Perlu Solusi Jangka Panjang Atasi Fluktuasi Harga Gabah

Petani di so Lamere Desa Matua usai panen dan gabahnya terpaksa dijual dengan harga Rp3.800 per kg, Senin, 12 April 2021.(Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Gabah kering panen di Kabupaten Dompu masih belum stabil harganya. Keterbatasan pembeli dan sarana prasarana yang dimiliki menjadi pemicu permainan harga di tingkat pembeli. Pemerintah daerah (Pemda) pun dituntut menyiapkan solusi jangka panjang atasi gejolak harga gabah petani agar tidak terkesan seperti pemadam kebakaran.

Berdasarkan pantau Suara NTB, Senin, 12 April 2021, harga gabah di tingkat petani masih tergolong rendah. Tidak seperti yang dijanjikan Bulog sebelumnya dengan harga Rp4.200 per kg untuk gabah kering panen dengan KA maksimal 25 persen, atau Rp4.000 per kg untuk gabah dengan KA di bawah 30 persen, dan Rp3.850 per kg untuk gabah dengan KA di atas 30 persen. “Kita dibeli Rp3.800 per kg. Ini masih tinggi, kalau di dalam sana (di Kandai Dua, Monta, Wawonduru) mainnya di Rp3.700 per kg,” kata Syamsuddin, petani di so Lamere Desa Matua Dompu.

Iklan

Syamsuddin mengaku pasrah dengan harga dibeli pengepul. Terlebih pihaknya tidak memiliki pilihan lain untuk menjual gabah kering panen. Ketika mau dikeringkan pun sangat susah dengan kondisi cuaca di musim hujan dan keterbatasan tenaga buruh angkut serta alat angkut.

Bulog sebagai pelaksana kebijakan pengadaan gabah atau beras sebagai cadangan pangan pemerintah, di Kabupaten Dompu belum memiliki sarana prasarana pendukung seperti pengering gabah atau penggilingan padi. Perum Bulog Cabang Bima hanya memiliki gudang penyimpanan, sehingga Bulog hanya mengandalkan sarana dan prasarana yang ada pada mitra.

Kepala Perum Bulog Cabang Bima, Sawaludin Susanto kepada Suara NTB, Senin, 12 April 2021 mengaku, mitra perum Bulog di wilayah Dompu baru 3 perusahaan penggilingan yaitu CV Lancar Abadi (LA) di Jl Ompu Biko Desa Bara memiliki pengering padi kapasitas 150 ton per hari, CV Bintang Jaya (Putra Indonesia) di Desa Mangge Asi memiliki pengering padi kapasitas 180 ton per hari, dan UD Kembang Padi di Desa Oo memiliki kapasitas pengering padi 30 ton per hari. “Bila dibandingkan produksi (gabah) Dompu. Sehingga Dompu masih sangat membutuhkan pengering sebagai solusi jangka panjang, terutama saat musim hujan begini,” katanya.

Sawaludin mengaku, pihaknya sangat terbuka kepada orang perorang atau kelompok tani yang hendak menjual langsung gabahnya ke Bulog. Karena Bulog belum memiliki sarana pendukung, sehingga serapannya untuk gabah kering giling (GKG). “Bulog cabang Bima siap memberikan pelayanan maksimal ke petani dengan sistem pembayaran ‘One day Service’, dimana Bulog menerima GKG depan pintu gudang harga Rp5.300 per kg dengan KA 14 persen,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu, Dra Hj. Sri Suzana, MSI yang dihubungi terpisah mengatakan, berdasarkan pertemuan pihaknya dengan Bulog harga gabah sesuai HPP yaitu Rp4.200 per kg yang memiliki kadar air (KA) maksimal 25 persen dan kadar hampa maksimal 10 persen. Bila KA di atas 25 persen dihargai rata – rata Rp3.850 per kg. “Itu berdasarkan pertemuan kami yang terakhir dengan Bulog di so Doro Cumpa. Berapapun kapasitas gabah yang diproduksi, tetap diambil oleh Bulog dengan catatan akan dihargai sesuai mutu,” ungkapnya.

Karena Bulog memiliki keterbatasan tenaga dan alat, lanjut Hj. Sri Suzana, petani disarankan untuk menjual langsung gabahnya ke mitra usaha Bulog. “Cuman kalau kita lihat lagi, mana transportasi, harga yang rendah,” ungkap Hj. Sri Suzana yang menjadi kendala petani gabah.

Terkait keberadaan pengering gabah yang dimiliki kelompok tani dan gapoktan, Hj. Sri Suzana mengaku, belum mengetahuinya. Mestinya bantuan – bantuan tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal agar petani tidak kesulitan saad membutuhkannya. Tidak hanya drayer yang dikelukan petani, tapi juga mesin perontok padi. “Ketika petani lagi butuh – butuhnya mesin kombai, itu tidak ada,” jelasnya. (ula)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional