Perbarindo : BPR dan BPRS Mengarah ke Digital

Surtopilahili. (Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah bertahap akan melakukan penyesuaian, yaitu digitalisasi untuk menyetarakan layanan dengan perbankan umum lainnya. Digitalisasi BPR/BPRS adalah keniscayaan, kata Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) terpilih untuk periode 2020-2024, Surtopilahili.

Perbarindo belum lama ini menggelar Musyawarah Daerah (Musda). Surto dipilih mengetuai Perbarindo Provinsi NTB hingga empat tahun ke depan. Diantara program yang penting didorong di seluruh BPR/BPRS adalah peningkatan layanan BPR/BPRS dengan digitalisasi. “Kita tunggu kerjasama DPP (pengurus pusat Perbarindo) dengan perbankan, atau mitra lainnya,” katanya di ruang kerjanya, Rabu, 6 Januari 2021.

Salah satu konteks digitalisasi yang dimaksudkan, misalnya kerjasama antara BPR / BPRS dengan salah satu perbankan nasional. Atau dengan fintech. Salah satu poin kerjasama ini adalah penggunaan bersama mesin ATM. “ATM BPR nantinya bisa digunakan di mesin-mesin ATM yang menjadi mitra kerjasamanya. Atau layanan BPR kepada nasabah sudah bisa dilakukan menggunakan handphone. BPR/BPRS mengarah ke sana,” ujarnya.

Untuk BPR-BPRS dengan modal besar, digitalisasi ini sudah dilakukan. Bahkan BPR sudah memiliki mesin ATM sendiri untuk melayani konsumennya. Ada 32 BPR dan BPRS di NTB. Untuk BPR dan BPRS yang modalnya masih kecil, digitalisasi ini kata Surto tidak menjadi kekhawatiran. Apalagi khawatir akan makin kalah saingnya BPR dan BPRS.

Pangsa pasar BPR dan BPRS adalah menengah ke bawah. Digitalisasi ini biasanya melekat untuk kelompok masyarakat kelas menengah dan ke atas. Sementara di BPR dan BPRS, umumnya pangsa pasar menengah ke bawah, sejauh ini perubahan pola hidupnya tak lantas drastis. “Pangsa pasar menengah ke bawah ini masih senang dengan transaksi manual. Dan mereka inilah pangsa pasar utama kita. Jadi tidak lantas, karena digitalisasi kemudian dikhawatirkan oleh BPR modal kecil akan kalah saing di pasaran, tidak begitu,” imbuhnya.

Digitalisasi adalah salah satu perangkat untuk memperluas segmen pasar BPR dan BPRS menyasar kalangan menengah keatas. Yang mulai dekat dengan layanan-layanan digital dalam bertransaksi. Harapannya, kerjasama di tingkat pusat dapat lebih cepat dilakukan untuk digitalisasi BPR dan BPRS. Dengan demikian, BPR dan BPRS naik tingkat dan setara dalam persaingan industri jasa keuangan. (bul)