Perbaikan Rumah Tak Layak Huni di Dua Kelurahan Batal

Mataram (suarantb.com) – Jumlah rumah tak layak huni di Kota Mataram makin meningkat dari tahun ke tahun, kendati persoalan rumah tak layak huni ditangani beberapa instansi seperti Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM), Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Baznas Kota Mataram. Hingga 2016 ini, jumlah rumah tak layak huni tak juga berkurang, justru meningkat.

Dari 50 kelurahan yang ada di Kota Mataram, lima kelurahan diprioritaskan menerima bantuan penanganan rumah tak layak huni masing-masing 50 unit yang dananya bersumber dari APBD Kota Mataram. Namun karena adanya pemangkasan anggaran, jumlah bantuan yang dapat direalisasikan hanya 10 unit yang bersumber dari APBD Perubahan.

Iklan

Bahkan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni di dua kelurahan; Ampenan Tengah dan Pagutan Barat tak terlaksana. Demikian disampaikan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Mataram, H. Syaiful Mukmin. Syaiful menyampaikan rumah yang tak bisa diperbaiki tahun ini akan dianggarkan kembali di 2017 mendatang. Bersama SKPD-SKPD yang turun tangan dalam pengentasan masalah rumah kumuh ini, persoalan ini diharapkan dapat tuntas pada 2019 nanti.

“Memang kita sudah rencanakan 50 unit, karena pemangkasan anggaran tahun ini hanya terealisasi sebanyak 10 unit untuk kelurahan-kelurahan itu,” ungkapnya kepada suarantb.com, Rabu, 9 November 2016.

Selain itu, bertambahnya jumlah bangunan rumah tak layak huni ini tidak hanya disebabkan semakin banyaknya rumah yang dibangun di bawah standar kelayakan. Namun juga akibat bangunan lama yang semakin aus dari waktu ke waktu.

Menurut Syaiful, rumah-rumah yang berada di lingkungan murni perkampungan yang ada di Kota Mataram biasanya diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga, sehingga usia bangunan yang semakin tua dan semakin keropos dari waktu ke waktu juga termasuk dalam data tidak layak huni. Akibatnya, rumah-rumah tersebut pun tercatat dan berkontribusi dalam peningkatan angka rumah kumuh di Kota Mataram.

Dari BPM sendiri, setiap tahun telah menganggarkan bantuan berbentuk bahan bangunan. Syaiful mengatakan, tiap-tiap kelurahan yang ada di Kota Mataram menerima bantuan dalam jumlah yang berbeda, sesuai dengan hasil pendataan yang telah dilakukan oleh masing-masing kelurahan. Namun menurutnya, bantuan rumah tak layak huni tersebut telah menyentuh semua kelurahan yang ada di Kota Mataram.

“Insya Allah, sudah tersentuh semua. Hanya saja perlakuannya berbeda-beda. Kelurahan di pusat kota dengan di perbatasan, bentuk bantuannya berbeda sesuai dengan kondisi yang ada di sana,” paparnya. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here