Perkara Benih Jagung 2017, Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa PPK

Terdakwa pengadaan benih jagung tahun 2017 Ida Wayan Wikanaya mengikuti persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Kamis, 16 September 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sidang perkara korupsi pengadaan benih jagung tahun 2017 dengan terdakwa Ida Wayan Wikanaya selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bakal dilanjutkan ke tahap pemeriksaan pokok perkara. Hal ini setelah eksepsi yang diajukannya ditolak. Majelis hakim menilai dakwaan jaksa penuntut umum sudah lengkap, cermat, dan jelas.

Putusan sela perkara terdakwa Wikanaya ini dibacakan dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram Kamis, 16 September 2021. Ketua majelis hakim I Ketut Somanasa memutuskan dalam putusan selanya untuk melanjutkan sidang ke pemeriksaan. “Menyatakan keberatan penasihat hukum terdakwa I Wayan Wikanaya tidak dapat diterima oleh karenanya memerintahkan jaksa penuntut umum untuk melanjutkan pemeriksaan perkara,” ucapnya.

Iklan

Alasan hakim menolak eksepsi itu antara lain, dakwaan jaksa penuntut umum sudah disusun secara lengkap, jelas, dan cermat dengan mencantumkan data diri terdakwa, uraian tindak pidana, bagaimana dilakukan, ketentuan pidana, dan uraian peristiwa sudah diuraikan secara lengkap. Pada eksepsi lainnya, majelis hakim menimbang sudah masuk wilayah pokok perkara. “Keberatan tidak beralasan karena sudah masuk pokok perkara sehingga harus dibuktikan dalam pemeriksaan perkara,” kata Somanasa.

Sebelumnya Wikanaya menyebut perbuatannya merupakan kesalahan administrasi dalam hal dirinya menjalankan tugas dan kewenangan selaku pejabat pembuat komitmen. Kemudian jaksa penuntut umum menanggapinya dengan argumen Pelanggaran administrasi bukan letak tindak pidana korupsinya, melainkan sifat melawan hukumnya tindak pidana korupsi.

Wikanaya didakwa turut korupsi pada dua proyek pengadaan benih jagung tahun 2017 dengan total anggaran Rp49,01 miliar dan merugikan negara Rp27,35 miliar. Dia bersama mantan Kadistanbun Provinsi NTB Husnul Fauzi bekerjasama memuluskan penunjukkan langsung rekanan yang mengerjakan proyek tersebut.

Yakni pengadaan 487,85 ton benih jagung PT Sinta Agro Mandiri milik terdakwa Aryanto Prametu. Kontrak pengadaannya Rp17,25 miliar. Benih yang didatangkan PT SAM melalui perantara saksi Diahwati ini rusak dan berjamur.

Meski demikian, Wikanaya tetap membayar proyek pengadaan itu 100 persen. BPKP Perwakilan NTB menghitung kerugian negaranya sebesar Rp15,43 miliar. Wikanaya juga berperan dalam pengadaan benih jagung 849,9 ton yang dikerjakan PT Wahana Banu Sejahtera. Perusahaan yang dikendalikan Lalu Ikhwanul Hubby ini mendapatkan kontrak senilai Rp31,76 miliar.

Pengadaan benih jagung hibrida umum 2, Balitbang, dan Komposit ini pun bermasalah. Benih yang didatangkan PT WBS tidak seluruhnya memenuhi syarat spesifikasi dan sertifikat, serta sudah kedaluarsa. Berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan NTB, kerugian negara yang timbul mencapai Rp11,92 miliar. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional