaya telah mulai dilakukan Sutikno di sejumlah dusun. Antara lain, dusun Lenggorong, Pademare, dan Barong Birak. Sutikno memulai memberi pendampingan melalui organisasi nirlaba yang dikelolanya, Saifana Organic Farm. Bertempat di Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan, Sutikno tidak hanya bergerak di hortikultura, tetapi juga pengendalian sampah melalui Trash Hero.

“Kami sudah mulai di Dusun Lenggorong dan Dusun Pademare di Desa Sambik Elen. Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias sekali, khususnya pemuda,” ucapnya, Minggu, 27 Desember 2020.

Konsep budidaya Permakultur terbukti cocok di lahan kering. Terbukti, dari usaha budidaya sayuran seperti sawi, menghasilkan kualitas daun yang bernilai ekonomi tinggi. Sutikno menjelaskan, metode budidaya Permakultur dimulai dengan penyiapan lahan. Tentu, lahan yang dimaksud di sini adalah lahan kering. Luasan areal bergantung dari kesanggupan masyarakat untuk mengelola.

Lahan yang telah disiapkan, disiangi atau bisa langsung digali, dengan ukuran 1 meter x 50 cm dan kedalaman 80 cm. Usai digali, pemilik lahan kemudian menyiapkan berbagai jenis batang kayu. Disarankan kayu yang sudah lapuk. Namun jika kayu masih keras, maka kayu harus dipotong-potong seukuran kayu bakar. Kayu yang sudah dipotong kemudian direndam satu malam agar menyimpan air.

Kayu yang direndam disusun pada galian dan berfungsi sebagai lapisan terbawah pada media tanam. Kayu dipadatkan dengan cara diinjak-injak. “Kayu yang sudah direndam sebagai lapisan terbawah berfungsi sebagai spons untuk menyimpan lembab,” kata Sutikno.

Setelah potongan kayu rata tersusun, lapisan selanjutnya adalah menyiapkan atau menabur ranting kering pada bagian atas kayu. Ranting-ranting kering ini juga dipadatkan dengan cara diinjak. Setelah itu, tahap selanjutnya adalah menabur dedaunan hijau di atas ranting. Disarankan berupa daun pisang, dan batang pisang yang dicacah, atau rumput. “Fungsi dedaunan hijau ini untuk menahan air,” imbuhnya.

Setelah itu, langkah selanjutnya adalah menyiram dedaunan dengan air secukupnya. Penyiraman ini berfungsi untuk menjaga kelembaban pascatanam. Usai disiram, taburkan kompos dan tanah sebagai media tanam diatasnya hingga menjadi batangan atau bedengan. Di pinggir bedengan, juga ditambahkan tanah yang berfungsi untuk mencegah pergerakan air saat dilakukan penyiraman.

Setelah langkah ini selesai, tanah/kompos yang sudah ditabur tadi siap ditanam. Ada baiknya, di atas kompos ditutup rerumputan secukupnya. Fungsi rumput ini adalah sebagai bahan pelindung bagai tanaman yang masih kecil.

“(Sangat sederhana), hanya memanfaatkan kayu randu lapuk, ranting daun kering serta pupuk kandang. Kalau sudah punya lahannya, tinggal hati kita yang harus sanggup melakukannya,” ucapnya.

“Sistem Permakultur bisa bertahan 5 – 10 tahun tanpa biaya pupuk dan pestisida. Di Saifana, penyiraman cukup dua kali seminggu. Semoga ada bantuan sumur bor di wilayah kami, agar dapat air tanah tanpa kaporit,” tandasnya. (ari)