Peringati Harlah Bung Karno, Warga Bangun Jembatan Darurat

Anggota DPRD KLU L. M.  Zaki ikut membantu warga membangun jembatan sementara, Minggu, 13 Juni 2021. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Hari Lahir (Harlah) Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, 6 Juni 1901-2021 diperingati dengan positif oleh warga Dusun Baban Kuta, Desa Batu Rakit, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Warga bergotong royong membangun jembatan darurat dan sementara, setelah sebelumnya menghimpun material bangunan secara swadaya.

Gotong royong itu berlangsung pada Minggu, 13 Juni 2021. Hari libur itu dimanfaatkan puluhan petani kebun dusun setempat untuk membuat jembatan penghubung di atas kali mati menuju lokasi hutan kemasyarakatan.

Iklan

Informasi yang dihimpun koran ini, tidak adanya jembatan menyulitkan warga. Terutama pada musim hujan. Warga tidak dapat melintasi kali, karena tergenang air hujan. Warga harus menunggu 2-3 hari untuk bisa melintas membawa hasil panen berupa kopi dan pisang. Lalu lintas kendaraan warga cukup lancar pada musim kemarau. Kendati demikian, warga harus berkendara zigzag di celah-celah bebatuan untuk sampai ke tujuan.

Anggota DPRD KLU – Dapil III Kecamatan Bayan, L. M. Zaki, membenarkan usaha gotong royong masyarakat tersebut. Minggu kemarin, ia dihubungi warga Dusun Baban Kuta untuk hadir menyaksikan gotong royong. Hingga ia pun terlibat sampai gotong royong hari itu selesai.

“Gotong royong membangun jembatan ini adalah semangat warga memperingati hari lahirnya Bung Karno, 6 Juni lalu. Warga mulai membangun tepat pada 6 Juni lalu,” ujar Zaki.

Uniknya, warga Dusun Baban Kuta, menjadwalkan gotong royong hanya pada hari Minggu saja. Hari-hari lain tetap digunakan untuk beraktivitas secara normal.

“Saya sempat tanyakan, kenapa hanya di hari Minggu. Rupanya mereka khawatir, gotong royong pada hari aktif tidak banyak yang bisa hadir karena kesibukan di kebun masing-masing,” sambungnya.

Diperkirakan buruh waktu 8 kali hari Minggu atau 2 bulan untuk menyelesaikan jembatan. Selama proses itu, warga secara mandiri mengadakan material. Pasir diambil dari sungai setempat. Material batu juga di sana. Hanya besi dan semen yang harus dibeli secara mandiri.

“Warga kesulitan semen dan besi. Tapi anehnya, mereka tidak mengusulkan ke desa atau ke bupati. Betapa semangat mereka patut menjadi contoh bagi yang lain,” sanjung Zaki.

Zaki berharap, upaya masyarakat ini mendapat perhatian dari dinas terkait. Minimal OPD dapat membantu mengawasi konstruksi sehingga jembatan dapat berfungsi dalam jangka panjang. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional