Perajin Tahu – Tempe Terdampak Banjir

Suparmin, perajin tahu – tempe di Kelurahan Kekalik Jaya terpaksa berhenti berproduksi karena tungku yang digunakan untuk memasak tergenang banjir. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Banjir yang terjadi di tiga lingkungan di Kelurahan Kekalik Jaya berdampak terhadap perajin tahu – tempe. Produksi berhenti sementara. Perajin terancam merugi.

Suparmin, perajin tahu – tempe di Lingkungan Kekalik, Kelurahan Kekalik Jaya mengaku, harus berhenti memproduksi tahu – tempe. Tungku pembakarannya tergenang oleh luapan Sungai Ancar. Ia bersyukur kedelai sebagai bahan baku utama bisa diselamatkan sebelum air menggenangi pemukiman warga. “Otomatis ndak bisa buat lagi. Tungku kita pakai bakar basah,” kata Suparmin ditemui di kediamannya, Senin, 6 Desember 2021.

Iklan

Rumahnya sudah menjadi langganan banjir setiap tahun. Dia mengingat peristiwa tahun sebelumnya. Saat itu, akan merayakan maulid tetapi harus gagal karena musibah banjir terjadi. Peristiwa dua tahun lalu lebih parah dibandingkan tahun ini. Pasalnya, air masuk ke rumahnya dan hanya sempat menyelamatkan sejumlah barang berharga. “Kalau yang dulu parah sekali,” tuturnya.

Banjir yang menggenangi rumah sekaligus gudang pembuatan tahu – tempe otomatis berhenti. Padahal, ia mampu memproduksi sekitar 50 cetakan tahu dari 1 kwintal kedelai. Untuk satu cetakan dijual Rp50 ribu. Omset per harinya sekitar Rp2,5 juta. “Itu pendapatan kotor. Belum dihitung upah buruh dan lain – lain,” sebutnya.

Suparmin memperkirakan dua hari ini tidak bisa memproduksi tahu – tempe. Praktis, ia mengalami kerugian. Karena, ia harus menunggu tungku pembakaran kering dan membersihkan sisa kotoran yang masuk ke rumahnya. “Iya, bisa dikatakan rugi,” tuturnya.

Penanganan jangka panjang diharapkan oleh masyarakat, termasuk Suparmin. Salah satu caranya kata dia, memperbaiki tanggul Sungai Ancar, sehingga air tidak meluap ke pemukiman warga.

Harapan serupa juga disampaikan Sataruddin. Menurutnya, peristiwa ini terjadi hampir setiap tahun. Dia bersyukur rumahnya jauh dari bantaran sungai. Meskipun demikian, luapan air tetap masuk ke rumahnya. “Kalau ndak cepat kita pasang tanggul sudah masuk airnya ke dalam rumah. Syukur tadi anak saya cepat kasih tahu,” tuturnya. (Cem)

Advertisement