Perajin Gerabah Harapkan Konsistensi Bela Beli Produk Lokal

Stok gentong masih menumpuk di salah satu art shop di Banyumulek, Lombok Barat.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Para perajin gerabah merasa sangat terbantu dengan seruan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah untuk menggunakan produk lokal gerabah. Terutama di masa pandemi Covid, orang nomor satu di NTB ini mendorong gunakan gentong sebagai wadah mencuci tangan di seluruh OPD lingkup Pemprov NTB.

Selain mempertahankan kearifan lokal, keinginan gubernur adalah mengalirnya uang kepada perajin gerabah untuk menyelamatkannya dari krisis ekonomi akibat  Covid. “Ajakan gubernur itu sangat membantu. Benar-benar sangat membantu para perajin gerabah,” kata Ismail Marzuki, owner Kreatif Carving Banyumulek, Lombok Barat.

Iklan

Banyumulek dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gerabah di NTB. Selain di Penujak Lombok Tengah dan Masbagik, Lombok Timur. Cerita tentang perajin gerabah cukup menyedihkan, dimulai sejak bom Bali 2005 silam. Ekspor gerabah tidak menggembirakan. Banyak diantara perajin gerabah memilih tutup karena sepinya permintaan dari Bali.

Sebelumnya ada seribu lebih di Banyumulek yang menjadi perajin gerabah, rata-rata sekaligus sebagai penjual. Banyak yang gulung tikar. Setelah adanya seruan gubernur untuk menggunakan gentong sebagai tempat cuci tangan dalam pengendalian corona, permintaan mengalami kenaikan sampai 40 persen dari biasanya. “Malah banyak yang tadinya sudah tutup, buka lagi. Sangat – sangat membantu sekali para perajin,” kata Ismail kepada Suara NTB, Selasa, 27 Oktober 2020.

Perlahan-lahan permintaan kembali berkurang. Tidak sebanyak di awal – awal penggunaan gentong sebagai tempat cuci tangan. Karena itu, diharapkan konsistensi kebijakan daerah untuk membantu penjualan produk para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)/ Industri Kecil Menengah (IKM). Bagaimana dengan permintaan luar negeri? Ismail menambahkan, sebelumnya permintaan dari Eropa cukup tinggi. Sekali pemesanan bisa di atas seribuan. Gerabah yang diminta berbagai jenis yang berukuran kecil-kecil umumnya. Permintaannya melalui buyer di Bali. Setelah Covid, permintaan luar negeri masih ada. Hanya saja di kisaran 300-an sekali permintaan.

“Sebetulnya permintaannya besar ribuan. Tapi tidak bisa dipenuhi karena sistem kerja kita yang belum baik. Akibatnya buyer pindah permintaannya ke Jawa. Karena di sana tersistem, ada yang menyediakan tanah, ada yang membuat, ada yang memoles, ada yang menjual. Kalau di kita, semuanya dikerjakan. Akhirnya tidak bisa memenuhi permintaan dalam jumlah besar dalam waktu yang cepat,” kata Ismail.

Karena itu, permintaan pasar lokal ini yang sangat diharapkan dapat mempertahankan para perajin. Senada dengan yang disampaikan Amran, pemilik Poetry Art Shop di Penujak, Lombok Tengah. Ia sangat merasakan peningkatan penjualan ketika pemerintah bersuara menggunakan gerabah sebagai wadah mencuci tangan. Disusul lagi adanya kegiatan kampung sehat. Gentong dan pot bunga dari tanah liat mengalami permintaan signifikan. Seluruh kampung yang mengikuti lomba, rata-rata membutuhkan gentong dan pot bunga. “Di teman-teman yang lain pengambilannya sampai dua tiga truk sekali ambil,” katanya.

Ada berkah di tengah corona. Getong yang paling banyak laku yang komplit dengan washtafel. Tidak hanya gentong saja. Meskipun permintaan kembali mulai turun. Permintaan masih dari pemerintah lingkup Pemprov NTB. Amran mengatakan, inipun masih sedikit yang dilihat menggunakan gentong. Di kantor-kantor masih banyak yang menggunakan wadah plastik untuk cuci tangan.

Karena itu, diharapkan pemerintah terus menggencarkan penggunaan gerabah sebagai media cuci tangan. Hotel-hotel, instansi – instansi, dan perusahaan-perusahan swasta, diharapkan melakukan hal yang sama untuk menghidupkan kembali mata rantai ekonomi dari kegiatan usaha gerabah. (bul)