Perajin Ketak Batu Mekar akan Dibantu Pemprov

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME mendatangi Murnah sebagai perajin, sekaligus pengumpul hasil kerajinan masyarakat sekitar Desa Batu Mekar. Rencananya akan dibina dan dibantu kebutuhannya.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Persoalan klasik belum terurai di perajin-perajin lokal NTB. Terutama pada akses pasar. Meskipun produk yang dihasilkan sudah layak go internasional. Perajin lokal hingga kini masih harus bergantung pada eksportir luar daerah. Salah satu contoh adalah perajin sekaligus pengumpul kerajinan ketak “Bina Usaha”, Dusun Gubuk Baru, Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Ada aneka jenis kerajinan ketak yang bisa dihasilkan oleh Murnah dan ratusan perajin rumahan di wilayah sekitarnya. Misalnya, keranjang cucian, tempat buah, tempat nasi, tempat sendok, tas ketak dan lainnya. Hasil kerajinannya menarik, dan natural. Tinggal sedikit polesan, jadilah ia produk ekspor. Perajin juga sudah dapat membuat motif di permukaan kerajinan.

Bahan baku yang digunakan adalah rotan, dan ketak. Murnah, bersama suaminya, Sukamar membeli bahan baku dari pemasok di Lombok Utara. Setiap bulan, Murnah bisa membeli bahan baku seharga puluhan juta rupiah. Bahan baku inilah yang kemudian dibagi-bagi kepada perajin-perajin rumahan yang menjadi mitranya.

Hasil kerajinan yang sudah jadi, biasanya diambil kembali oleh Murnah. Kemudian dijual lagi ke pengepul langganannya, eksportir asal Kabupaten Lombok Tengah yang kini sudah tinggal di Bali. Kerajinan ketak dikembangkan di Desa Batu Mekar dan sekitarnya sudah sejak masa orde baru. Zaman Presiden Soeharto. Kerajinan ketak ini pernah jaya, sebelum Bom Bali. Permintaan dari luar negeri mengalir deras.

Tragedi Bom Bali berturut-turut kemudian memukul pasar kerajinan Indonesia umumnya. Dampaknya dirasakan bertahun-tahun. Permintaan sepi. Banyak perajin yang kemudian beralih ke usaha lain. Namun tiga tahun terakhir, perlahan permintaan naik. “Satu pesanan bisa sampai lebih dari seratus juta. Akan dikirim untuk ekspor, biasanya ke Jepang, Korea, dan China,” kata Murnah, ketika Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME bertandang, Selasa, 12 Januari 2021.

Apapun bentuk jenis kerajinan bisa dibuat. Tergantung model pesananannya, imbuh Murnah. Ia yang membuat contohnya, lalu contoh ini kemudian dijadikan acuan oleh ratusan perajin sekitar yang menjadi mitranya. hasil kerajinan yang dibuat lebih detail. Lebih halus, disbanding lainnya. Full menggunakan bahan baku lokal. Alat-alat yang digunakan juga masih tradisional. Pisau potong, pisau penghalus.

Sebulan ia bisa membuat ratusan anyaman beragam ukuran. Murnah mengatakan, satu produk harga paling rendah Rp20.000. Paling mahal bisa Rp1 jutaan. Harganya menggunakan harga pasaran lokal. Padahal, produk kerajinannya ini sudah go internasional. Sayangnya, di negara tujuan ekspor tidak menggunakan nama produk Batu Mekar atau NTB. Melainkan nama daerah eksportirnya, Bali.

“Kita ndak berani mengirim sendiri keluar negeri. Tidak ada jaringan yang kita kenal,” kata Sukamar polos. Padahal, sudah puluhan tahun usaha ini digelutinya. Walhasil, ia hanya bisa menjual dengan harga lokal. Padahal, di luar negeri harganya jauh lebih tinggi. Untuk modal, Bank BTPN Syariah sebagai pembinanya bahkan siap mensupport. Begitulah seterusnya yang berlaku. Sampai saat ini, Murnah belum siap mandiri. Belum siap lepas dari pengepul eksportirnya. Akibatnya, berapapun harga beli produknya, ia terima. Kalau tidak, ke mana akan dipasarkan.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME sengaja mendatangi untuk mendapatkan gambaran hulu hilir perajin. Ibaratnya, Pemprov NTB terus mengumpulkan perajin potensial. Dari fakta lapangan yang dijumpai, Nuryanti mengatakan hal pertama yang akan dilakukan adalah memberikan pendampingan. Membuat standarisasi produk, maupun manajemen pengelolaan. Murnah dan suaminya, Sukamar adalah contoh perajin yang potensial dibina. Meskipun dengan keterbatasan SDMnya.

“Kita akan dampingi dulu. Sebelum kita berikan bantuan sesuai kebutuhan. Agar produk yang dihasilkan terstandar dan efisiensi usaha bisa dilakukan,” imbuhnya.

Dari sisi marketing, Pemprov NTB akan mencarikan perajin-perajin yang terkendala jaringan pasar internasional ini jaringan yang bisa dihubungkan. Salah satu dari anggota keluarganya juga akan dibina, bagaimana manajemen, dan bagaimana marketing memanfaatkan teknologi. Anak-anaknya akan dicomot dan dididik menjadi leader. Dengan demikian, diharapkan usaha dan manejemennya akan lebih baik. Serta jaringannya. Agar perajin bisa mandiri. Tidak lagi bergantung pada eksportir daerah lain.

“Kita bina generasi-generasinya. Dan hubungkan dengan pasar. Setidaknya, produk-produk NTB melenggang ke luar negeri tidak lagi atas nama daerah lain. Kalau kita sendiri mampu mengelola dan mengembangkan jaringannya,” demikian Nuryanti. (bul)