Pergub Belum Keluar, Dishub Enggan Urusi Ojek Online

Mataram (suarantb.com) – Kepala Dinas Perhubungan NTB, H Lalu Bayu Windya enggan berkomentar banyak tentang ojek online yang mulai beroperasi di Mataram. Lantaran pergub yang akan mengatur operasional ojek online masih belum tuntas digodok.

“Pergubnya sedang kita godok. Biarkan saja mereka beroperasi kita ndak mau tahu. Kita anggap ndak ada-lah itu,” komentarnya, Jumat, 14 Maret 2017.

Iklan

Pergub yang akan menjadi regulasi pengatur tata operasional ojek online di Mataram diakui Bayu masih dalam proses penyusunan. Tanpa pergub ini, ojek online yang telah beroperasi di Mataram bisa dikatakan telah beroperasi secara ilegal atau tanpa izin.

Sekretaris Organda DPC Mataram, H Sukanah yang dimintai komentar terkait keberadaan ojek online mengaku menentangnya.

“Kalau masalah ojek online saya tetap menolak. Karena sudah jelas dia melanggar UU 22 tahun 2009 kalau ojek itu. Kendaraan roda dua itu kan tidak boleh ngangkut penumpang,” tegasnya.

Pemilik angkot ini juga menambahkan menurut data kepolisian yang diperolehnya, lakalantas di NTB 70 persen didominasi pengguna roda dua. Hingga ia mempertanyakan izin untuk ojek online, yang kemungkinan bisa menambah jumlah lakalantas.

“Jadi kenapa tidak dikurangi saja? Ojek online saya tidak setuju, tapi kalau taksi online masih bisa lah. Karena dengan angkot saya rasa tidak ada gangguan,” tambahnya.

Terkait larangan operasi sementara lantaran belum keluarnya pergub ini, pengusaha Ojek Online Mahasiswa Mataram (Onma) Fakhrurrizki menyatakan akan tetap beroperasi. Selama masih ada penumpang yang membutuhkan jasanya dan tidak ada larangan tertulis dari Dishub NTB.

“Kalaupun Dishub melarang, tapi masih ada orderan akan tetap kita layani. Kalau ada larangan tertulis misalnya, baru kita pertimbangkan,” jawabnya.

Adanya kemungkinan konflik sosial, akibat ojek online yang beroperasi tanpa izin ini, Rizki menyatakan pihaknya berusaha berpikir positif.

“Saya selalu optimis, karena mungkin kami juga tidak langsung mengambil langganan ojek konvensional. Karena langganan kami kan mahasiswa, dosen, pekerja kantoran dan tamu-tamu dari luar daerah,” jelasnya.

Rizki juga menambahkan usaha Onma ini mempunyai banyak nilai positif. Selain membantu orang yang membutuhkan transportasi, mahasiswa yang menjadi pekerjanya juga mendapatkan penghasilan sekaligus pengalaman.

“Cuma kami di Mataram yang ojeknya semua mahasiswa. Kita juga ada layanan Onma traveling untuk jalan-jalan di Lombok, bisa dipesan sama tamu dari luar daerah. Ini kan juga membantu pariwisata daerah,” tandasnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here