Peran Teknologi Finansial Sebagai Kunci Perwujudan Inklusi Keuangan Indonesia bersama Findaya & CrediNex

Ageng Aji Panggayuh - Compliance Head Findaya dan Willem Alexander W - Director Operational CrediNex

Mataram (Suara NTB) – Pada tahun 2017, Bank Dunia melaporkan bahwa kurang dari setengah penduduk dewasa di Indonesia yang memiliki akses terhadap jasa keuangan formal (Laporan Global Findex 2017). Hal ini amat disayangkan karena keterbatasan akses terhadap jasa keuangan membatasi kesempatan masyarakat yang belum memiliki tingkat literasi keuangan yang cukup untuk berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang dapat meningkatkan taraf hidup. Hasil Riset LD FEB UI juga menemukan bahwa kehadiran fintech peer to peer (P2P) lending telah berkontribusi pada peningkatan inklusi keuangan milenial terutama kelompok usia 35 tahun yang merupakan cakupan populasi terbesar di Indonesia. Saat ini pinjaman dari fintech P2P lending menjangkau berbagai sektor produktif dalam perekonomian mulai dari pertanian, manufaktur, dan jasa. Temuan ini menyiratkan peran dari fintech P2P lending dalam mendukung sektor keuangan yang inklusif secara digital.

Upaya konsisten untuk mencetak generasi sadar teknologi finansial, platform fintech P2P lending terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT. Mapan Global Reksa (Findaya) bersama dengan PT. Digital Yinshan Indonesia (Credinex) menyelenggarakan talkshow dengan mahasiswa Universitas Mataram pada hari Selasa, 20 Oktober 2020 secara daring melalui aplikasi komunikasi video untuk mengenalkan industri fintech peer-to-peer lending serta pemahaman inovasi yang dilakukan fintech untuk mendorong mewujudukan inklusi keuangan di Indonesia.

Iklan

Ageng Aji Panggayuh – Compliance Head Findaya mengatakan, “Kami sangat berharap adanya kehadiran fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital dan membuka akses finansial yang lebih luas untuk masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya kota Mataram.”

Data yang telah diterima oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama (AFPI), terkait bisnis pinjaman fintech peer to peer (P2P) lending telah mencapai Rp 113,46 triliun hingga Juni 2020. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis pada Rabu (12/8), nilai itu tumbuh 153,23% year on year (yoy) dari posisi yang sama tahun lalu hanya Rp 44,8 triliun. Hal ini membuktikan bahwa industri P2P lending turut mendorong dan menggerakkan perekonomian negara seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan.

Willem Alexander W – Director Operational CrediNex menambahkan “Dengan adanya edukasi daring ini, kami juga berharap masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya kota Mataram dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending untuk kebutuhan dalam menghadapi masa pandemi dan tetap waspada terhadap fintech ilegal”.

Acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa Universitas Mataram ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat antusisas menyambut kehadiran teknologi finansial untuk bantu mewujudkan inklusi keuangan Indonesia. (r/*)