Permainan Rakyat Perekat Jati Diri Bangsa

Para siswa saat memainkan egrang dalam koreografi tari pada Pembukaan Gelar Budaya NTB Gemilang, Jumat, 27 November 2020. (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Berbagai permainan rakyat sudah ada sejak lama dan tumbuh di tengah masyarakat. Nilai-nilai kebudayaan di dalam permainan rakyat merupakan jati diri bangsa, yang sudah seharusnya tetap dilindungi. Hal itulah salah satu dikedepankan pada Gelar Budaya NTB Gemilang 2020 yang dilaksanakan selama pekan ini.

Suara gamelan bertalu-talu mengiringi belasan siswa yang menaiki egrang. Dengan cekatan, mereka berbaris membentuk formasi di atas dan depan area panggung utama saat pembukaan Gelar Budaya NTB Gemilang, Senin, 23 November 2020 di halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB. Mereka berbaris membentuk pola konfigurasi yang memancing decak kagum dan tepuk tangan dari hadirin yang datang. Setelah itu, penari lainnya memainkan berbagai jenis permainan rakyat dengan koreografi yang menawan.

Siswa saat berlomba di Liga Hadang pada Gelar Budaya NTB Gemilang di halaman Kantor Dinas Dikbud NTB. (Suara NTB/ron)

Permainan rakyat dan olahraga tradisional menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB saat ini. terus berupaya melindungi permainan rakyat dan olahraga tradisional. Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., menjelaskan, pihaknya menaruh perhatian besar agar permainan rakyat dan olah raga tradisional tidak mengalami menghindari kepunahan. dari permainan dan olahraga tradisional. “Paling pokok itu melindungi, kemudian memanfaatkan dan mengembangkan agar permainan rakyat kita tidak punah,” kata Aidy.

Dinas Dikbud NTB memiliki dimensi pendidikan dan kebudayaan. Aidy mengatakan untuk mengembangkan mempertahankan permaninan rakyat dan olahraga tradisional itu, pihaknya menyentuh melakukan pendekatan melalui kegiatan pendidikan di sekolah. Nantinya akan menjadi salah satu konten kompetensi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Selain itu, Dinas Dikbud NTB juga memasyarakatkan mengembangkannya dalam melalui satu segmen khusus permainan rakyat dan olahraga tradisional dalam aktivitas Pojok Ekspresi yang rutin digelar tiap dua pekan mulai tahun 2020 ini.  “Paling tidak setelah anak-anak bisa, mereka akan memainkan di masyarakat,” katanya.

Berbagai perlombaan permainan rakyat dan olah raga tradisional digelar selama turut menyemarakkan Gelar Budaya NTB Gemilang. Bekerja sama dengan Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) di gelar Salah satunya Liga Hadang antar siswa sekolahSMA SMK bekerja sama dengan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) se NTB.

Puluhan sekolah dari Pulau Lombok dan Sumbawa dengan antusias mendaftar mengikuti lomba. Terlihat juga sorak gembira para penonton mendukung tim mereka yang berlaga menjadi salah satu pusat perhatian selama Gelar Budaya NTB Gemilang berlangsung.Puluhan sekolah dari Pulau Lombok dan Sumbawa mengikuti Liga Hadang itu.

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Dikbud NTB, Ach. Fairuz Abadi. S.H, menjelaskan, dalam konteks kebudayaan ada yang disebut dengan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Salah satu pemantiknya yaitu permainan rakyat. “Kita punya ‘segudang; permainan rakyat yang ada di NTB dan tingkat nasional, hanya beda nama saja,” katanya.

Salah satu bentuk kewajiban yang diamanatkan oleh undang-undang bahwa Dinas Dikbud NTB harus meningkatkan indeks Indeks pembangunan Pembangunan kebudayaanKebudayaan (IPK). Menurutnya, ada beberapa indikator, salah satunya anak usia 10 tahun harus mencintai tradisi, baik itu permainan dan lainnya. Oleh karena itu, permainan rakyat dan olahraga tradisional ini harus diperkenalkan kembali.

Pihaknya bersama KPOTI sudah berdampingan menggelar lomba-lomba untuk mengembalikan kembali permainan rakyat dan olahraga tradisional agar semakin diminati oleh masyarakat khususnya peserta didik . “Ini salah satu cara kami untuk mempertahankan dan melindungi tradisi budaya di NTB,” katanya.

Wakil ketua KPOTI NTB, Yadi Imansyah menyampaikan, pihaknya sudah bekerja sama dengan Dinas Dikbud NTB untuk pengembangan permainan rakyat dan olahraga tradisional. Sebagai jati diri bangsa, secara nasional KPOTI dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila meluncurkan istilah yang disebut pancamai.  Pancamain, salah satunya permainan tradisional. “Ditanamkan bagaimana menghargai, mencintai alam, dan sesamanya,” katanya.

Di KPOTI pusat, dirancang kurikulum implementasi sebagai media pembelajaran, juga untuk memberikan dampak sehat dan bugar. “Dengan media pendiidikan anak-anak bisa mengenal jati diri bangsa, bisa mengenal budaya mereka. Permainan rakyat yang biasanya hanya dibawakan di hari besar, sekarang kita ajak anak-anak mencintai budaya mereka,” katanya.

Siswa pun menyambut baik dengan berbagai upaya Dinas Dikbud NTB mengembangkan permainan rakyat dan olahraga tradisional, salah satunya melalui Liga Hadang antar sekolah. Hadang adalah istilah yang digunakan untuk menyebut permainan selodor, yang selama ini dikenal masyarakat di Lombok.

Pihak sekolah juga merasakan dampak dari program Dinas Dikbud NTB yang mengembangkan permainan rakyat. Kepala SMAN 2 Mataram, Ismail mengatakan, dengan inovasi yang dilakukan telah banyak memotivasi pihaknya di sekolah untuk ikut berkreasi.

“Salah satu inovasi Dikbud NTB adalah membangkitkan kembali seni budaya dan olahraga tradisional salah satunya Liga Hadang. Jujur anak-anak kami yang notabenenya baru merasakan bermain selodor, mengatakan ‘asyik maen selodor’,” katanya.

Terpisah, Kepala SMAN 1 Mataram, Kun Andrasto menyampaikan, permainan rakyat yang selama ini kurang mendapat perhatian karena terpengaruh kemajuan teknologi, sehingga perlu diperhatikan dan dilestarikan. Karena permainan rakyak ada nilai karakter seperti gotong royong, semangat kebersamaan, kejujuran, toleransi, dan saling menghargai.

Ketika Dinas Dikbud NTB menggalakkan lagi permainan rakyat, Kun memandang hal itu sangat tepat untuk pengembangan nilai-nilai karakter dan budaya anak. “Dan permainan rakyat bisa sebagai contoh pembelajaran, dalam menanamkan karakter dan budaya,” pungkasnya. (ron)