Percepat Penerapan Kenormalan Baru, Perlu Diubah Strategi Tangani Covid-19

Hamsu Kadriyan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB dan Pemda Kabupaten/Kota disarankan melakukan tes swab massal untuk memutus mata rantai penyebaran dan mempercepat penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Sehingga masyarakat yang terpapar virus Corona akan lebih cepat terdeteksi dan ditangani secara medis. Selain itu, perlu juga ada strategi baru dalam penanganan Covid-19 yang bisa menekan anggaran, biaya dan sumber daya.

Jadi mungkin perlu juga dipertimbangkan tes swab massal. Seharusnya untuk mempersiapkan menuju new normal, kalau bisa kita periksa secara masif, ujar Dekan Fakultas Kedokteran Unram, dr. Hamsu Kadriyan, Sp. THT, M.Kes dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 2 Juni 2020.

Iklan

Dengan melakukan tes swab massal, maka akan mempercepat NTB memasuki new normal atau kenormalan baru. Saat ini, NTB belum memenuhi syarat untuk penerapan kenormalan baru karena rasio antara jumlah kasus yang terkonfirmasi positif dengan total tes yang dilaksanakan di masyarakat atau positive rate berada di angka 11,45 persen. Sedangkan salah satu syarat penerapan kenormalan baru apabila positive rate berada di bawah angka 5 persen.

Jika dilakukan tes swab massal, memang risikonya akan menemukan banyak kasus. Karena dilakukan pemeriksaan secara masif kepada seluruh masyarakat. Dengan pemeriksaan yang masif, masyarakat yang terkonfirmasi positif akan lebih cepat ditangani. Sehingga penanganan penyebaran Covid-19 akan menjadi lebih bagus.
Kalau dilakukan swab massal terus hasilnya banyak yang negatif, bagus sekali untuk persiapan new normal, katanya.

Namun, untuk melakukan tes swab massal memang membutuhkan anggaran yang tak sedikit. Meskipun butuh anggaran yang banyak, tetapi Pemda akan lebih cepat mendeteksi masyarakat yang positif Covid-19.

Berdasarkan analisa yang dilakukan, kasus Covid-19 di NTB seperti gunung es. Kasus yang terungkap sekarang yang hampir mencapai 700 kasus positif Covid-19, masih ditemukan di permukaan saja. Analisis yang dilakukan ketika awal kasus Covid-19 di NTB, diperkirakan jumlah kasus positif mencapai 5.800 orang yang puncaknya pada Agustus mendatang.

Setelah dilakukan pembatasan transportasi baik darat, laut dan udara, hasil analisis yang dilakukan kasus positif Covid-19 di NTB diperkirakan sekitar 2.000-an kasus. Puncaknya diperkirakan pada Juli mendatang.

Jika melihat tren kasus positif Covid-19 yang sudah hampir mencapai 700 orang pada awal Juni ini. Hamsu mengatakan, apabila rata-rata 20 kasus baru per hari, maka dalam tiga bulan ke depan akan mencapai 1.800 kasus. Kemudian ditambah dengan jumlah akumulasi kasus Covid-19 di NTB saat ini yang hampir mencapai 700 orang. Maka angka kasusnya bisa mencapai 2.500 kasus lebih pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang.

Kalau tak ada perlakuan khusus, maka akan tembus ke sana. Seperti saya katakan kasus ini seperti fenomena gunung es. Jadi, kasus positif itu kelihatan di permukaan air memang sedikit. Tapi sesungguhnya kalau kita melakukan swab massal maka akan banyak ketemu, ucapnya.
Harus Ada Strategi Baru.

Melihat banyaknya tenaga kesehatan yang terpapar virus Corona, Hamsu mengatakan dalam persiapan menuju kenormalan baru, Pemda harus mempercayakan perawatan kepada masyarakat. Artinya, isolasi mandiri perlu diberlakukan khususnya untuk pasien-pasien positif Covid-19 dengan keluhan ringan atau tanpa gejala.

Ia menyarankan, agar pasien-pasien dengan gejala berat yang dirawat di rumah sakit rujukan Covid-19 atau rumah sakit darurat Covid-19. Sedangkan pasien dengan gejala ringan bahkan tanpa gejala sebaiknya dilakukan isolasi mandiri di rumah dengan disiplin.

Karena obat Corona juga ndak ada. Pasien dengan gejala ringan cukup minum vitamin, mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Maka akan sembuh dia. Cukup dipantau dan diwajibkan laporan setiap hari. Bagaimana perkembangannya, katanya.

Apabila pasien tidak ada keluhan maka tetap melakukan isolasi mandiri di rumah. Jika punya keluhan maka dibawa ke rumah sakit. Sehingga, pasien tidak membebani petugas kesehatan dan pemerintah tidak banyak keluar anggaran.

Kalau sekarang ini kayaknya kita banyak menghabiskan anggaran, biaya, sumber daya untuk orang-orang tak bergejala. Perlu perubahan strategi penanganan Covid-19, sarannya.
Dalam persiapan NTB menuju kenormalan baru menurut Hamsu perlu dimasukkan strategi tersebut. Sehingga penanganan pasien dengan gejala ringan tidak terlalu banyak membebani anggaran Pemda.

Makanya lebih baik isolasi mandiri di rumah tapi dengan disiplin. Masyarakat itu kalau sudah positif jangan ke mana-mana. Ada ancaman dalam UU, bagi yang menyebarkan penyakit, dia bisa kena pidana. Baik kurungan maupun denda, katanya.

Dengan angka positive rate di NTB yang mencapai 11,45 persen, Pemda diminta tidak memaksakan untuk penerapan kenormalan baru. Karena dengan angka yang mencapai 11,45 persen, peluang untuk menularkan virus Corona ke orang lain semakin tinggi.

Memang new normal ini harus kita siapkan dari sekarang. Tetapi penerapannya tergantung dari indikator-indikator yang sudah diputuskan. Kalau misalnya, dipaksakan sebelum indikator itu terpenuhi, bukan menimbulkan suatu kemaslahatan. Tapi mudharatnya akan lebih besar. Kasusnya bisa tambah banyak lagi, paparnya.

Dari 10 kabupaten/kota di NTB, ia melihat hanya Kota Bima yang kemungkinan memenuhi syarat untuk penerapan kenormalan baru. Karena angka kasusnya paling sedikit di NTB. Namun perlu diperdalam lagi apakah realitanya demikian di lapangan. Apakah dilakukan pelacakan terhadap orang yang pernah kontak erat dengan pasien positif dengan baik. Karena berdasarkan data, angka pemeriksaannya paling rendah di Kota Bima.

Tapi apapun itu, harus berdasarkan indikator yang ada. Kalau memang di Kota Bima kondisinya sesungguhnya seperti itu mungkin bisa dimulai dengan new normal. Jadi harus melihat indikator-indikator yang sudah ditetapkan. Dan penerapannya jangan buru-buru. Kalau memang indikatornya semuanya sudah terpenuhi maka relatif lebih aman, tandasnya.

Menurtnya, Pemda harus berkaca dari Korea Selatan yang sudah menerapkan kenormalan baru. Mereka memperbolehkan anak-anak kembali bersekolah dengan penerapan protokol pencegahan Covid-19. Tapi ternyata kasus positif Covid-19 kembali naik.

Memang kita harus lebih hati-hati sebelum menerapkan new normal. Jangan sampai kita trial and error, terus errornya yang terjadi. Malah mudharatnya yang lebih besar, ujarnya mengingatkan.

Apalagi NTB termasuk salah satu daerah di Indonesia yang menjadi penyumbang kasus positif terbesar di Indonesia. Jika dilihat grafik penambahan kasus baru setiap hari, kata Hamsu memang polanya kurang bagus. Kadang-kadang tambahan kasus baru di NTB sampai 54 orang, kemudian turun menjadi 4 orang.

Jadi memang kurang konsisten grafiknya. Untuk dianalisis, standar deviasinya menjadi tinggi. Saya lihat trennya dia turun pada saat libur panjang. Mungkin pemeriksaan swabnya jadi agak lebih berkurang. Demikian juga pemeriksaan PCR jadi lebih sedikit volumenya. Karena petugasnya pasti ada liburnya juga, pungkasnya. (nas)