Perhimpunan Tionghoa Hijaukan Alam dengan Pohon Usia Ratusan Tahun

Bupati KLU H. Djohan Sjamsu menanam pohon menanam pohon di di Dusun Buani, Desa Bentek, kecamatan Gangga, Kamis, 23 September 2021

Tanjung (Suara NTB) – Perhimpunan Tionghoa Indonesia – (Inti) NTB, kembali menggelar penghijauan di Dusun Buani, Desa Bentek,Kkecamatan Gangga, Kamis, 23 September 2021. Pohon yang ditanam adalah pohon jenis kenari, yaitu pohon dengan usia hidup mencapai ratusan tahun, menyimpan air dan akarnya menahan erosi.

Kenari atau juglans adalah sebuah genus tumbuhan yang biji-bijinya dikenal sebagai buah kenari. Memiliki tinggi 10–40 meter, dengan daun-daun seukuran 200–900 milimeter. Sebanyak 21 spesies dalam genus tersebut tersebar di wilayah utara Dunia Lama dari tenggara Eropa sampai timur Jepang, dan di Dunia Baru dari tenggara Kanada sampai Barat California dan selatan Argentina.

Iklan

“Bibit kenari ini sengaja kami bibitkan, karena usia tumbuhnya bisa ratusan tahun, daunnya rimbun menghasilkan banyak oksigen, akarnya juga mencengkeram erat tanah sehingga mencegah erosi,” ucap Ketua Harian Inti NTB, S. Widjanarko.

Ia berharap, dalam jangka panjang tanaman atau pohon jenis ini dapat dibudidayakan lebih luas dari biji. Sedikitnya, 100 bibit yang ditanam ini akan memberi manfaat besar di masa mendatang.

“Pohon ini juga berbuah, dan buahnya bermanfaat untuk bahan baku roti. Harapan kami ada dampak ekonomi bagi masyarakat di sini,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Inti NTB juga menyerahkan paket bantuan kepada warga sekitar berupa selimut, pakaian, perkakas, dapur hingga perkakas anak sekolah yang dihimpun dari donasi keluarga besar Tionghoa di NTB.

Sementara, Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH, merespons positif langkah Inti NTB. Ia bahkan berharap, organisasi lain ikut membuat kegiatan positif dalam wujud menjaga lingkungan maupun membantu masyarakat Lombok Utara.

‘’Dengan menanam pohon, maka kita terlibat memelihara alam dan lingkungan,’’ ujarnya.

Djohan mengatakan, 10 tahun lalu, ratusan mata air dapat dijumpai di Lombok Utara. Kini sumber air itu banyak yang hilang karena faktor alam dan campur tangan manusia. Bencana gempa tahun 2018 menghilangkan tempat-tempat penyimpanan air. Sementara penebangan pohon oleh manusia, mendorong hilangnya hutan  atau kayu sebagai sumber air.

“Pelihara pohon dengan baik, jangan ditebang. Mulailah menanam pohon, sehingga bisa memberi penghidupan bagi anak cucu kita,” imbuhnya. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional