Perbaikan Sekolah Rusak Ditargetkan Tuntas Akhir 2018

Kepala Dikbud Lotim, Lalu Suandi (Suara NTB/dok)

Selong (Suara NTB) – Kerusakan sekolah di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) pascadiguncang gempa sekitar empat bulan lalu masih dalam proses perbaikan. Terutama bagi sekolah-sekolah yang mengalami rusak sedang dan ringan. Perbaikan sekolah dalam dua kategori ini berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kemendikbud RI dan proses perbaikannya ditargetkan dapat tuntas akhir tahun 2018 ini.

Dikonfirmasi, Senin, 3 Desember 2018 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim, Lalu Suandi, S.Sos menyebutkan terdapat ratusan sekolah di Kabupaten Lotim yang mengalami rusak sedang dan ringan yang kemudian menjalin MoU dengan Kemendikbud untuk proses perbaikannya. Adapun untuk pengerjaan perbaikan gedung sekolah tersebut dilakukan secara swakelola antara Kemendikbud dengan pihak sekolah.

Iklan

 “Untuk pembangunan sekolah rusak pascagempa saat ini sedang berjalan dan ditargetkan proses perbaikan tuntas tahun 2018 ini meskipun sudah ditentukan waktu pengerjaan sejak sekolah itu menerima dana perbaikan dari Kemendikbud,” terangnya.

Adapun dana perbaikan yang didapatkan oleh setiap sekolah sangat bervariasi dilihat dari tingkat dan jenis kerusakan, mulai dari Rp 60 juta hingga Rp300 juta lebih. Disebutkan Lalu Suandi, jumlah sekolah di Kabupaten Lotim yang terdampak gempa dan MoU dengan Kemendikbud sebanyak 70 sekolah lebih khususnya yang rusak sedang dan ringan dari total 286 sekolah baik SD/SMP yang rusak akibat gempa beberapa waktu lalu. Baik yang rusak ringan, sedang dan berat.

Untuk rusak ringan, keberadaan gedung dapat dimanfaatkan sembari dilakukan perbaikan, rusak sedang dilakukan perbaikan untuk kemudian dilakukan rehabilitasi sehingga diberikan tenda darurat, sedangkan untuk yang rusak berat sekolah dirobohkan dan dibangunkan kelas darurat. “Jadi ada tahapan-tahapannya dilihat dari tingkat kerusakannya. Tapi untuk sekolah berat sama sekali belum dilakukan perbaikan,” ujarnya.

Dalam proses perbaikan dan pemulihan pascagempa di sektor pendidikan ini, dari daerah tidak bisa memastikan waktu pemulihan. Apakah memakan waktu satu tahun, dua tahun atau hitungan bulan. Pasalnya untuk sekolah yang mengalami rusak berat akan menjadi tanggung jawab PUPR. Kendati demikian, pemerintah daerah akan terus berupaya untuk bagaimana sekolah-sekolah yang gedung sekolahnya rusak berat dan saat ini masih belajar di kelas darurat tidak sampai satu tahun. Apabila belum ada kejelasan perbaikan gedung sekolah, sementara musim hujan segera datang. Maka Dinas Dikbud pada membangun kelas darurat yang ditargetkan dapat tuntas sebelum bulan Desember 2018.

Dalam pembangunan kelas darurat ini, yakni atapnya menggunakan spandek serta temboknya menggunakan pagar dan harus berlantai. Dengan kondisi demikian, semangat siswa di dalam belajar tetap terjaga. Kondisi itu dikarenakan semangat siswa didalam belajar tergantung dari semangat guru yang mentrasfer materi pembelajaran terhadap siswa. Termasuk dapat menyesuaikan model pembelajar dan waktu pembelajaran dengan situasi saat ini seiring dilakukann trauma healing terhadap siswa. (yon)