Peredaran Tramadol di NTB Gunakan Modus Pengiriman Jamu dan Buku

Mataram (suarantb.com) – Maraknya peredaran obat Tramadol semakin mengkhawatirkan banyak pihak. Pasalnya, efek dari obat tersebut hampir sama dengan narkoba. Pengguna yang mengonsumsi obat tersebut akan mengalami halusinasi layaknya mengonsumsi narkoba.

Obat yang sudah tidak diprodusikan tersebut, kini masih ditemukan beredar gelap di tengah masyarakat. Pekan lalu, sebanyak 5.000 strip atau setara dengan 50.000 butir tramadol palsu telah diamankan polisi di Kecamatan Mpunda, Kota Bima.

Iklan

Direktur Reserse Narkoba Polda NTB, Kombes Pol H. Agus Sardjito, menjelaskan bahwa jalur distribusi masuk dari peredaran gelap tramadol melalui jalur darat. Biasanya menggunakan kendaraan antar daerah dengan menggunakan nama anonim.

“Jalur masuk ditenggarai lewat jalur darat. Mulai Lembar sampai Bima, Dompu. Hanya mereka kamuflase dengan kiriman jamu atau buku, sehingga tidak diketahui. Terus (pelaku) juga menggunakan nama fiktif,” ungkap Agus saat ditemui belum lama ini.

Untuk memutuskan mata rantai peredaran tramadol tersebut, Polda NTB kini berkoordinasi dengan Polres jajaran untuk mengawasi dan mencegah peredaran obat yang pada 2015 lalu telah tidak beredar.

Efek yang memabukan dari tramadol tersebut membuat rentan remaja-remaja di NTB untuk mengonsumsinya. Selain bisa menimbulkan halusinasi, tramadol juga dikhawatirkan membuat remaja-remaja ketergantungan.

“Ini obat sebetulnya untuk menghilangkan rasa sakit atau rasa nyeri. Kemudian digunakan untuk meraka. Kadang (untuk) fly (mabuk), atau halusinasi. Efek masyarakat menggunakan ini, di samping merusak, disalahgunakan untuk fly, sehingga ketergantungan,” pungkasnya.

Polisi hingga kini terus mendalami pubrik yang masih membuat obat tramadol palsu tersebut. Karena, obat tersebut telah lama tidak diproduksi lagi. “Kita masih mendalami mana pabrik yang memproduksinya,” ucapnya.

Agus juga berterimakasih pada masyarakat yang melaporkan peredaran tramadol di wilayahnya. Kasus pengungkapan 5.000 strip tramadol tersebut, berkat laporan masyarakat. Sehingga pihak kepolisian akan terus menggandeng masyarakat dalam mengawasi peredaran obat tersebut. (szr)