Perambahan Hutan Taman Nasional Tambora Meluas

Dompu (Suara NTB) – Penebangan liar di kawasan Taman Nasional Tambora (TNT) masih sangat marak terjadi, bahkan kerusakannya semakin meluas dan merata di 12 Desa lingkar Tambora. Aktivitas merusak ini disinyalir ketidaktahuan masyarakat yang melakukan perluasan lahan soal batas wilayah TNT.

Demikian diungkap Pengelola PNPB TNT, Dedi Aminudin. “Masyarakat memang tahu bahwa TNT itu ada, tapi alasan mereka karena tidak tahu batasnya sampai di mana,” katanya kepada Suara NTB saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Iklan

Alasan ketidaktahuan ini mungkin akibat kurang gencarnya sosialisasi yang dilakukan, terlebih bisa juga sebagai upaya oknum penebang liar untuk melancarkan aksinya. Namun demikian, menyikapi persoalan itu pihaknya berupaya memberi teguran dan pembinaan kepada masyarakat. Kalaupun terus berlanjut tegas dia, oknum-oknum yang melakukan perluasan terancam diproses hukum pihaknya. “Makanya sekarang kita lakukan sosialisasi dulu tentang batas kawasan, ancaman kebakaran dan masalah ekonomi produktif,” ujarnya.

Upaya oknum tak bertanggung jawab ini jelas Dedi Aminudin, sudah mulai menunjukkan dampak negatifnya, seperti debit mata air yang makin berkurang serta keringnya beberapa aliran sungai. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin parah jika tak ditanggulangi dengan sigap.

Untuk menekan persoalan ini akunya, cukuplah sulit kalau hanya mengandalkan pihaknya. Sebab petugas TNT maupun aparat penegak hukum tak bisa 24 jam melakukan pengawasan di beberapa lokasi rawan. Sedangkan oknum penebangan sudah cukup piawai melihat kondisi-kondisi petugas lengah. “Makanya bagaimana caranya kita menyelesaikan persoalan itu dengan cara mendekati masyarakat, menawarkan program yang akan kita kembangkan kedepan,” jelasnya.

Dengan terlibatnya masyarakat dalam berbagai program yang dikembangkan nantinya, jelas akan mengurangi tingat ketergantungan mereka pada hasil hutan kayu. Melainkan perekonomian keluarga akan terpenuhi cukup dengan menyediakan jasa pendakian bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berkunjung. Apalagi lanjut Dedi Aminudin, penggelaran FPT tiap tahun ini telah berdampak signifikan bagi meningkatnya jumlah kunjungan. “Dengan cara-cara ini nanti akan mengurangi ketergantungan pada hutan, kalau langsung seperti membalikan telapak tangan sangat susah,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here