Perbarindo Dorong Percepatan Merger BPR

Layanan salah satu BPR Syariah di NTB, BPRS Patuh Beramal. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) Provinsi NTB mendorong percepatan penggabungan (merger) BPR-BPR di NTB untuk memperkuat modal dan daya saingnya. Ketua Perbarindo Provinsi NTB, Yanuar Alfan mengatakan, merger dibutuhkan, diantaranya untuk memenuhi ketentuan modal minimal yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Diketahui, rencana merger yang paling menguat adalah penyatuan delapan Perusahaan Daerah (PD) BPR NTB milik pemerintah daerah di Provinsi NTB. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah sebelumnya menargetkan merger BPR NTB tuntas pada Agustus 2020 ini. Namun sampai saat ini harapan orang nomor satu di NTB ini belum terwujud. Yanuar Alfan mengatakan, memang proses merger tidak mudah dan cepat.

Iklan

Apalagi pemegang sahamnya terdiri dari beberapa daerah. Walaupun, Pemprov NTB memiliki saham mayoritas. Saat ini ada 32 jumlah BPR dan BPR Syariah. Jika merger BPR NTB sukses, maka ada 7 BPR yang terdelusi. Selain BPR NTB, beberapa diantaranya yang merencanakan merjer adalah BPR Wiranadi Group, Samawa Kencana Group.

Merger terbukti membuat daya saing yang lebih kuat. Salah satu contoh yang disebutkan adalah BPRS Dinar Ashri yang modalnya saat ini mendekati Rp1 triliun. Dengan merger, selain modal yang lebih kuat, efisiensi bisa dilakukan. Misalnya, jumlah direksi dan komisaris yang tadinya banyak, dapat diperekecil, menjadi direksi dan komisaris hanya untuk satu BPR – BPRS saja. “Dengan efisiensi, modal menjadi lebih kuat, BPR bisa bersaing dengan bank umum lainnya,” ujarnya.

Seperti rencana merger yang dilakuan juga oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian BUMN berinisiatif untuk melakukan penandatanganan conditional merger agreement untuk menyatukan ketiga bank syariah nasional, yakni BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah menjadi satu entitas. Merjer Bank Syariah milik pemerintah bisa menjadikannya sebagai bank syariah terbesar di dunia.

Yanuar Alfan menambahkan, banyak keuntungan yang didapat BPR jika dimerger selain tingkat daya saing dan efisiensi yang lebih besar. BPR-BPR inipun telah memiliki jaringan yang menggurita. Sehingga diyakini akan lebih mudah menguasai pasar. “Kita selalu berkomunikasi dengan teman-teman BPR-BPR soal merjer ini. Merger juga bisa memotivasi BPR-BPR yang kecil untuk melakukan hal yang sama. Dari pada dipecah-pecah tapi kecil. Lebih baik disatukan menjadi besar,” imbuhnya. (bul)